Halal, Bukan Hanya Sekedar Label

Oktober 8, 2007 pukul 5:21 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh MUHAMMAD ASEP ZAELANI

ADANYA globalisasi ekonomi melalui gagasan perdagangan bebas yang diprakarsai oleh WTO, IMF, Worl Bank dll, memungkinkan bagi perusahaan asing untuk melakukan ekspansi bisnis melintasi batas-batas budaya, adat istiadat dan wilayah teritorial dari sebuah Negara. Selain sektor pertambangan dan teknologi, salah satu sektor usaha yang terus gencar dalam meluaskan jaringan keberbagai belahan dunia adalah perusahaan makanan cepat saji (fast food). Dengan sangat leluasa, mereka bisa membuka cabang-cabang usahanya di berbagai Negara yang dinilai potensial untuk dijadikan sebagai market yang bisa mendatangkan banyak keuntungan. Dan dengan jumlah penduduk terbesar ke 5 didunia, Indonesia dijadikan sebagai salah satu dari targetnya itu.

Kapan sebenarnya industri fast food mulai menyerbu dan menancapkan kukunya di bumi pertiwi ini. Sulit bagi kita untuk menjawabnya. Yang jelas sekarang ini, kita tidak akan kesulitan untuk menemukan berbagai ragam makanan (berat, ringan dan minuman) cepat saji imporan dari luar, seperti KFC, McDonald, CFC, Starbucks, JCO, Breadtalk, Sprite, Fanta, Coca Cola dll. Dengan memakai system franchise/retail, jaringan mereka sudah ada hampir di seluruh kota (bahkan kabupaten) di wilayah Indonesia.

Melalui berbagai rekayasa yang sangat kreatif dan didukung oleh kekuatan modal yang besar, mereka mempromosikan setiap produknya agar keliatan menarik dan membawa prestise. Alam bawah sadar masyarakat Indonesia digiring dan dipaksa untuk berkiblat terhadap produk-produk mereka. Kita seakan merasa menjadi keluarga yang modern kalau setiap akhir pekan bisa mengajak seluruh anggota keluarga untuk makan bersama di restoran cepat saji. Kita seakan baru bisa menjadi orang gaul kalau suka nongkrong, ngerumpi, bahkan meeting dengan relasi sambil minum kopi di caffe starbucks. Kita seakan merasa menjadi orang yang sukses kalau bisa mudik lebaran sambil membawa oleh-oleh donat JCO atau roti breadtalk untuk dibagikan ke seluruh keluarga dan tetangga kita yang ada di kampung.

Super Size Me

Seorang pria bernama Morgan Spurlock mengadakan sebuah percobaan iseng. Ia adalah pria dewasa yang sehat, segar bugar, siklus hidupnya bagus, dan tidak memiliki masalah kesehatan yang berarti. Ia kemudian nekat mencoba untuk mengonsumsi junk food dari sebuah perusahaan makanan cepat saji yang cukup terkenal untuk membuktikan hipotesis bahwa junk food memberi ekses sangat negatif pada tubuh.

Sebelum melakukan percobaan, Morgan melakukan berbagai pemeriksaan klinis pada 3 dokter yang berbeda untuk mengetahui kondisi fisik dan psikisnya. Setelah itu, selama 30 hari berturut-turut ia hanya mengonsumsi junk food dari perusahaan tersebut, 3 kali sehari, dan setidaknya mencoba setiap menu yang ada minimal 1 kali. Selama periode tersebut, ia terus melakukan pemeriksaan medis. Walau demikian, aktivitas kesehariannya tetap ia lakukan seperti biasa.

Hasilnya ternyata sungguh di luar dugaan. Selama 30 hari, Morgan sering mengalami stress dan depresi, sesak nafas, pusing, sulit tidur, dan bahkan, pasangannya mengeluhkan adanya pengaruh buruk dalam kehidupan seksual dan vitalitas mereka. Selama 30 hari tersebut, Morgan mengalami kenaikan berat badan 24,5 pon, kadar kolesterol membengkak hingga 230, dan tingkat kegemukan sebesar 18%.

