Wisudawan Madrasah Rasulullah

Desember 14, 2007 pukul 10:10 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Oleh JALALUDDIN RAKHMAT

REFORMASI Agung kedua yang dilakukan Rasulullah adalah dengan mengubah kesetiaan kepada kelompok menjadi kesetiaan kepada Islam. Sekarang saya ingin memberikan contoh keberhasilan reformasi kedua itu melalui kehidupan beberapa sahabat yang lulus dari Madrasah Rasulullah saw. Tidak semua sahabat lulus dari Madrasah Rasulullah. Ada juga sahabat yang diskors selama tiga bulan dan semua sahabat-sahabat Nabi yang lain dilarang berbicara dengan dia. Sampai sahabat Nabi itu kemudian lari ke gunung, bertaubat siang dan malam.

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw, anehnya, banyak yang tidak kita kenal. Salah seorang tokoh yang tidak begitu kita kenal adalah Utsman bin Mazh’un, dia dikuburkan di Baqi. Bapaknya adalah Mazh’un bin Wahab bin Hudzafah bin Jumuh Al-Quraisyi. Sedangkan Ibunya ialah Suhailah binti Al-Anbas bin Ahban bin Khudzafah bin Jumuh.

Utsman masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Dia adalah orang ketigabelas yang masuk Islam. Dia sangat rajin beribadah. Ia pun hijrah dua kali ke Habsyi. Dia ikut berperang di Badar bersama Rasulullah saw. Dia meninggal dua setengah tahun setelah Hijrah. Nabi menguburkannya di Baqi dan memberi tanda di kuburan Utsman dengan batu. Nabi sering menziarahi kuburannya. Hal ini sekaligus merupakan dalil bahwa ziarah ke kubur itu ialah sunnah Rasulullah saw. Kelak, salah seorang putera Utsman syahid pada hari Yamanah, ketika kelompok Musailamah Al-Kadzab melakukan perlawanan.

Kesetiaan Utsman bin Mazh’un kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi daripada kesetiaannya kepada yang lain. Ketika orang-orang Islam dikejar-kejar dan dianiaya, Utsman hijrah ke Habsy beserta seluruh keluarganya. Seperti kita ketahui, ‘Amr bin ‘Ash menyusul ke Habsyi dan meminta Utsman supaya kembali lagi ke Mekkah. ‘Amr bin ‘Ash juga meminta kepada Raja Habsyi supaya tidak menerima umat Islam di negeri itu dan mengembalikannya ke Mekkah.

Ketika Utsman bin Mazh’un kembali dari Habsyi ke Mekkah, penindasan masih berlangsung. Orang-orang Islam masih disiksa dan dianiaya. Dia menghadapi ancaman terhadap dirinya dan keluarganya. Akhirnya dia mencari perlindungan kepada keluarga Al-Walid bin Mughirah, seorang penyair yang sejak dulu dekat dengan Utsman.

Pada awalnya, Utsman bin Mazh’un masuk Islam karena rasa malu. Rasulullah saw sering berdakwah kepadanya dan berulang kali mengajak Utsman bin Mazh’un masuk Islam. Utsman pernah berkata, “Aku ini masuk Islam karena malu saja. Rasulullah berulang kali mengajak aku untuk masuk Islam. Waktu itu Islam belum ada dalam hatiku. Sampai suatu hari aku sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba Rasul memandang ke langit. Seakan-akan beliau sedang memahami sesuatu. Setelah Rasul merenung, aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Allah menyuruh kamu untuk berbuat baik dan memberikan hak kepada keluargamu. Dan Allah melarang kamu dari keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-Nahl 90).

“Waktu itu, menetaplah Islam dalam hatiku. Itulah saatnya aku masuk Islam yang sungguh-sungguh, karena aku tersentuh oleh ayat yang indah itu. Lalu aku datangi paman Nabi, Abu Thalib, dan aku kabarkan ke-islamanku. Beliau memberi nasehat, “Ya Ahli Quraisy, ikuti Muhammad, nanti kamu mendapat petunjuk. Karena Muhammad tidak memerintah kecuali kepada akhlak yang mulia.”

“Kemudian aku datangi Walid bin Mughirah, aku bacakan ayat itu dan Mughirah pun terpesona. Dia berkata, “Sungguh dalam ayat-ayat itu ada kemanisan-nya. Di atasnya juga ada keindahannya. Pada puncaknya ada buahnya. Dan di bawahnya rimbun. Ini bukan ucapan manusia. Kalau itu ucapan Muhammad, alangkah bagusnya ucapan Muhammad itu. Dan kalau itu ucapan Tuhannya, alangkah bagusnya ucapan Tuhannya itu”.

Walid bin Mughirah memang dekat dengan Utsman bin Mazh’un, meskipun dia tidak masuk Islam. Malahan ia termasuk dedengkot kekufuran. Tapi kepada Walid bin Mughirah, Utsman bin Mazh’un berlindung. Dan Walid bin Mughirah melindungi dia. Sehingga dia tidak diganggu oleh orang-orang kafir. Sementara orang-orang Islam yang lain menderita, Utsman bin Mazh’un ber-senang-senang di bawah perlindungan Walid bin Mughirah.

Utsman berkata, “Demi Allah, pagi dan soreku tentram dalam perlindungan seseorang yang musyrik. Sedangkan sahabat-sahabatku dan teman seagamaku sekarang menderita barbagai bala dan kesulitan karena Allah. Itu semua tidak menimpaku. Sungguh keadaanku ini adalah sebuah kekurangan yang besar, sebuah aib besar untuk diriku.”

Kemudian Utsman bin Mazh’un datang menemui Walid bin Mughirah, “Wahai Abâ ‘Abdi Syam, sudah selesai sekarang perlindunganmu itu. Aku kembalikan perlindunganmu itu.” Walid menjawab, “Kenapa kau kembalikan perlindungan itu, hai anak saudaraku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?” “Tidak,” jawab Utsman, “bukan karena itu. Tapi aku ingin memilih perlindungan Allah dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain Dia.” Walid berkata, “Kalau begitu, berangkatlah kamu ke mesjid dan umumkan terang-terangan bahwa kamu sudah menolak perlindunganku.” Keduanya pun lalu berangkat ke mesjid. Di sana Walid meng-umumkan, “Ini Utsman, dia menolak perlindunganku.” Utsman mengatakan, “Benar apa yang dia katakan dan dia sudah melindungi aku dengan sebaik-baiknya. Tapi aku lebih senang untuk berlindung kepada Allah saja dan karena itu aku kembalikan perlindungan Walid.”

Pada waktu itu datang rombongan tokoh-tokoh Quraisy, salah seorang di antaranya ialah Walid bin Rabiah bin Malik bin Ja’far bin Kilab dari Bani Kilab yang juga duduk di situ. Lalu ada seorang yang bernama Lubaib dari Bani Kilab yang ketika mendengar Utsman bin Mazh’un telah melepaskan perlindungan Walid bin Mughirah, dia membacakan sebuah syair, “Sungguh segala sesuatu selain Allah itu akhirnya jadi bathil.” “Shadaqta. Kamu benar”, kata Utsman. Kemudian Lubaib meneruskan syairnya, “Semua nikmat akhirnya akan berakhir juga.” Maksud Lubaib, perlindungan Mughirah itu sekarang berakhir semua. Utsman berkata, “Kamu dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.” Lalu Lubaib berteriak, “Hai Quraisy, lihatlah orang yang duduk bersama kalian ini! Dia termasuk orang-orang bodoh yang meninggalkan agama kita.” Utsman terus membantahnya, sampai Lubaib marah. Kemudian salah satu telinga dan mata Utsman dipukul, sehingga matanya lebam karena pukulan.

Walid bin Mughirah, yang dulu sebagai pelindung Utsman, berada di situ dan berkata, “Hai anak saudaraku, sekiranya mata kamu itu sehat, itu karena dulu kau berada pada perlindungan yang kokoh.” Walid bermaksud menyindir Utsman. Tapi Utsman berkata, “Demi Allah, mataku yang sehat ini sekarang iri dengan mata yang lain dalam membela agama Allah.” Utsman menantang untuk dipukul lagi. Walid berkata, “Mari ke sini, Hai anak saudaraku. Kalau engkau mau, aku akan melindungimu.” “Tidak,” kata Utsman.

Ketika matanya hampir pecah karena dipukul, dia kemudian melantunkan syair yang berisi pujian tentang matanya: “Jika mataku, karena mencari rido Tuhan, mendapat pukulan tangan mulhid, ateis sesat. Tuhan Maha Pengasih telah menggantinya dengan pahala. Siapa yang mendapat rido Rahman pasti bahagia.”

Utsman bin Mazh’un adalah contoh orang yang meninggalkan kesetian kepada kelompoknya karena kesetian kepada Allah. Dia meninggalkan tribalisme menuju Tauhidul Ummah, menuju Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah, persaudaran Islam.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an turun berkenaan dengan Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk pada “segolongan” (thâifah) dalam ayat “Sesungguhnya Tuhanmu menge-tahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzammil 20). Menurut A’isyah: Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, salat malam, terus menerus.” Datang Nabi saw. aku sebutkan hal itu. Rasulullah saw menemui Utsman dan berkata: “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum-hukumnya.”

Menurut Ibn ‘Abd Al-Birr, sehubung-an dengan perilaku Utsman dan sahabat-sahabat yang ingin terus menerus ibadah, turun ayat Al-Maidah 93: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Isti’ab 3:186).

Rasulullah mengunjunginya ketika dia sakit. Ketika dia meninggal dunia, Rasulullah saw ikut menguburkan jenazah-nya. Rasulullah saw juga menangisi kepergian Utsman bin Mazh’un. Sejak zaman Jahiliyyah, Utsman bin Mazh’un memang berakhlak bagus, apalagi setelah dia masuk Islam. Nabi berkata, “Manusia itu seperti logam. Kalau di Zaman Jahiliyyah emas, setelah Islam pun emas juga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan Utsman sebagai, “Orang yang paling banyak beribadah. Puasa di waktu siang hari dan shalat di malam hari. Dia menjauhi syahwat dan meninggalkan perempuan. Kemudian dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk mengebiri dirinya tetapi Rasulullah melarangnya. Sejak Zaman Jahilliyah, dia tidak pernah minum khamar. Dia beralasan, “Aku tidak akan minum satu minuman yang menyebabkan akal pikiranku hilang”.

“Waktu Rasulullah saw ditinggalkan oleh putranya yang sangat dicintainya, yaitu Ibrahim yang meninggal di Madinah, Nabi mendampingkan kuburannya di samping kuburan Utsman bin Mazh’un. Beliau bersabda, “Kuburkan Ibrahim di dekat pendahulu kita yang saleh.”

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw melaksanakan ajaran reformasi Rasul dalam kehidupan mereka dengan cara meninggalkan kesetiaan mereka kepada kelompok menuju kesetiaan kepada Islam.

Salah satu contoh yang paling baik untuk menjelaskan hal itu adalah Mash’ab bin Umair, salah seorang wisudawan madrasah Rasulullah. Riwayat singkatnya sebagai berikut; Bapaknya adalah Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abdi Dar bin Qusyaiy bin Kilab. Dari jalur kakeknya, Mash’ab bersambung dengan Rasulullah saw.

Mash’ab bin Umair adalah seorang pemuda Mekkah yang terkenal sebagai remaja berwajah tampan, tegap, dan murah senyum. Dia termasuk Assâbiqun fîl Islâm. Ia bergelar Abu Muhammad sedangkan laqabnya adalah Mash’ab Al-Khair, Mash’ab Si Baik.
Mash’ab termasuk salah seorang yang hijrah ke Habsyi. Nabi saw mengutusnya sebagai mubaligh, mu’alim, dan mursyid ke Madinah. Berkat dakwah Mash’ab bin Umair, banyak kabilah Anshar yang masuk Islam. Dia ikut bersama Nabi dalam perang Badar. Pada perang Uhud, Nabi memberinya bendera pasukan dan ia pun gugur sebagai seorang syuhada di Perang Uhud.

Pada umumnya, orang-orang yang masuk Islam itu kebanyakan miskin, para mustadh’afin yang berasal dari keluarga sengsara, kecuali Mash’ab bin Umair. Mash’ab adalah anak seorang keluarga elit. Orang tuanya kaya raya. Ibunya sangat sayang kepadanya sehingga dia selalu diberi pakaian yang bagus-bagus dan indah-indah.

Ketika dia masuk Islam, ibunya marah-marah dan tidak mau menerimanya lagi. Mash’ab diusir dari rumahnya. Ibunya pun pernah mogok makan dan hanya mau makan bila Mash’ab bin Umair kembali lagi memeluk agamanya semula. Tetapi Mash’ab bin Umair bertahan dan akhirnya ibunya menghentikan mogok makannya. Mash’ab bin Umair sangat mencintai ibunya tetapi dia lebih mencintai Islam. Dia mendahulukan kesetia-an kepada Islam dari pada kesetiaan kepada keluarganya.

Umar bin Khathab meriwayatkan kisah Mash’ab dalam sebuah hadits sebagai berikut; “Pada suatu hari, Rasulullah saw melihat Mash’ab bin Umair di Madinah. Mash’ab datang dengan pakaian yang compang-camping, sebagian pakaiannya dijahit dari kulit domba. Rasul menangis, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya, “Lihat, itu orang yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihatnya berada di tengah orang tuanya yang memberinya makanan yang lezat, minuman yang enak, dan pakaian yang bagus. Kemudian kecinta-an kepada Allah dan Rasul-Nya membawanya kepada keadaan yang kalian lihat.”

Mash’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah saw sebagai mubaligh di Madinah, atas permintaan orang-orang Anshar pada Bai’at Aqabah yang pertama. Mash’ab berdakwah dengan senyuman. Rasulullah saw tahu, orang-orang Arab itu jarang ada yang ramah dan mereka sukar sekali untuk tersenyum. Sampai Nabi pernah mengingat-kan kepada mereka berkali-kali, “Senyum kepada saudaramu itu shadaqah.” Mash’ab bin Umair menaklukkan hati orang dengan senyuman dan keramahannya.

Berikut ini adalah kisah sebagian dakwahnya di Madinah; Orang yang pertama masuk Islam di tangan Mash’ab bin Umair adalah As’ad bin Jurarah. Mash’ab bin Umair tinggal bersamanya. Kedua orang itu men-datangi satu kabilah di kalangan penduduk Madinah yang sangat berpengaruh, untuk berdakwah. Pemimpin kabilah itu adalah Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudair.

Mereka masuk melalui dinding Bani Zhafar. Dulu, setiap kabilah membatasi kampungnya dengan dinding-dinding. Semacam benteng yang mempunyai pintu gerbang. Begitupun dengan kota-kotanya. Kedua pemimpin kabilah itu masih musyrik. Ketika mendengar kedatangan Mash’ab dan As’ad, Sa’ad bin Mu’adz berkata pada Usaid bin Hudair, “La aban laka, mudah-mudahan kamu tidak punya bapak. Berangkatlah kamu menemui kedua orang itu yang sudah mendatangi perkampungan kita dan menipu orang-orang bodoh di kalangan kita. Sekira-nya dia tidak datang bersama As’ad bin Jurarah dan sekiranya kamu bukan merupa-kan keluarga As’ad bin Jurarah, aku sudah bunuh dia.”

Usaid bin Hudair lalu mengambil tombaknya untuk menemui kadua mubaligh itu. Ketika As’ad bin Jurarah melihat dia, dia berkata kepada Mash’ab bin Umair, “Inilah pemimpin kaum datang, dakwahi dia kepada Islam.” Mash’ab menjawab, “Kalau dia duduk, aku akan bicara dengan dia.”

Begitu Usaid bin Hudair tiba, ia langsung memaki-maki Mash’ab bin Umair. Mash’ab hanya tersenyum menghadapi makian tersebut. Usaid memaki, “Mau apa kalian datang kepada kami ini lalu menipu orang-orang bodoh di antara kami. Pergi! Kalau kalian masih memerlukan nafas kalian.”

Mash’ab bin Umair berkata, “Bagai-mana kalau anda duduk sebentar. Kita ngobrol-ngobrol. Kalau Engkau senang, Engkau terima. Kalau engkau tidak senang, Engkau dijauhkan dari apa yang tidak Engkau senangi.” Orang itu luluh melihat kebaikan hati Mash’ab bin Umair. Dia berkata, “Engkau benar.”

Kemudian Usaid meletakkan tombak-nya dan duduk bersama mereka. Mash’ab bin Umair lalu menerangkan tentang Islam. Ia membaca Al-Qur’an. Ketika melihat Usaid bin Hudair mendengarkan dengan penuh perhati-an, kedua mubaligh itu berkata, “Demi Allah aku sudah melihat di wajahnya keislaman, sebelum dia berbicara dan menunjukkan keramahan.”

Usaid bin Hudair bertanya, “Alangkah indahnya pembicaraan kamu itu. Kalau ada orang yang mau masuk Islam bagaimana caranya?” Keduanya berkata kepada Usaid, “Engkau mandi. Engkau bersuci. Bersihkan kedua pakaianmu, kemudian Engkau meng-ucapkan kalimat syahadat, setelah itu, Engkau shalat.”

Akhirnya Usaid bin Hudair berdiri. Ia mandi, membersihkan pakaiannya, kemudian dia mengucapkan syahadat dan salat dua rakaat. Usaid, yang diutus oleh kawannya Sa’ad bin Mu’adz untuk megusir mereka itu, malah masuk Islam dan berkata, “Sesungguh-nya di belakangku ada seorang tokoh. Jika tokoh itu ikut kepadamu, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang akan membatah-nya. Aku akan utus dia untuk menemui kamu sekarang, Sa’ad bin Mu’adz namanya.”

Usaid mengambil lagi tombaknya dan pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz beserta kaumnya. Sa’ad sedang duduk di tengah-tengah kabilahnya. Ketika melihat Usaid datang, Sa’ad berkata, “Demi Allah! Usaid telah datang dengan wajah yang yang berbeda daripada ketika ia pergi tadi.” Saat Usaid duduk di tengah kelompok itu, Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?” Usaid pun menjawab, “Aku sudah berbicara dengan kedua orang itu. Dan Demi Allah, aku tidak melihat niat yang buruk pada mereka. Aku larang mereka untuk menemui kita, tapi mereka berkata, ‘Aku akan lakukan apa yang kalian kehendaki. Namun aku dengar Bani Haritsah sudah keluar untuk membunuh Ibnu Jurarah. Mereka tahu bahwa anak bibimu itu akan menyerang kamu, karena itu mereka akan membunuhnya’.”

Sa’ad bin Mu’adz marah. Usaid membohongi Sa’ad, supaya Sa’ad marah dan menemui Ibnu Jurarah karena kuatir Ibnu Jurarah akan diserang oleh Bani Haritsah. Sa’ad mengambil tombaknya, kemudian pergi menemui Mash’ab dan As’ad. Ketika Sa’ad melihat keduanya dalam keadaan tenang. Tahulah Sa’ad bahwa Usaid hanya mendorong dia supaya mendengarkan pembicaraan mereka.

Sa’ad berdiri dan memaki-maki. Seperti biasa, Mash’ab membalasnya dengan senyuman. Dia berkata kepada Asad bin Jurarah, “Yâ Abâ Umamah, sekiranya di antara kita ini tidak ada hubungan kekeluar-gaan, aku tidak akan sampai pada keadaan seperti sekarang ini.” Lalu Asad berkata kepada Mash’ab, “Ini sudah datang pemimpin yang diikuti oleh seluruh kaumnya di belakang. Jika ia mengikutimu, tidak seorang pun di antara kaumnya yang akan mem-bantahnya.”

Mash’ab dengan ramah mengajaknya duduk dan mendengarkan pembicaraannya. Sama seperti kepada Usaid, ia berkata, “Kalau engkau suka, engkau terimalah pembicaraan-ku. Tapi kalau engkau tidak suka, tinggalkan-lah apa yang tidak engkau sukai.” Kemudian Mash’ab pun duduk membaca Al-Qur’an. Singkat cerita, karena keramahan Mash’ab, Sa’ad bin Mu’adz akhirnya masuk Islam.

Dalam Bahasa Parsi, wajah yang ramah disebut hulu adapun wajah yang menakutkan disebut lulu. Saya pernah mendengar sebuah puisi Parsi sebagai berikut, “Orang-orang ‘Irfan memperkenalkan agama dengan hulu. Sedangkan para Fuqaha memperkenalkan agama dengan lulu.” Mash’ab bin Umair adalah orang yang memperkenalkan agama dengan wajah yang ramah. Orang yang mencaci maki tidak dilawan cacian dan makian. Malahan ia tersenyum, seakan-akan ia menikmati cacian itu. Dengan keramahannya, luluhlah hati orang-orang Anshar itu.

Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz lalu menemui kaumnya. Sa’ad berkata kepada kaumnya, “Ya Bani Abdil Asyhal, bagaimana menurut kalian urusanku di tengah-tengah kalian?” Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami yang paling akrab diantara kami. Yang paling bagus pemikirannya. Kau adalah pemimpin yang paling bisa dipercaya.” Kemudian Sa’ad berkata, “Ketahuilah mulai saat ini, kalian, baik laki-laki maupun perempuan, haram berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sa’ad ber-maksud untuk memutuskan hubungan tribalisme itu.

Berkat bantuan kedua orang ini, akhirnya Mash’ab dan Asad mendatangi seluruh perkampungan Anshar. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang tidak masuk Islam.

Kisah lain meriwayatkan Mash’ab pada suatu peristiwa di Perang Badar. Mash’ab bin Umair berada di pihak Rasulullah saw sementara keluarganya berada di pihak Musyrikin.

Seperti kita ketahui, pada Perang Badar orang Islam memetik kemenangan. Di antara tawanan yang berada di tangan kaum Muslimin adalah saudara Mash’ab bernama Abu Aziz Ibnu Umair. Mash’ab melewatinya dan melihat saudaranya tertawan. Abu Aziz adalah pemegang bendera Kaum Musyrikin. Ketika saudaranya menegur dan meminta pertolongannya, Mash’ab bin Umair berbicara kepada orang Anshar yang menawan saudara-nya, “Pegang tawanan ini kuat-kuat. Ibunya orang kaya. Mudah-mudahan ibunya bisa menebus dia dengan harga yang mahal”.

“Saudaraku, apakah ini nasihatmu kepadaku?” tanya saudaranya kebingungan. Mash’ab berkata kepada Abu Aziz sambil menunjuk orang Anshar yang menawannya, “Dia (orang Anshar) adalah saudaraku yang lebih dekat denganku dari pada kamu. Dia adalah saudaraku selainmu”.

Jadi, menurut Mash’ab, saudara seagama itu jauh lebih dekat dari pada saudara sedarah.

Tarikh yang saya kutip ini mengakhiri kisah Mash’ab bin Umair dengan Surat Hud ayat 46 yang mengisahkan Doa Nabi Nuh, ketika ia ingin menolong anaknya yang tenggelam. Nuh berdoa, “Tuhanku, ini anakku termasuk keluargaku. Dan janji-Mu benar, Engkaulah hakim yang paling bijaksana.” Lalu Tuhan berfirman, “Hai Nuh, dia bukan dari keluargamu. Dia adalah amal yang tidak shaleh. Dan janganlah kamu minta kepadaku yang kamu tidak punya ilmunya. Aku nasihati kamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

Orang jahil adalah orang yang ke-setiaan kepada keluarganya lebih besar dari pada kesetiaannya kepada Islam.

Mash’ab bin Umair lebih mencintai Islam dari pada keluarganya. Dia meninggal dunia pada perang Uhud dan Rasulullah saw pun menangisi kepergiannya.

Saya akhiri kisah Mash’ab bin Umair ini dengan satu peristiwa ketika Rasulullah saw pulang dari Uhud memasuki Madinah. Beliau disambut oleh perempuan-perempuan yang menangisi kematian keluarga mereka. Di antaranya ialah Zainab binti Jahasy. Begitu Rasulullah saw melihat Zainab, ia berkata, “Bersabarlah engkau Zainab.” Zainab ber-tanya, “Siapa yang meninggal itu, Ya Rasulullah?” “Saudaramu” jawab Rasul. “Inallilâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” jawab Zainab. Kemudian Rasulullah kembali berkata, “Bersabarlah engkau.” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” tanya Zainab. “Untuk Hamzah bin Abdul Muthalib,” jawab Rasul. Kembali Zainab berkata, “Innalillâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” Untuk ketiga kalinya, Rasulullah saw masih berkata, “Bersabarlah engkau, Hai Zainab” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” Zainab bertanya cemas. Rasul menjawab, “Untuk suamimu, Mash’ab bin Umair.” Barulah Zainab berteriak, “Duhai derita, duhai kesedihan!”

Ketika Mash’ab meninggal, dia masih memakai pakaiannya yang compang-camping itu. Rasulullah saw menangis dan berkata di hadapan jenazah Mash’ab, “Semoga Allah menyayangimu, Hai Mash’ab bin Umair. Aku sudah melihatmu di Mekkah dulu. Dan aku tak pernah melihat orang yang pakaiannya sebagus pakaian kamu. Yang kesenangannya sebaik kamu. Tapi sekarang, engkau dalam keadaan compang-camping dan tertutup debu”.

Rasulullah saw lalu menguburkan-nya. Saudara Mash’ab, Abu Rum, turun di kuburannya. Begitu juga Amir bin Rabiah Al-Anzi.

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair. Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang yang membenarkan janji yang sudah mereka berikan kepada Allah”.

Itulah Mash’ab bin Umair, yang mendahulukan kesetiaan kepada Islam di atas kesetiaan kepada kelompoknya, kepada keluarganya, dan kepada suku bangsanya. Mash’ab bin Umair adalah contoh orang yang mendahulukan Islam dengan keramahan, dengan akhlak yang baik, dan dengan senyuman.

Dialah orang yang membawa Islam dengan Bunga Mawar, tapi tidak dengan durinya. Sementara banyak orang yang menyebarkan Mawar, tidak dengan menyebar-kan harumnya, melainkan durinya. Kalau kita sebarkan Islam dengan duri, kita akan banyak menyakiti orang. Tapi kalau kita sebarkan Islam dengan harumnya, Insya Allah, kita akan menarik mereka kepada Islam. Penulis tarikh Mash’ab bin Umair yang saya kutip ini memulai tulisannya dengan QS. Mujadilah ayat 22, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yamg beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasui-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.”

Orang yang beriman seperti itu, menurut Al-Qur’an, “Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat-Nya). Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguh-nya golongan Allah itulah yang beruntung.” (QS.Al-Mujadilah 22).


http://www.jalal-center.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: