Fatal Attraction

Oktober 9, 2007 pukul 1:21 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh JALALUDDIN RAKHMAT

DALAM Al-Quran dikisahkan tentang Yusuf yang berhasil menepis godaan Zulaikha. Karena keberhasilannya menghindari rayuan “maut”, fatal attraction, Tuhan menganugrahkan kepadanya bukan hanya kenabian tetapi juga kemampuan memahami takwil mimpi. Pandangannya melewati batas-batas dunia lahir dan menembus jauh ke alam batin.

Seperti Nabi Yusuf, seorang pedagang kain di sebuah pasar di Baghdad hampir saja jatuh pada jebakan setan. Pada suatu hari seorang perempuan cantik memilih-milih kain dan membeli banyak. Dengan pandangan menggoda, ia meminta pedagang kain itu untuk mengantarkan barang ke rumahnya. Setelah tokonya ditutup, ia bersiap-siap untuk mengantarkannya. Mengenang kecantikan perempuan itu, ia mengganti pakaiannya dan memercikkan wewangian pada tubuhnya. Dengan semangat berkobar, sebetulnya dengan nafsu yang menggelegak, ia berjalan menuju tujuannya. Di pertengahan jalan, seperti Yusuf, ia memperoleh kilatan cahaya, “melihat bukti dari Tuhannya”. Ia sadar bahwa ia sedang bergerak dikendalikan oleh hawanafsunya, digiring ke neraka seperti kerbau dicocok hidung. Ia dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan antaran barang itu ke rumah perempuan itu dan jatuh pada godaan atau membatalkan antaran itu dan tidak memenuhi janjinya untuk melayani pelanggan.

Ia memilih yang ketiga. Ia masuk ke dalam terowongan air kotor. Ia keluar dengan pakaian yang lusuh dan tubuh yang berbau busuk. Barang diterima, tetapi pemikul barang ditolak. Pedagang kain itu kembali ke tokonya dengan jiwa yang bersih dan roh yang harumnya semerbak. Tuhan menganugrahkan kepadanya kemampuan untuk menakwilkan mimpi. Ia menulis buku Takwil Mimpi, yang menjadi rujukan kaum muslim selama berabad-abad. Nama pedagang kain itu Ibnu Syirin.

Al-Ghazali bercerita tentang Sulayman bin Yasar, lelaki yang terkenal paling tampan di zamannya. Bersama sahabatnya, ia berangkat menunaikan ibadah haji. Di kota kecil yang namanya Abwa, mereka beristirahat. Setelah makan bersama, kawannya berangkat ke pasar untuk berbelanja. Sulayman duduk sendirian di kemahnya. Seorang perempuan badawi melihatnya dari atas bukit. Ia turun dan menghampirinya. Ia terpesona betul dengan ketampanan Sulayman. Ia berkata: Senangkan aku. Sulayman mengira perempuan itu menginginkan makanan. Ia berikan semua sisa makanan yang ada. Perempuan itu berkata: Aku bukan menginginkan makanan. Aku mau apa yang biasa dilakukan seorang lelaki pada istrinya. “Iblis telah mengutus kamu kepadaku!,” hardik Sulayman. Kemudian, ia meletakkan mukanya di antara kedua lututnya dan menjerit meraung-raung. Melihat itu, perempuan itu berlari kembali kepada keluarganya.

Ketika kawannya pulang, ia melihat mata Sulayman masih sembab dan ia masih terisak-isak. Kawannya bertanya tentang apa yang terjadi. Dengan berat, ia mengisahkan peristiwa perempuan Arab gunung itu. Akhirnya, keduanya menangis. Setelah sampai di Mekah, Sulayman melakukan tawaf, Sa’i, dan menyelesaikan umrahnya. Setelah itu ia pergi ke Hijir Ismail, duduk melonjor sampai kantuk memagutnya. Dalam mimpi ia melihat lelaki tinggi, yang luar biasa tampannya dan yang semerbak harumnya.

“Semoga Allah menyayangimu, siapakah Anda?”
“Saya, Yusuf”
“Yusuf Nabi yang sangat setia!”
“Benar”
“Dalam peristiwa kamu dengan istri menteri itu ada hal yang menakjubkan”
“Tetapi kejadianmu dengan perempuan Abwa itu lebih menakjubkan”

Walhasil, kemampuan Anda untuk mengendalikan seks dapat mengantarkan Anda pada kedudukan para Nabi. Rem dalam diri Anda yang kokoh menyelamatkan Anda dari bencana dalam perjalanan menuju Tuhan. Dalam posisi seperti itu, mata batin Anda akan menjadi lebih tajam, sehingga Anda mampu melihat ke alam malakut. Seperti dalam hadis berikut ini, Tuhan akan melindungi dan menolong Anda dalam saat-saat kesempitan.