Lebih buruk lagi, untuk menghilangkan penambahan bobot sebesar 20 pon tersebut diperlukan waktu selama 5 bulan, dan 9 bulan lagi untuk menghilangkan sisanya. Pendek kata, kesalahan yang dilakukan hanya selama 1 bulan (baca: buying nothing but junk food) harus ditebus dengan pengorbanan selama beberapa bulan lamanya.

Cerita di atas adalah kisah nyata yang diambil dari film Super Size Me, sebuah film dokumenter karya Morgan Spurlock. Selain mengisahkan tentang percobaan nekat yang dilakukan Morgan, ada beberapa hal menarik yang diungkap juga dalam film tersebut.

Beberapa di antaranya:

* Amerika nggak cuma mempunyai gedung-gedung tinggi, mobil yang pajang, tetapi juga orang-orang “besar.” Sekitar 60% penduduk Amerika diyakini mengalami obesitas, dengan konsentrasi Detroit dan Houston (Texas).

* Gaya hidup dan makanan yang keliru tidak hanya dibayar dengan duit, tetapi juga harus ditebus dengan kondisi tubuh, kesehatan, dan risiko kematian.

* Dalam suatu percobaan, ditunjukkan beberapa gambar tokoh (termasuk George Washington dan Jesus Christ) kepada beberapa anak. Tidak banyak anak yang bisa menebak. Mereka semua baru bisa menebak dengan tepat ketika disodori gambar badut Ronald McDonald.

* Industri junk food telah berkembang dengan sangat pesat. Sebuah perusahaan fast food ternama, dalam 1 hari bisa melayani 46 juta orang; melebihi jumlah penduduk Spanyol.

* Lebih parah lagi, junk food juga digalakkan melalui school lunch program.


Fatwa haram

Menurut hemat saya (dan temen-temen boleh untuk setuju dan boleh juga untuk tidak setuju), permasalahan utama yang sedang dihadapi oleh masyarakat konsumen Indonesia bukan hanya sekedar permasalahan label halal atau haram yang dilihat dari aspek bahan baku dan proses pembuatannya saja. Jauh diatas itu semua kita membutuhkan sebuah mekanisme perlindungan yang efektif untuk membentengi masyarakat dari serbuan produk-produk makanan “imporan” tadi. Sudah seharusnya pemerintah dan MUI mulai berani untuk tidak memberikan fatwa halal pada produk-produk tersebut. Kalaupun belum berani kearah sana minimal memberikan fatwa subhat yang lebih baik untuk dihindari dan ditinggalkan. Kita butuh sebuah fatwa yang juga menjadikan aspek madharat yang akan ditimbulkan sebagai salah satu bahan pertimbangannya. Karena produk makanan tersebut tidak hanya berbahaya untuk kesehatan, akan tetapi cepat atau lambat akan mengikis identitas kita sebagai sebuah bangsa besar yang kaya akan ragam jenis makanan asli Indonesianya.

Mumpung masih bulan Ramadhan. Ada baiknya kita banyak-banyak introspeksi. Biarlah kita dikatakan orang kampungan karena masih suka makan ikan asin, sayur asem plus sambal dengan lalapan pete atau jengkol. Biarlah kita dianggap orang yang kolot ketika kita memilih untuk makan di restoran padang, warung ampera, gudeg jogya, sate madura atau soto bandung. Kita tidak perlu malu untuk mengonsumsi tahu, tempe, atau daun singkong, sementara teman-teman kita makan di restoran fast food. Kita tidak perlu malu untuk tetap menjadi orang Indonesia asli. Semoga bermanfa’at.

MUHAMMAD ASEP ZAELANI,
Karyawan PNM Bandung dan alumni Pesantren Daarut Tauhiid Bandung

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: