Buku Terbaru Goenawan Mohamad: TUHAN DAN HAL-HAL YANG TAK SELESAI

Oktober 9, 2007 pukul 1:35 am | Ditulis dalam khazanah | 6 Komentar

Judul: TUHAN DAN HAL-HAL YANG TAK SELESAI
Penerbit: KataKita, Jakarta, September 2007
Tebal : 162 halaman
Harga : Rp 50.000.

Buku Goenawan Mohamad terbaru ini berupa 99 esei liris pendek yang berangkat dari aforisme, mengikuti jejak Percikan Permenungan karya Roestam Effendi di tahun 1930-an. Angka “99”, dengan berasosiasi kepada 99 nama Tuhan menurut tradisi Islam, juga mengesankan ketidak -selesaian.

Isinya pada umumnya merupakan eksplorasi saat-saat religious, pengalaman puitis, juga renungan tentang Tuhan, iman, kematian dan kekuasaan.

Dalam mengembangkan pemikirannya, Goenawan Mohamad mengolah dan mengritik percikan filsafat Eropa (Heidegger, Levinas, Derrida, Marion, dan Badiou, misalnya), dan filsafat Islam, khususnya, Ibn Sina, Al-Ghazali serta Ibn Rusdh. Ia juga memakai bahan-bahan dari sastra Jawa klasik. Salah satu eseinya menunjukkan persamaan Serat Cabolek (khususnya tentang pertemuan Bima dengan Dewa Ruci) dengan meditasi Cartesian tentang subyek.

Kutipan dari buku Goenawan Mohamad, “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”

**

Demak: Pada suatu hari yang mungkin tak sebenarnya terjadi di abad ke-16, dengan sabar sembilan orang wali mendirikan mesjid pertama di kota pantai utara Jawa ini. Beratus-ratus tahun kemudian cerita terus beredar, bahwa salah seorang dari mereka, Sunan Kalijaga, menyusun tiang mesjid di Demak itu dari tatal: serpihan kayu yang tersisa dan lapisan yang lepas ketika papan dirampat ketam.

Saya bayangkan dengan takjub: sebuah mesjid yang ditopang oleh yang terbuang, yang remeh dan yang tak bisa disusun rata — bukan sebuah rumah Tuhan yang berdiri karena pokok yang lurus dan kukuh, dengan lembing dan tahta..

**

Dari riwayat yang rusak, manusia membayangkan satu titik di depan yang sempurna. Titik itu seringkali jelas ditegaskan, tapi sebenarnya ia adalah, untuk memakai kata-kata Laclau, sebuah “penanda yang kosong”. Kekosongan ini bukan berarti sesuatu yang sepenuhnya negatif. Justru penanda itu begitu menggetarkan dan menggerakkan kita, dan lahirlah damba. Dengan damba itu kita membuat sejarah untuk mengisi penanda yang kosong itu dengan sesuatu yang bisa yang ditandai secara memadai.

Tak mudah dijelaskan dari mana datang ajektif dalam penanda kosong yang melahirkan dan menggerakkan damba itu — katakanlah nilai “adil” dalam kata-kata “masyarakat yang berkeadilan”. Mungkin sebab itu orang berbicara tentang wahyu. Cerita tentang wahyu adalah cerita saat manusia jadi makhluk yang terbatas: ia mengalami persentuhan dengan Yang Tak Terbatas. Ketika wahyu datang pertama kali, demikianlah kisah Nabi Muhammad yang kita dengar sejak kanak-kanak, ia terguncang, ketakutan, dan menutup diri dalam selimut. Kefanaan dipaparkan dalam hubungan dengan yang abadi.

**

Iman lebih kaya ketimbang kemurnian. Iman adalah bianglala yang semarak. Yang menghendakinya sebagai sehelai pembalut putih yang steril lupa bahwa manusia bukan cetakan tunggal mumi Adam di atas bumi. Bahkan tak ada mumi, juga dalam kotak kaca, yang tanpa sejarah, tanpa ketelanjuran kebudayaan.

Yang kekal selamanya saling membelah dengan bumi yang guyah.

**
Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah. Tiap masa selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa — yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan — mencoba menebak kehendak-Nya terus menerus. Di sana tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai.

Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang.

**

Tiap doa mengandung ketegangan. Doa selalu bergerak antara ekspresi yang berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin mengerti dan rasa takjub yang juga takzim. Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa bertingkah.

Bila ada agama yang memusuhi syair, itu karena ia lupa bahwa puisi juga sejenis doa. “Di pintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling”, tulis Chairil Anwar, antara lega dan putus-asa. Puisi, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa tapi juga sikap bersyukur yang tak diakui.

jurnalisme@yahoogroups.com

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. TUHAN DAN HAL-HAL YANG TERSELESAIKAN: Telah terbit untuk menjawabnya sesuah buku panduan:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 buah lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis otodidak penelitian terhadap kitab-kitab suci agama-agama oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. seru nggak untuk dibaca atau dikoleksi?

  3. tergelitik untuk mengomentari comment virlina : koq pertanyaanya seru untuk dikoleksi ya?, terdengar seperti : “seru nggak sih kl gue pake kacamata merk guess?” hihihi

  4. gunawan muhamad bersembunyi di semak, di puncak sana.aku tak kenal dia, tapi sangat akrab.

    sebelum dia mati, ingin kutemui dia.

  5. Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”

    I. Telah diserahkan hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai mendapat keputusan menerima atau menolak dengan hujjah, sebagaimana buku itu sendiri berhujjah.

    II. Telah dibedah oleh:
    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1990-2001.

    B. Prof. DR. Budya Pradiptanagoro, Penghayat Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FS Universitas Indonesia.

    C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Filsafat Universitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, anak paman Siti Hadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 melalui jibril (IQ).
    Pertanyaannya yang sulit untuk dijawab akan tetapi sangat logis untuk ditanyakan, adalah sebelum menerima wahyu Muhammad dan Siti Hadijah nikah dengan cara ritual agama apa dan mereka berdua beragama apa ?

    E. Disaksikan oleh 500 perserta seminar dan bedah buku dan diakhiri dengan sesi dialog tanya-jawab, yang apabila tidak dibatasi waktunya akan mengulur lama sekali disebabkan banyaknya gairah bertanya dari para hadirin.

    Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasioanl “dan kenagkitan agama-agama 1301-1401 hijrah) (1902-2001 masehi)”, diacara: Seminar & Bedah Buku hari/tanggal: Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Panca Sila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 mashei.

  6. Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    tersedia ditoko buku KALAM
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 62-21-8573388


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: