Kriminalisasi Komunitas Eden

Oktober 31, 2007 pukul 8:18 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag:

Oleh ABD. MOQSITH GHAZALI

RABU, 28 Desember 2005, rumah Lia Aminuddin yang beralamat di Jalan
Mahoni 30, Bungur, Jakarta Pusat, dikepung oleh sebagian masyarakat.

Mereka memprotes penyebaran ajaran Lia, yang oleh Majelis Ulama
Indonesia telah dinyatakan sebagai ajaran sesat. Polisi pun kini telah
menetapkan Lia sebagai tersangka dengan tuduhan telah melanggar Pasal
156-a dan 157 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penodaan agama
dan penghasutan. Lia diancam hukuman lima tahun penjara (Koran Tempo,
30 Desember 2005). Untung saja, tidak ada tindakan perusakan terhadap
rumah Lia yang sekaligus menjadi markas Tahta Suci Kerajaan Eden itu.
Rumah Lia yang mendaku sebagai Jibril Ruhul Kudus tersebut tetap utuh.
Tidak juga ada korban jiwa. Puji Tuhan, alhamdulillah.

Ada beberapa hal mendasar yang perlu dikemukakan terkait dengan
peristiwa tersebut. Pertama, ini bukan pertama kalinya fatwa MUI
dijadikan alat untuk melakukan penyerbuan terhadap kelompok yang telah
divonis sesat. Sebelumnya, kita telah menyaksikan peristiwa penyerangan
terhadap markas Ahmadiyah di Parung, yang menyebabkan terjadinya
derajat kerusakan yang sangat parah. Di Cianjur, Jawa Barat, pada 19-20
September 2005, 70 rumah dan 6 masjid kepunyaan Ahmadiyah rusak berat
akibat ulah sebagian massa yang mengaku sedang menjalankan fatwa MUI.
Belum lagi penyerbuan terhadap markas Ahmadiyah di Lombok Timur, Nusa
Tenggara Barat. Dalam kaitan ini, saya kira para ulama MUI yang
terhormat harus mulai merefleksikan kembali fatwa-fatwa yang pernah
dikeluarkannya. Para ulama tidak bisa bermain lugu dengan mengeluarkan
fatwa begitu saja tanpa mempertimbangkan dampak ikutan dari fatwa itu.
Fatabiru ya uli al-albab.

Kedua, ini sebentuk kriminalisasi terhadap tafsir keagamaan, yang
biasanya diarahkan buat kelompok yang bukan arus utama dan tidak
memiliki power kekuasaan, seperti Ahmadiyah, Komunitas Eden, dan Pondok
I’tikaf Ngaji Lelaku Malang pimpinan Yusman Roy. Sekiranya ajaran
mereka menjadi arus utama, pastilah mereka tidak akan dianggap sesat.
Malah bisa sebaliknya, warga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah,
misalnya, yang akan tertuduh sebagai penyebar ajaran sesat. Atau jika
saja banyak pejabat di negeri ini mengikuti ajaran-ajaran yang
non-mainstream itu, bisa diramalkan mereka tidak akan mengalami nasib
seburuk ini. Dulu, ketika doktrin Mutazilah menjadi mazhab dan ideologi
rezim penguasa, orang Sunni-lah yang dianggap menyimpang sehingga perlu
diinterogasi dan diinkuisisi (mihnah). Mungkin saja, tatkala ajaran
Syiah telah menjadi arus utama di Iran, yang dianggap sesat adalah
kelompok-kelompok Islam di seberangnya, seperti Sunni dan Wahabi.
Menurut saya, penyelesaian pluralitas (tafsir) agama dengan cara
kriminalisasi seperti pada abad pertengahan itu sungguh tidak sehat
bagi tata kehidupan yang damai dan demokratis. Itu termasuk model
pemecahan masa lalu yang tidak bisa dipertahankan hingga sekarang. Di
dalamnya ada unsur dominasi bahkan hegemoni mayoritas-arus utama
terhadap yang minoritas-pinggiran .

Ketiga, baik polisi maupun massa yang mengepung rumah Lia Eden itu bisa
diperkarakan sebagai pelanggar hak asasi manusia, bahwa sebagaimana
warga negara lain, Lia plus jemaatnya memiliki hak untuk menjalankan
keyakinannya tanpa ada satu pihak pun yang berwenang untuk
menghalang-halangin ya. Kebebasan berkeyakinan itu dijamin oleh
Undang-Undang Dasar 1945. Pasal 28-E ayat 2 menyebutkan, setiap orang
bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan
dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih
tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak
kembali. Ayat 2 pasal 28-E menegaskan, setiap orang berhak atas
kebebasan meyakini kepercayaan serta menyatakan pikiran dan sikap
sesuai dengan hati nuraninya. Ayat 3 menyebutkan, setiap orang berhak
atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Mengacu pada tiga ayat ini, Lia memiliki hak penuh untuk menjalankan
agamanya secara bebas. Negara hanya boleh mengintervensi jika di
dalamnya terdapat unsur kekerasan dan penindasan satu di atas yang
lain. Dan pada hemat saya, apa yang dilakukan Lia bukanlah tindakan
teror yang menyebabkan terbunuhnya sekian banyak manusia yang tak
berdosa seperti yang dilakukan oleh kelompok (almarhum) Doktor Azahari
dan Noor Din M. Top. Lia pun tidak melakukan jalan kekerasan dan
intimidasi dalam mendakwahkan dan memasyarakatkan ajarannya. Sejauh Lia
tidak mengajarkan bom bunuh diri dan jalan kekerasan lain, dia tetap
absah untuk tumbuh di Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini.

Saya secara pribadi tidak sepenuhnya setuju dengan ajaran Lia Eden.
Tapi itu tidak berarti saya boleh merampas hak Lia untuk menjalankan
keyakinannya. Saya kira, penyelesaian atas perkara ini bisa diserahkan
kepada jemaat Lia sendiri. Biarlah mereka yang memberikan penilaian.
Jika ia mengandung kesesatan yang nyata, dalam waktu yang tidak terlalu
lama dia pasti akan ditinggalkan pengikutnya. Belakangan, saya mulai
mengendus satu gejala, sejumlah ordo spiritual mulai ditinggalkan oleh
jemaatnya karena di dalamnya ada aktivitas di luar nalar sehat bahkan
ada aroma yang tidak sedap, dari soal skandal dan pelecehan seksual
hingga masalah pengerukan harta jemaat demi kekayaan sang pemimpin.
Tanpa perlu ada fatwa dari MUI, mereka biasanya bubar sendiri,
sekurangnya akan sepi pengunjung.

Sebaliknya, kalau ajaran Lia Eden tersebut mengandung kebenaran,
pastilah ia akan bertahan lama, bahkan cenderung akan semakin besar.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran, “Fa amma al-zabadu fa yadzhabu
jufa’an wa amma ma yanfauu al-nas fayamkutsu fiy al-ardh,” bahwa buih
yang tak berguna akan hilang ditelan zaman, sementara sesuatu yang
bermanfaat akan berjalan terus. Saya belum tahu apakah Komunitas Eden
itu buih yang sebentar lagi akan hilang atau justru sesuatu yang
bermanfaat sehingga akan berumur sangat panjang.

PENULIS adalah Pengamat Sosial Keagamaan, Kandidat Doktor Universitas Islam Negeri Jakarta, dan anggota Jaringan Islam Liberal Jakarta

Koran Tempo/Senin, 02 Januari 2006

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: