Penyembelihan dalam Al-Quran Hanya Simbolik

November 12, 2007 pukul 7:44 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag:

MAKNA qurban bagiku adalah penyadaran atas nilai-nilai kebinatangan yang ada pada manusia (diri), sehingga kembali menjadi manusia.

Ada juga yang memaknainya sebagai upaya diri untuk mendekat pada Tuhan. Bila itu yang dipahami dan diyakini, maka ia harus berani mengorbankan yang dicintainya.

Aku memahami peristiwa penyembelihan dalam al-Quran hanya simbolik saja. Aku melihatnya begitu. Sebab kalau sebagai keberanian berkorban untuk Allah, bagi seorang hamba yang benar-benar mencintai Allah, korban seekor kambing bukanlah simbol cinta yang bisa disebut besar.

Sekedar perbandingan. Apabila menyembelih kambing itu sebagai tanda cinta, coba bandingkan antara pengorbanan Nabi Islam yang mengorbankan dirinya untuk disembelih dan Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anaknya sendiri dengan tangannya sendiri. Bandingkan dengan kita yang hanya mengorbankan seekor kambing.

Kalau saja Allah tetap menganggap pengorbanan kita dengan seekor kambing sebagai tanda cinta kita pada-Nya, subhanallah, betapa besarnya Kasih-Sayang (Rahman-Rahim) dan Maha Pengampunan Allah kepada kita.

Pada akhirnya, kita harus bertanya pada niat kita sendiri, untuk apa kita ber-qurban? Di situlah letak nilainya. Oleh karena itu, letaknya dalam niat, dalam ungkapan hati, dan dalam apa yang tersirat dalam hati. Itulah masalahnya.

Bila kita menyadari betapa kecilnya pengorbanan kita terhadap yang kita cintai (Allah), semestinya menjadi salah satu dasar supaya kita menyadari untuk semakin bersyukur. Tapi kita lebih banyak meminta suatu “materi” dibandingkan ungkapan rasa syukur dan minta ampunan.

Memang bila direnungi akan tampak diri kitak tak ada apa-apanya. Sehingga akan terasa bahwa kita kecil dihadapan-Nya. Bila kita sudah merasa kecil, berbesar hatilah.

Rasulullah SAW selalu membaca doa kelemahannya sebagai berikut:

“Ya Allah, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku ? Apakah kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku.

Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-MU yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau turunnya ketidakridhaan-Mu kepadaku. Jauhkanlah murka-Mu hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu”.

AHMAD GIBSON Al-BUSTHOMIE,
Pembina Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

[Ditulis dari obrolan chat, Rabu, 28-10-2007 menjelang ashar]

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: