Bangun Spiritualitas Menuju Muslim Tangguh

Oktober 4, 2007 pukul 1:45 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh Dr. H. AFIF MUHAMMAD, M.A.

JUMAT, tanggal 17 Ramadan, pagi hari, pasukan Muslim yang dipimpin Rasulullah saw. berhadapan dengan pasukan musyrikin Quraisy, di suatu tempat di sebelah barat daya Madinah. Tempat itu bernama Badr, sebuah pangkalan air yang sangat terkenal, tak seberapa jauh dari pantai Laut Merah. Perang besar pun terjadi dan pasukan Muslim yang berjumlah 314 orang dengan persenjataan minim, berhasil mengalahkan pasukan musyrikin Quraisy yang berjumlah 1.000 orang lebih dengan persenjataan lengkap.

Peristiwa ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kekuatan fisik dan keunggulan sarana material belum merupakan jaminan bagi tercapainya kemenangan dalam perjuangan dan bahwa di situ terdapat faktor nonfisik dan nonmaterial yang juga menentukan keberhasilan perjuangan, yakni faktor moral-spiritual. Adalah benar bahwa persenjataan dan perlengkapan yang besar adalah penting bagi suatu perjuangan, bahkan ada sebagian orang mengatakan bahwa jika peralatan dan sarana yang kita miliki lengkap, itu berarti separuh kemenangan. Benar sekali, “separuh” kemenangan, dan tidak ada yang pernah berani menyebutnya “pasti menang”.

Akan tetapi, hendaknya di sini cepat-cepat dicatat bahwa dengan mengakui faktor moral dan spiritual sebagai faktor yang sangat menentukan dalam perjuangan, tidak berarti bahwa Islam meremehkan faktor fisik-material. Islam sangat memandang penting usaha manusia yang berkaitan dengan kelengkapan-kelengkapan fisik-material. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedangkan Allah mengetahuinya.” (Q.S. Al-Anfal, 8:60). Dengan demikian, Islam menempatkan kedua faktor tersebut sebagai faktor-faktor yang berdiri sejajar, tanpa ada salah satu di antaranya yang dipandang sangat penting seraya mengorbankan yang lainnya.

Haruslah diingat pula bahwa tesis tersebut tidak hanya berlaku pada perjuangan dalam bentuk perang, tetapi berlaku pula dalam bidang-bidang lain, misalnya pendidikan, olah raga, dan bisnis. Dalam bidang bisnis, faktor moralitas dan spiritualitas seperti kerja keras, jujur, terpercaya, percaya diri, dipandang sebagai kunci-kunci utama yang menentukan keberhasilan. Sementara itu, dalam ukuran suatu bangsa, moral seperti itu acap kali disebut sebagai nasionalisme dan patriotisme.

Berdasarkan tesis tersebut, kita semua dituntut untuk tidak pernah menyerah ketika kita berada dalam posisi “kurang memiliki sarana fisik-material”. Kita tetap harus berusaha semaksimal yang dapat kita lakukan dengan menggunakan sarana dan peralatan apa pun yang kita miliki. Insya Allah dengan usaha keras yang ditopang oleh kekuatan moral-spiritual, energi kita akan menjadi berlipat ganda, dengan itu pula Allah akan menganugerahkan pertolongan-Nya kepada kita, seperti yang dijanjikan-Nya dalam Alquran ayat berikut, “Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh (berjihad) untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesunggungnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S., Al-‘Ankabut, 29:69).

Bulan Ramadan adalah bulan yang menyadarkan kita tentang pentingnya spiritualitas. Dengan menahan lapar dan dahaga, secara logis tubuh kita akan menjadi lemah. Akan tetapi,pada saat kondisi fisik melemah, kita justru didorong untuk melaksanakan ibadah lebih dari yang kita lakukan di luar bulan Ramadan; tadarus, tarawih, zikir, dan bersedekah. Semua itu dilakukan selama satu bulan penuh. Dengan itu semua, kita seakan-akan menjalani suatu training spiritual, dan sesudah itu menjadi orang-orang yang bermental kuat dan bermoral tinggi; tidak mudah guncang menghadapi godaan, tidak gampang menyerah menghadapi kesulitan, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dewasa ini kita sering membaca betapa rendahnya kualitas SDM bangsa kita dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya, dan kriterianya hampir semuanya berkaitan dengan moralitas. Kalau kekalahan ini juga disertai kekalahan dalam bidang teknologi (fisik-material), berarti kita kalah di dua sektor sekaligus. Mudah-mudahan puasa yang kita jalani dari tahun ke tahun akan semakin meningkatkan moralitas dan spiritualitas kita, sehingga kita menjadi Muslim yang tangguh dalam menghadapi berbagai persaingan, kesulitan, dan tantangan.

Dr. H. AFIF MUHAMMAD, M.A.,
Pembina Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman [LPIK] dan Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

HU.Pkiran Rakyat, Kamis, 04 Oktober 2007

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.