Mencintai Kematian

November 14, 2007 pukul 1:41 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag:

Oleh OVIC

KEMATIAN adalah salah satu berkah Allah yang memiliki hikmah tertentu. Tetapi, walau pun begitu mayoritas manusia membenci kematian. Kematian ibarat momok yang luar biasa menakutkan. Padahal menunda kematian, mungkin bukan cara yang elegan dalam menjalani sisa hidup. Contohnya ketika kita menjadi tua (manula). Kita hanya akan menjalani sisa hidup sebagai beban bagi anak-anak dan cucu-cucu kita. Mereka tidak memiliki waktu untuk memenuhi kebutuhan kita, baik pakaian, makanan maupun tempat tinggal. Jika mereka akan mengurus kita, maka secara fisik, tenaga mereka akan habis. Lalu kapan mereka akan mengurus diri mereka dan masa depan mereka?

Sering sekali kematian dinisbahkan kepada prasangka yang buruk kepada Allah SWT. Padahal berprasangka buruk pada takdir dan keputusanNya adalah terlarang. Apa pun yang diperintahkanNya adalah baik. Jika kita yakin bahwa Ia Maha Mengetahui dan Bijaksana. Bagaimana mungkin Yang Menciptakan tidak Mengetahui? Kita sama sekali tidak layak dan mengajukan keberatan.

Kematian

Katakanlah ada seorang Raja yang mengundang beberapa orang untuk berpesta di kebunnya. Mereka akan dijamu di tempat yang tidak akan pernah bayangkan kenikmatannya. Hanya saja, saat ini mereka disuruh antri masuk ke dalam rumah, mereka hanya akan di panggil dengan catatan bahwa yang paling diam yang akan dipanggil. Dengan tambahan, keputusan raja tidak bisa diganggu-gugat.

Maka sangat wajar jika undangan yang ada di luar ini duduk diam sambil menunggu. Sangatlah tidak pantas sebagai undangan yang ingin dipanggil, bersikap ribut bahkan saling berkelahi. Ribut karena apa saja, mulai dari soal pakaian, dandanan, hingga fasilitas yang ditawarkan. Padahal, periode menunggu itu hanya sehari-dua hari, atau katakanlah sangat singkat apabila dibandingkan dengan masa jamuan.

Kematian itu hiburan agung yang dipersiapkan oleh Sang Raja. Tamu yang tidak sabar, merasa gusar. Karena tidak sabar, akhirnya mereka lari sementara dari masa menunggu itu dan akhirnya kembali tanpa membawa modal yang cukup. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mau ikut masa menunggu tadi, dikarenakan tidak yakin adanya sesuatu yang luar biasa menunggu di sana.

“Seorang pun tidak ada yang mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka, yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan (Q.S As-Sajdah : 17).

Tapi bagi orang-orang yang baik, ia akan terus menunggu sambil berharap-harap cemas. Mereka ini, golongan yang yakin dengan janji adanya jamuan tak terbatas itu. Sehingga mereka menunggu dengan menaati syarat-syarat yang ditetapkan Sang Penjamu.

Adalah Hussain yang mengatakan, “sebagaimana kalung adalah hiasan bagi seorang wanita muda, maka kematian adalah hiasan penting bagi manusia “. Manusia harus mengetahui bahwa kematian bukanlah keanehan yang di dalamnya dia bisa melihat ada ketidakadilan dan penindasan.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, shalawat kepadanya, ketika ditanya, ia memberikan jawaban,”Demi Allah! Kecintaan saya terhadap kematian melebihi kecintaan bayi kepada air susu ibunya”.

Sama seperti anak bayi yang baru akan tenang ketika mengisap puting susu ibunya, maka beliau juga baru akan tenang dengan mengingat kematian. Dengan mengingatnya, maka aku akan damai, tenang. Aku akan ingat akan rumah abadiku.


Ginting

11 Nov 2007

SUMBER : Ayatullah Sayyid Dastaghaib Shirazi, “Bermasyarakat Menurut Al-Quran” (Jakarta: Penerbit Al-Huda, 2005)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: