Pelaksanaan Gishas di Saudi Arabia

Desember 28, 2007 pukul 4:32 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag: ,


Assalamu alaikum Wr. Wb.

Penulis melaporkan hal GISHAS ini yang terjadi pada tahun 2003 sewaktu penulis berkunjung ke Kerajaan Saudi Arabia.

Pada hari Jum’at itu, saya luangkan waktu dan juga karena keingintahuan yang kuat, sholat di Masjid AL-JUFFALI—mesjid ini dibangun oleh salah satu orang kaya Saudi, keturunan Mesir, yang juga memegang agency Mercedes Benz. Mesjidnya lux sekali dan mempunyai pelataran yang luas dan terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan terkenal di Jeddah yaitu AL BALAD.

Setelah sholat Jum’at rampung, di umumkan bahwa akan ada GISHAS (hukum penggal bagi pembunuh). Semua jamaah keluar ke pelataran yang luas di luar mesjid. Di tengah2 pelataran, diapit oleh Imam Mesjid, Sipir penjara dan beberapa anggota polisi, si pembunuh berlutut menghadap kekeluarga korban yang akan melihat serta menunggu pembunuh ini untuk
di penggal. Pembunuh boleh meminta rasa iba keluarga korban untuk memaafkannya dan keluarga korban diperbolehkan untuk memaafkanya.

Penonton dari pinggir lapangan, dari jarak yang agak jauh, berteriak pada pembunuh untuk membaca syahadah dan sebahagian lagi juga berteriak pada keluarga korban untuk memberikan maaf. (Syariat Islam menuntut agar pelaksanaan gishas ini dilakukan didepan publik untuk mengigatkan publik atas balasan dari pembunuhan).

Si Pembunuh diperiksa oleh seorang dokter yang mana hampir sepanjang waktu dia diberi obat tenang untuk bisa menghadapi saat2 kritis ini. Di seberang pelataran yang lain keluarga pembunuh menangis, meminta dan memohon pada keluarga korban untuk mendapatkan maaf di saat terakhir ini. Tim medis dan ambulan sudah siap menanti di sisi lapangan.

Si pembunuh sekarang membaca ayat2 Al-Qur’an dan pejabat pemerintah Saudi Arabia membaca tuduhan2 serta keputusan Mahkamah Saudi (dari yang paling bawah sampai yang atas) disertai keputusan Raja yang didasarkan pada putusan2 Mahkamah tadi. Separuh waktu dari pembacaan tuduhan tadi, si Algojo (Well, it seems that I cannot find a good substitute word to euphimise) menaruhkan pedangnya dibelekang leher si pembunuh yang membuat dia, secara reflek, mengangkatan kepalanya.

Dan dengan gerakan yang terlatih serta cepat sekali, algojo mengayunkan pedangnya keleher si pembunuh serta memisahkan kepalanya dari badannya. Melihat ini, beberapa penonton di pinggir lapangan berjatuhan semaput gara2 tidak tahan melihat leher menyemburkan darah
seperti pipa blumweir. Si algojo langsung ramai2 diamankan ketempat lain dan pedangnya diambil oleh para petugas2 keamanan takut melukai orang lain, afraid if he gets carried away.

Ini pelaksanaannya begini, kecuali apabila keluarga korban memaafkan si pembunuh di saat2 terakhir dan apabila ini terjadi maka suasana tegang2 akan berubah menjadi suasana yang menggembirakan se-olah2 suasana perkawinan yang mana semuanya berteriak memuji keluarga korban.

Reaksi dari para yang hadir sangat ber-macam2. Pada gishas yang diperlakukan pada tiga pembunuh, anggota keluarga korban men-jerit2 histeris ingat kepada ayahnya yang menjadi korban pembunuhan. Penonton menjerit pada si algojo:”Habisi pembunuh ini, pisahkan
kepala dari badannya, Allah memberkatimu ya algojo.” Ada perasaan marah yang sangat dalam di diri para penonton setelah tahu motif dan modus operandi pembunuhan yang mereka lakukan. Dan setiap algojo memisahkan kepala para pembunuh, penonton bereteriak; “ALLAHU AKBAR.”.

Pada kesempatan gishas yang lain, semua diberi kejutan gembira oleh keluarga korban karena pada detik2 terakhir mereka maju kedepan dan mengatakan bahwa dia telah memaafkan si pembunuh. didalam hal ini, pembunuh akan dibawa kembali ke penjara sampai dia membayar DIYAH (uang darah) yang telah disetujui oleh kedua belah pihak dan baru akan di lepaskan
sebagai orang bebas.

Gishas dengan pedang ini biasanya hanya di perlakukan pada pembunuh pria. Wanita akan dibunuh dengan di tembak. kalau di suatu tempat atau kota pada waktu gishas tidak ada algojo, maka gishas dengan hukumtembak di berlakukan pula untuk pria. Gishas dengan pedang biasanya dilakukan dengan cara memisahkan kepala dari badan. Dan, kalau dengan sekali ayun tidak berhasil, si algojo mengulanginya sampai kepala terpisah dari badannya.

Kalau pembunuh harus ditembak, maka dua peluru harus dipakai. Satu ke jantungnya dan satu lagi keleher. Biasanya doktor memberi tandam pada dua lokasi ini.

Statistik menerangkan bahwa dari tahun 2000 – 2002 ada 43 gishas yang
dilaksanakan yang mana 33 adalah orang Saudi sendiri. dari mereka ada
2 wanita, satu orang Saudi dan satu orang INDONESIA. Semua gishas
dilakukan atas PEMBUNUHAN.

Dirjen Penjara Saudi Arabia, Dr. Ali Al-Harithi mengatakan di Koran,
sewaktu di interview oleh satu wartawan asing, tidak banyak berbicara
perihal berapa orang sekarang ini ada di “DEATH ROW”. Sewaktu di
tanya:”Apakah ada gunanya mempublikasikan hal gishas ini agar supaya
hukuman gishas ditiadakan lagi?” Dia berkata:”Semua koran itu selalu
mencari dan memuat berita yang menarik dan sensional, dan itu hak
anda”. Kerajaan Saudi Arabia mendapat kritikan tajam perihal
diberlakukannya hukum gishas ini dari Human Right International hanya
karena melaksanakan hukum ALLAH dimuka bumi ini padahal mereka (HRI)
menutup mata pada hal2 yang melanggar human right di tempat lain, dan
ini hal yang saya tidak mau mengomentarinya, tambahnya.

Wassalam

Uwo Mat
yekatu@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.