Rasul Allah bercerita, “Ada tiga orang pada zaman dahulu melakukan perjalanan. Pada suatu malam mereka berlindung di dalam gua. Tiba-tiba runtuhlah bebatuan gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata: kalian tidak akan selamat keluar dari bukit ini kecuali kalau kalian berdoa kepada Allah dengan mengenang amal saleh kalian. Seorang lelaki di antara mereka berkata: Ya Allah, Engkau tahu dahulu aku punya ayah bunda yang tua-renta. Aku selalu memberikan minuman kepada mereka di malam hari sebelum keluargaku yang lain dan sebelum hartaku. Pada suatu hari aku terlmbat pulang karena mencari kayu bakar. Ketika aku sampai di rumah, kedua orangtuaku sudah tidur. Aku mengambil air susu untuk mereka; aku dapatkan mereka suadah tertidur dan tidak ingin memberikannya sebelum mereka kepada anak istriku. Begitulah berlangsung semalaman. Dengan cawan susu itu di tanganku, aku menunggu mereka bangun sampai terbit fajar dan anak-anakku kehausan di hadapanku. Ketika mereka bangun, keduanya meminum air susu itu. Ya Allah, jika Engkau tahu aku melakukannya karena mengharapkan ridoMu, bebaskanlah kami dari penjara bebatuan ini. Gua itu pun terbuka sedikit, tetapi tidak memungkinkan mereka semua keluar.

Yang berikutnya berkata: Tuhanku, Engkau tahu dahulu aku jatuh cinta sama saudara sepupuku perempuan. Aku mengajaknya berkencan, tetapi ia menolakku. Aku menderita karenanya selama satu tahun. Kemudian ia datang kepadaku dan kuberi dia seratus dua puluh dinar agar mau berkencan denganku. Ia menerimanya sampai ketika aku hampir melakukannya ia berkata; Takutlah kepada Allah, janganlah engkau menggauliku kecuali dengan haq. Aku lepaskan dia dan aku tinggalkan dia, padahal dia orang yang paling aku cintai. Aku tinggalkan uang emas yang kuberikan kepadanya. Ya Allah, jika aku melakukannya semata-mata karena takut kepadaMu, bebaskanlah aku dari tempat ini. Gua itu pun terbuka sedikit, tetapi tidak memungkinkan mereka semua keluar.

Berkata yang ketiga: Ya Allah, dahulu aku mempunyai pegawai yang selalu aku bayarkan gajihnya, kecuali seorang di antara mereka. Ia meninggalkan upahnhya yang merupakan haknya. Ia pergi begitu saja. Aku kembangkan upahnya itu sehingga menjadi kekayaan yang banyak. Selang berapa lama ia datang lagi padaku, “Hai hamba Allah, berikan upahku. Aku berkata: Semua yang kamu lihat itu berupa unta, sapi, kambing, dan budak, semuanya milikmu. Dia berkata: Wahai hamba Allah, jangan bermain-main denganku. Aku berkata: Aku tidak bermain-main, ambillah. Ia punmengambil seluruhnya dan tidak menyisakan sedikitpun. Ya Allah, jika aku melakukan semuanya itu karena mengharapkan ridoMu, lepaskanlah kami dari tempat ini. Terbukalah pintu gua itu dan semuanya keluar dengan selamat.” (H.S. Al-Bukhari).

Kisah Nabi saw melukiskan tiga orang yang berhasil mengendalikan hawa nafsunya. Orang pertama pasti sudah terdesak oleh kehausan dan kelelahan untuk minum. Ia tahan semuanya demi berkhidmat kepada ibu-bapaknya. Orang kedua sudah tentu telah dipenuhi gairah cinta untuk memuaskan nafsunya. Ia tinggalkan “mangsanya” karena takut kepada Allah. Orang ketiga jelas tergiur dengan kesempatan untuk memanfaatkan upah buruhnya untuk memperkaya dirinya. Ia tampik kesempatan itu demi mengharapkan rido Allah. Ketiga orang itu adalah wali-wali Allah, yang pasti dipenuhi doanya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: