Idul Adha Seragam: Umat bersyukur atas kekompakan NU dan Muhammadiyah

Desember 11, 2007 pukul 7:44 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag: ,

JAKARTA — Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah, sepakat bahwa tanggal 1 Dzjulhijjah adalah hari kemarin (Senin, 10/12). Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 2007 atau 10 Zulhijjah 1428 Hijriyah jatuh pada Rabu (19/12) selepas maghrib dan shalat Ied atau pelaksanaan qurban digelar seragam pada Kamis (20/12).

”Insya Allah tahun ini tidak ada perbedaan (Idul Adha), tanggal 1 Dzulhijjah disepakati hari ini (kemarin, red), baik oleh NU maupun Muhammadiyah. Jadi untuk Idul Adha semua serentak di seluruh wilayah Indonesia,” ungkap Menteri Agama, M Maftuh Basuni, menjawab wartawan sebelum terbang ke Arab Saudi selaku Amirul Hajj Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (10/12).

Pemerintah Indonesia, lanjut Menag, juga menerima surat dari pemerintah Malaysia yang menginformasikan penentuan serupa untuk tanggal 1 dan 10 Dzulhijjah 1428 H itu. ”Malaysia dan kita sama,” tegasnya.

Bulan sudah naik
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rosyad Sholeh, menjelaskan, dalam mengambil keputusan menentukan tanggal 1 Dzulhijjah, Majelis Tarjih melakukannya berdasarkan pertimbangan hisab seperti dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawal. Metode hisab, mempunyai fungsi dan kedudukan sama dengan metode rukyat sebagai pedoman penetapan awal bulan qamariyah, serta melengkapinya dengan dalil-dalil syar’i dan dengan demikian rukyat tidak lebih diutamakan daripada hisab.

Hasil perhitungan Majelis Tarjih MUhammadiyah, 1 Dzulhijjah 1428 H jatuh pada 10 Desember 2007. ”Semalam bulannya sudah naik,” ungkap Rosyad, kemarin. Sementara Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU, Endang Turmudzi, menegaskan, organisasinya tidak resmi mengeluarkan pengumuman tentang 1 Dzulhijjah 1428 H. ”Tapi kita sama dengan pemerintah, Idul Adha-nya tidak beda.”

Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUUI), Habib Abdurrahman Asseqaf, mengaku bersyukur karena para pimpinan ormas Islam menunjukkan sikap bijaksana seperti para pemimpin umat terdahulu. ”Seperti Buya Hamka dan lain-lain, sangat memperhatikan persatuan daripada perbedaan yang kurang prinsip. Coba kalau Idul Fitri dan Ramadhan seperti ini, kan enak kita juga,” paparnya.

Menurut dia, perbedaan penentuan awal bulan qamariyah sejatinya terletak pada perspektif ilmu pengetahuan yang menempatkan metode hisab dan rukyat pada posisi berlawanan. Padahal, bila ingin mencermati lebih jauh, hisab dan rukyat ibarat dua sisi mata uang yang saling berhubungan timbal balik. Artinya, tidak perlu dibandingkan mana yang paling baik dan paling benar. (ade) http://republika.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: