Silaturahmi Kepada yang Membenci

Oktober 20, 2007 pukul 1:56 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh AHMAD DIMYATI

Abdullah bin Sinan mendatangi imam Ja’far ash-Shadiq. “Aku bingung menghadapi te¬man¬ku, ya imam,” ucapnya. “Kenapa?” tanya sang imam. “Aku sambungkan silaturahmi kepadanya, tetapi ia memutuskan silaturah¬mi kepadaku. Kemudian kedua kalinya aku menyambung¬kan silaturrahmi kepadanya. Begitu pula ketiga kalinya aku melakukan hal yang sama. Namun ia memutuskan sila¬turahmi denganku. Akhirnya aku mengambil sikap untuk memutuskan silaturrahmi de¬ngan¬nya. Bagaimana pendapat imam?” imbuhnya. Imam Ja’far ash-Shadiq menja¬wab, “Jika kamu menyambungkan silaturah¬mi, tetapi temanmu malah memutuskannya, maka Allah yang akan menyambungkan hubungan antara kamu dan temanmu. Namun jika kamu mengambil sikap untuk memutuskan silaturahmi, maka Allah akan memutuskan hubungan kamu dan dia.”

Kisah tersebut terjadi beratus-ratus tahun lalu, tetapi kejadian serupa sering terja¬di saat ini. Mungkin sering kita merasa kesal bahkan terkadang bersumpah untuk tidak mendatangi teman kita karena tidak menyu¬kai sikapnya. Kita sering tidak merasa salah jika tidak melakukan sesuatu, padahal perbuatan tersebut jika dilakukan akan mendatangkan kasih sayang Allah kepada kita. Begitupula kita sering merasa benar saat memutuskan silaturrahmi dengan orang berbuat salah atau membenci kita. Kita lupa ketika banyak manusia yang tidak beriman kepada Allah, Dia tetap memberikan rezeki. Begitupula ketika banyak orang membenci dan memusuhi Nabi Muhammad saw., beliau tetap berbuat baik dan bersilaturahmi. Mengapa di antara kita masih tidak mau melakukannya.

Sebenarnya silaturahmi dapat meman¬jangkan mal dan ‘amal. Maksudnya, jika se¬la¬lu bersilaturahmi, seseorang akan memi¬liki tambahan mal (harta) dan mem¬per¬banyak amal. Pernyataan tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa orang yang memperbanyak silaturrahmi akan mendapatkan rezeki.

Silaturahmi berasal dari kata Arab “Silaturrahiim” yang merupakan gabung¬an dari “shilah” (artinya: menyambungkan) dan “rahiim” (artinya: penyayang). Dari tata ben¬tukan kata tersebut, silaturahmi mengan¬dung pengertian suatu upaya menyambung kan kasih sayang. Dengan demikian ketika kita melakukan silaturahmi dengan seseorang termasuk yang tidak disukai, maka kita menebarkan kasih sayang kepadanya. Begitupula kita murnikan niat bersilaturahmi kita bukan untuk mendapat¬kan sesuatu yang sifatnya materi, tetapi mengharap kasih sayang Allah.

Islam adalah agama “rahmatan lil ‘aalamiin” yang artinya rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Maksudnya, agama Islam merupakan “software” bagi kehidupan seluruh alam dan akan menjadi rahmat jika diterapkan. Namun “rahmatan lil ‘aalamiin”-nya Islam tidak akan dirasakan jika umatnya tidak menebarkan kasih sayang. Dan di antara alat untuk menebar¬kan kasih sayang adalah silaturahmi. Jika tujuan silaturahmi adalah mene¬bar¬kan kasih sayang, maka wajar jika harus dilakukan walaupun kepada orang yang kita benci atau orang yang membenci kita. Mungkin dengan silaturahmi yang kita lakukan, seseorang yang membenci kita akan luluh hatinya. Begitupula bila kita selalu mengunjungi orang yang dibenci, akan muncul kasih sayang dalam diri kita terha¬dap¬nya. Jika dengan silaturahmi “rahmatan lil ‘aalamiin”-nya Islam dapat tersebar, apa salah bila kita bersilaturahmi terhadap penganut non-Islam? Siapa tahu Allah akan menumbuhkan hidayah kepada orang-orang yang membenci Islam. Begitulah yang terjadi ketika Allah menurunkan hidayah kepada penduduk Tha’if yang telah melem¬pari Nabi Muhammad saw, saat berdakwah.

Untuk menumbuhkan jiwa kasih sa¬yang dan ruh bersilaturahmi dalam diri, kita harus beriman, berilmu, dan beramal. Ukur¬an iman, ilmu, dan amal setiap orang tidak akan sama. Kewajiban bersilaturahmi tidak hanya ditunjukkan kepada orang yang tinggi kualitas iman, ilmu, dan amalnya, tetapi kepada semua, termasuk kita. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita terlalu mengandalkan orang datang kepada kita, tetapi mari kita datangi orang lain terlebih dahulu. Jika ada orang yang tidak mau menyambungkan silaturahmi, kita harus tetap melakukannya agar Allah mempererat hubungan kita. Allah-lah yang Maha Penga¬sih dan Penyayang dan Dia yang Maha menyam¬¬bung¬kan kasih sayang. Tidak akan ada orang yang sanggup menghalangi jika Allah berkehendak dua orang berkasih sayang. Begitupula tidak ada yang dapat menolak ketika Allah berkehendak memisahkan seseorang dengan lainnya.

AHMAD DIMYATI,
Editor Buku-buku Pelajaran

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: