PESAN HAJI IMAM ALI KHAMENEI: Dzulhijah 1428 H

Desember 18, 2007 pukul 4:11 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Bismillâhirromâ nirrohîm
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Puji syukur bagi Allah; Tuhan alam semesta. Salawat dan salam atas junjungan kita; Muhammad Al-Mushtofa, dan atas keluarganya yang termulia serta sahabat-sahabatnya yang terpilih.

Salam kepada para pengunjung rumah Allah Swt., kepada para tamu tanah kekasih, dan kepada para penyambut seruan-Nya! Juga salam khusus kepada hati-hati yang kembali segar dari mengingat Allah Swt., dan yang masih mengetuk pintu limpahan karunia dan rahmat-Nya!

Pada hari-hari ini, pada malam-malam ini, dan pada detik-detik yang mulia ini, betapa banyak manusia yang dengan penuh kesadaran jiwa melepaskan diri mereka dalam pesona spiritual, dan menerangi hati dan jiwa mereka dengan bertaubat dan insaf. Mereka membersihkan karat-karat dosa dan kesyirikan dari diri mereka di tengah gelombang rahmat Allah yang datang silih berganti ke tanah suci ini. Salam mulia Allah kepada hati-hati ini, kepada segenap pemilik hati-hati yang bersih.

Sudah sepatutnya semua saudara dan saudari menyadari berkah yang luar biasa ini dan memanfaatkan kesempatan yang besar ini. Jangan sampai—di tanah ini—kesibukan hidup duniawi yang merupakan persoalan rutin kita melalaikan hati-hati kita sendiri. Dengan mengingat Allah Swt., berusaha insaf, memohon dengan penuh kerendahan diri, disertai kehendak yang kuat untuk memegang kebenaran, berbuat kebaikan dan berpikir lurus, serta dengan memohon bantuan dari AllahSwt., marilah tempatkan hati kerinduan kita di ruang tauhid dan penghayatan ketuhanan yang murni, dan marilah membekali diri guna keteguhan jiwa tetap berada di atas jalan Allah dan shirot mustaqim ‘jalan yang lurus’.

Di tanah inilah pusaran tauhid yang murni dan sesungguh-sungguhny a. Di tanah inilah Ibrahim as.; sang kekasih Allah Swt., meninggalkan sebuah perwujudan tauhid untuk segenap penganut tauhid di sepanjang sejarah dunia, yaitu penguasaan diri dan kepasrahan sepenuh jiwa di hadapan perintah Allah Swt. Di tanah inilah Nabi Besar Muhammad Saw. mengibarkan bendera tauhid di atas kaum mustakbirin dan kekuatan-kekuatan yang dzalim, serta mengajarkan bahwa penolakan terhadap thoghut ‘pihak yang dzalim’—di samping keimanan kepada Allah Swt.—merupakan syarat keselamatan. “Maka, barang siapa menolak thoghut dan beriman kepada Allah, sungguh ia telah berpegang teguh pada tali yang kuat.”

Dan haji adalah upaya meninjau ulang dan mencerap pelajaran-pelajaran agung ini. Berlepas tangan dari kaum Musyrikin dan menolak berhala-berhala dan penyembah-penyembah nya merupakan ruh yang berkuasa atas ibadah haji kaum Mukminin. Setiap tempat-tempat haji adalah ruang perwujudan dari berpasrah diri kepada Allah, sa‘i ‘berusaha’ dan bekerja di jalan-Nya, berlepas tangan dari setan, romyu ‘melontar’ dan mengusir setan serta berdiri melawannya. Dan setiap tempat haji adalah wujud persatuan dan solidaritas segenap umat yang menghadap Kiblat, peleburan perbedaan yang alami dan yang dibuat, serta penampakan kesatuan dan persaudaraan iman mereka.

Semua ini adalah pelajaran-pelajaran yang harus ditimba oleh kita sebagai umat Islam dari belahan dunia manapun, sehingga atas dasar itu kita merencanakan hidup dan masa depan kita.

Al-Qur’an meyakinkan kita bahwa berdiri kuat di hadapan musuh-musuh, bersikap lembut dan penuh cinta sesama kaum muslim, dan beribadah serta tunduk khusyuk di hadapan Allah Swt. adalah tiga kriteria masyarakat islami. “Muhammad adalah utusan Allah, dan mereka yang berada bersamanya adalah orang-orang yang keras terhadap kaum kafir, namun penuh kasih sayang di antara mereka sendiri, kamu akan melihat mereka dalam keadaan rukuk dan sujud sambil menantikan kebaikan dari Allah dan keridhaan ….” Inilah tiga pilar utama untuk menegakkan bangunan umat Islam yang kuat dan berwibawa.

Atas dasar kenyataan ini, setiap manusia muslim dapat mengetahui dengan baik titik-titik lemah dunia Islam sekarang.

Kini, musuh pengkhianat umat Islam adalah pihak-pihak yang mengelola pusat-pusat arogansi dan kekuatan-kekuatan serakah dan dzalim. Dalam pandangan mereka, kesadaran umat Islam merupakan ancaman besar bagi kepentingan- kepentingan ilegal dan kekuasaan dispotik mereka atas dunia Islam. Semua kaum Mukminin, khususnya para pelaku politik, para ulama dan pemikir serta pemimpin-pemimpin bangsa setiap negara masing-masing, sudah seharusnya menggalang barisan persatuan Islam sekuat mungkin dalam menghadapi musuh dzalim ini. Sudah seharusnya kita menghimpun unsur-unsur kekuatan dan membangun ketahanan umat Islam dengan benar.

Ilmu pengetahun, manajemen, sistem penyelenggaraan, kesadaran penuh, rasa tanggung jawab dan komitmen, tawakal dan kepercayaan pada janji Allah Swt., mengesampingkan keinginan-keinginan hina dan tak berarti demi mendapatkan keridhaan Allah Swt., beramal atas dasar tugas … semua ini adalah unsur-unsur dasar kekuatan umat Islam yang akan mengangkat mereka tampil merdeka, wibawa dan maju secara materiil dan spiritual. Unsur-unsur itu pula yang akan menggagalkan musuh dalam upaya mereka melakukan tekanan dan campur tangan dalam negeri-negeri muslim.

Kasih sayang antarsesama kaum Mukminin adalah pilar kedua dan kriteria lain untuk kondisi baik umat Islam. Perpecahan dan pertikaian di tengah umat Islam merupakan penyakit yang sangat membahayakan yang harus segera ditangani dengan segenap kemampuan. Sudah sejak lama, musuh-musuh kita bekerja dan berusaha tak henti-hentinya dalam masalah (perpecahan) ini. Dan mereka sekarang, di era kebangkitan Islam yang telah membuat mereka cemas ketakutan, semakin meningkatkan kerja dan usaha kerasnya. Semua pesan pihak-pihak yang prihatin akan masalah ini ialah hendaknya perbedaan-perbedaan itu tidak berubah menjadi pertentangan, juga keragaman itu tidak semestinya berakhir dengan permusuhan.

Bangsa Iran telah mengangkat tahun ini dengan nama ‘Tahun Solidaritas Islam’. Penamaan ini dilakukan atas dasar kesadaran akan siasat dan perencanaan musuh-musuh yang semakin serius dalam rangka menebarkan perpecahan di tengah saudara-saudara seiman. Di Palestina, di Lebanon, di Irak, di Pakistan dan Afganistan. Di negara-negara ini, siasat dan konspirasi itu telah dijalankan sehingga sebagian warga di sebuah negara muslim bangkit bermusuhan dengan sesama warga lainnya, dan bahkan sampai menumpahkan darah mereka. Dalam semua kasus dan kejadian yang pahit ini, tampak sekali jejak-jejak siasat itu di sana. Semua mata yang jeli telah melihat tangan musuh-musuh itu.

Perintah “penuh kasih sayang di antara sesama mereka sendiri” yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu mencabut akar-akar permusuhan. Di hari-hari yang penuh keagungan ini, dan dalam manasik-manasik haji yang bermacam-macam ini, kalian melihat kaum Muslimin yang datang dari berbagai penjuru dan dari berbagai mazhab tengah berkumpul di satu rumah; semua berdiri shalat ke arah satu Kiblat; semua serempak melontar lambang setan terkutuk; semua dengan satu cara berkurban dan menyembelih angan-angan serta keinginan-keinginan hawa nafsu; semua berdampingan berdoa dengan kerendahan hati di padang Arafah dan Masy‘ar. Dalam kepercayaan- kepercayaan yang paling mendasar, dan dalam kebanyakan kewajiban dan hukum, semua mazhab Islam saling berdekatan satu sama lain dengan tingkat yang sama. Meski demikian, kenapa lalu fanatisme dan prasangka-prasangka harus menyala di antara mereka, sehingga tangan busuk musuh membuatnya menjadi membakar?!

Sekarang, ada orang-orang yang—karena pikiran yang dangkal dan kurang akal, dan dengan alasan-alasan yang tak berdasar—menganggap sebagian besar kaum Muslimin itu orang-orang musyrik, bahkan menghalalkan darah mereka. Orang-orang itu, sadar atau tidak, sedang bekerja untuk kepentingan syirik, kekufuran dan kekuatan-kekuatan dzalim. Betapa banyak orang yang menyebut penghormatan kepada makam Rasulullah Saw., para wali, dan imam-imam agama—salam atas mereka semua—dengan label syirik dan kafir, padahal penghormatan itu adalah semacam penghormatan pada agama dan ketaatan pada agama. Akan tetapi, mereka sendiri justru telah bekerja untuk kepentingan orang-orang kafir dan dzalim, dan terlibat dalam keberhasilan siasat-siasat kotor mereka.

Ulama-ulama sejati, pemikir-pemikir yang komit dan pemimpin-pemimpin yang tulus sudah seharusnya memerangi gejala-gejala yang membahayakan semacam itu.

Persatuan dan solidaritas islami pada masa sekarang ini sudah merupakan kewajiban yang pasti; yang dapat dibangun dengan kerja sama para tokoh dan pihak-pihak yang prihatin akan hal ini.

Dua pilar kekuatan ini—yakni penggalangan barisan yang kuat di hadapan kekuatan-kekuatan dzalim dari satu sisi; dan kasih sayang, kebersamaan dan persaudaraan antarsesama muslim dari sisi lain—manakala dilapisi dengan pilar ketiga—yaitu ketundukan dan penghambaan diri di hadapan Allah Swt.—umat Islam secara berangsur akan maju di jalan yang telah menuntun kaum Muslimin di era awal kemunculan Islam sampai di puncak kejayaan dan kebesaran, dan akan menyelamatkan bangsa-bangsa muslim dari keterbelakangan yang menurunkan harga diri; keterbelakangan yang di sepanjang beberapa abad terakhir ini dipaksakan ke atas mereka. Awal perubahan besar ini telah dipelopori, dan berbagai gelombang kebangkitan di semua titik dunia Islam sedikit banyaknya telah bergerak. Media-media massa dan propaganda-propagan da musuh dan agen-agennya sedang berusaha keras untuk menghubung-hubungka n setiap gerakan kemerdekaan dan tuntutan keadilan di belahan dunia Islam manapun dengan Iran atau Syi’ah. Sedangkan Iran Islami sendiri—yang aktif sebagai pelopor pertama yang sukses dalam kebangkitan Islam—dianggap oleh mereka sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas pukulan-pukulan terhadap mereka yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan yang peduli di dalam negara-negara muslim di bidang politik atau budaya. Dengan membuat tuduhan-tuduhan seperti Iranisme atau Syi’ahisme, mereka berusaha membuat orang curiga terhadap semangat kepahlawanan luar biasa Hizbullah dalam perang 33 hari, terhadap ketegaran yang bijak bangsa Irak yang berujung pada pembentukan parlemen dan pemerintahan yang tak dikehendaki kekuatan-kekuatan pendudukan asing di sana, terhadap kesabaran dan konsistensi menakjubkan dari pemerintahan sah dan bangsa berkorban Palestina, dan terhadap sekian banyak lagi tanda-tanda kebangkitan baru Islam di negara-negara muslim. Akan tetapi, siasat ini tidak akan bisa melawan hukum Allah; yaitu kemenangan para pejuang di jalan-Nya dan kaum pembela agama-Nya.

Masa depan adalah milik umat Islam. Dan setiap orang dari kita dapat mempercepat masa depan itu sesuai dengan andil, kesanggupan, kapasitas dan tanggung jawab masing-masing.

Dan bagi kalian, para jemaah haji yang beruntung, manasik-manasik haji ini adalah sebuah kesempatan yang besar sehingga kita mempersiapkan diri lebih dari sebelumnya dalam rangka mengemban tugas ini. Adalah sebuah harapan; semoga taufik Allah Swt. dan doa Imam Mahdi Yang Dijanjikan—semoga Allah mempercepat kehadirannya— membantu kita dalam mencapai tujuan yang besar ini.[afh]

Wassalamu‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Sayyid Ali Husaini Khamenei
4 Dzulhijah 1428 H.

SUMBER: islam_alternatif@yahoogroups.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: