Gulai Rendang untuk SBY

November 28, 2007 pukul 6:14 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag:

LAGU Indonesia Raya membahana dari tempat pemungutan suara (TPS) 29 di Jalan Kebaktian II, Kiaracondong, Bandung, menjelang sore Senin 20 September 2004. Seluruh hadirin yang ada di tempat itu larut dalam keharuan dengan menyanyikan lagu kebangsaan selepas menunaikan hajat demokrasi paling akbar: memilih presiden.

TPS 29 ini adalah salah satu dari empat TPS yang berada di sekitar Yayasan Muthahhari, yang dianggap sebagai basis Syiah di Indonesia.

Di TPS itulah Jalaluddin Rakhmat, ikon penting Syiah di Indonesia, nyoblos. Hari itu, Kang Jalal –begitu Jalaluddin Rakhmat akrab dipanggil– memboyong seluruh anggota keluarganya, termasuk cucunya yang masih balita, untuk memberikan suara. “Pemilu ini sudah mengeluarkan banyak uang dan uang itu uang rakyat, sayang kan kalau kita tidak ikut,” kata Kang Jalal.

Seperti di banyak tempat di Indonesia, warga di sekitar Yayasan Muthahhari terlihat antusias menyambut pesta demokrasi ini. Mereka mengenakan pakaian terbaik bak menyambut Lebaran. “Kalau nanti SBY menang, kami ramai-ramai akan membuat gulai rendang,” kata Nyonya Umi, seorang warga di situ, setelah pencoblosan. Janji itu dilaksanakan setelah pasangan SBY-Kalla dinyatakan KPU sebagai pemenang pemilu, 4 Oktober lalu.

Pada pemilu presiden putaran pertama, Amien Rais mendapat suara terbanyak di TPS-TPS sekitar Muthahhari. Ini tak mengejutkan. Yayasan Muthahhari memang punya kedekatan emosional dengan Amien Rais. Adalah Amien Rais yang meresmikan pembangunan yayasan tersebut. Sayang, Amien Rais tak lolos ke putaran kedua.

Dari empat TPS yang ada di sekitar Yayasan Muthahhari, pada pemilu presiden putaran pertama 5 Juli 2004, tercatat SBY-Jusuf Kalla berada pada posisi pertama dengan jumlah suara 452. Disusul di tempat kedua, Amien Rais-Siswono Yudosodo dengan 443 suara. Lalu berturut-turut Megawati-Hasyim Muzadi 108 suara, Wiranto-Salahudin Wahid dengan 118 suara, dan yang terakhir Hamzah Haz-Agum Gumelar yang hanya memperoleh tujuh suara.

Di putaran kedua 20 September 2004, SBY kembali tak terbendung. Dari 1.372 pemilih di empat TPS itu, SBY mendapat 898 suara dan Mega 210 suara. Sisanya tidak sah dan tak datang ke lokasi TPS.

Faktor Kang Jalal tidak bisa dilepaskan dari perolehan suara bagi SBY ini. Saat menggelar pengajian di masjid samping rumahnya, sehari sebelum hari pencoblosan, Kang Jalal mengingatkan pilihan-pilihan yang akan diambil jamaahnya. “Anda mau status quo pilih Megawati. Jika Anda ingin perubahan, pilih SBY. Atau Anda ingin lepas dari tanggung jawab, pilih golput,” katanya.

Harapan pada perubahan itulah yang mendasari kemenangan SBY di basis Syiah ini. “Saya berharap pemimpin yang akan datang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik ketimbang sekarang ini,” kata Sukiyo, seorang warga di situ. Alhasil, Mega tergelincir bukan karena penolakan terhadap presiden perempuan seperti dikampanyekan sebagian ulama NU.

“Pemimpin perempuan boleh-boleh saja,” kata Kang Jalal. Ia merujuk pada salah satu kitab tokoh Syiah Ayatullah Syamsyudin yang berjudul Perempuan berhak untuk menjadi presiden atau tokoh politik. Menurut Kang Jalal, beberapa negara yang mayoritas penduduknya muslim bahkan sudah lebih dulu memelopori pemimpin perempuan.

Di Iran, perempuan menjadi wakil presiden. Pakistan penah dipimpin perdana menteri wanita Benazir Butho. Di Indonesia ada Presiden Megawati. Malaysia punya istri Anwar Ibrahim yang memimpin partai politik. Anehnya, negara-negara Barat yang mengaku demokratis sekalipun, seperti Amerika, belum pernah dipimpin perempuan.

Kalangan Syiah juga tak keberatan dipimpin nonmuslim. Jika di kalangan Sunni ada dalil “lebih baik diperintah seorang muslim walaupun zalim ketimbang diperintah kafir walaupun adil”, mereka berpendapat sebaliknya. “Kita lebih nyaman tinggal di tempat yang dipimpin orang kafir tapi mereka adil dan menyejahterakan rakyatnya ketimbang pemimpin muslim yang zalim dan menyengsarakan rakyat,” kata Kang Jalal, yang mendikan Yayasan Muthahhari, 12 tahun lalu.

Yayasan ini sehari-hari mengelola sekolah menengah umum. Sejak awal berdirinya, Muthahhari dicurigai sebagai pelopor gerakan Syiah di Indonesia. Maklum, nama itu adalah salah seorang tokoh Syiah terkemuka. Tudingan ini dibantah Kang Jalal, yang menyebutnya sebagai tuduhan tidak berdasar. Kurikulum Muthahhari mengajarkan pemikiran seluruh mazhab. Yakni Syafi’i, Hambali, Maliki, dan Hanafi. “Saya tidak mengajak orang masuk Syiah. Di sini kami mengajarkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan di antara berbagai mazhab,” kata Jalal.

Muthahhari dipakai, menurut Jalal, bukan karena pertimbangan kesyiahannya. Lebih karena bobot intelektual tokoh tersebut yang nonsektarian. Ia sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni. Muthahhari adalah orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional. Tetapi ia cukup terbuka menerima khazanah pemikiran Barat. Ia menjembatani dikotonomi antara intelektual dan ulama. “Nah, itu salah satu misi yayasan ini, menjadi jembatan itu,” kata Jalal.

Kang Jalal menegaskan, sejak awal pendiriannya, Muthahhari adalah lembaga yang sepenuhnya nonsektarian dan nonpartisan. Bertumpu pada dua misi yang diembannya. Yakni melakukan pencerahan pemikiran dan memberdayakan kelompok tertindas. Jalal mencontohkan, di kalangan Syiah ada sekelompok orang yang sangat berorientasi pada fikih. Sehingga kesalehan diukur dari kesetiaan terhadap fikih. “Sedangkan di Muthahhari, konsepnya, dahulukan akhlak (moralitas dan integritas kepribadian) di atas fikih,” kata Jalal.

Taufik Abriansyah dan Dadan Firmansyah (Bandung)
[Demokrasi dengan Opsi, Gatra Edisi Khusus, beredar Selasa, 9 November 2004]

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: