Mati Syahid

Oktober 2, 2007 pukul 12:55 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar


Oleh JALALUDDIN RAKHMAT

TULISAN ini saya mulai dengan penyampaian takziah sedalam-dalamnya kepada bunga-bunga Ibu Pertiwi yang telah gugur sebelum mekar karena kecintaan mereka kepada kebenaran dan keadilan. Kita percaya bahwa arwah mereka yang suci telah dijemput para malaikat dan ditempatkan di sisi Allah pada tempat yang sebaik-baiknya.

Saya ingin mengajak para pembaca kembali kepada suatu peristiwa yang terjadi pada 1356 tahun yang lalu. Peristiwa yang bisa kita sebut sebagai demonstrasi menentang kezaliman itu berlangsung di tengah-tengah padang pasir kira-kira beberapa kilometer dari kota Kufah. Ada rombongan kecil yang tergesa-gesa menyele-saikan ibadah haji mereka, hanya karena mereka memperoleh undangan penduduk Kufah untuk melakukan reformasi politik di dunia Islam. Pemimpin rombongan adalah cucu Rasul saw, Al-Husein as.

Pada waktu itu, dunia Islam baru saja berada pada akhir Rezim Baru. Rezim Lama adalah rezim para Khulafâur Râsyidîn, yang berakhir pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib kw. Itulah rezim yang menegakkan keadilan yang memihak rakyat dan mendahulukan orang-orang yang tertindas. Pada rezim sebelumnya, dunia Islam diperintah oleh orang-orang seperti Abu Bakar Shiddiq, yang setelah menjadi khalifah masih diketemukan orang berjualan di pasar karena tidak ingin memperoleh pendapatan dari jabatannya sebagai pemimpin negara. Rezim Lama juga ditandai oleh Umar bin Khattab, yang pernah berkata kepada rakyatnya dengan suara keras, “Demi Allah, sekiranya di dalam pemerintahanku ada seorang rakyat yang kehilangan kambingnya, Umar bin Khattab tidak akan pernah bisa tidur sebelum ia mengembalikan kambing itu kepada pemilik-nya.”

Rezim Lama ialah rezimnya Ali bin Abi Thalib, yang dipuji Rasul sebagai “Bapak Fakir Miskin”. Inilah Ali yang datang ke gudang negara, kemudian melihat tumpukan emas dan perak seraya berkata, “Hai Kuning dan hai Merah, tipulah orang selain aku.” Inilah Ali yang ketika memegang pemerintahan, ketika ia menjadi Presiden, Amirul Mukminin, ia membagikan kekayaan negara dengan cara yang seadil-adilnya.

Suatu saat Aqil, saudara tua Ali, meminta bagian yang lebih banyak. Ali berkata kepadanya, “Kalau engkau ingin harta yang lebih banyak, berangkatlah kamu datangi toko-toko itu dan ambil harta-harta mereka.” Aqil bertanya, “Apakah engkau menyuruhku merampok harta orang lain?” Ali segera menjawab, “Dengan permintaan fasilitas yang kau lakukan, engkau sebetulnya menyuruh aku merampok harta kaum muslimin.”

Inilah Ali yang tidak pernah memejamkan matanya setiap malam karena memikirkan penderitaan kaum muslimin di sekitarnya. Inilah Ali yang dipuji Nabi saw sebagai pembela fakir miskin, yang kelak gugur di mihrabnya karena kecintaannya kepada keadilan. Inilah Ali yang perlahan-lahan ditinggalkan sahabatnya seorang demi seorang hanya karena ia tidak mau memberi-kan fasilitas tambahan kepada keluarga dan kawan-kawan dekatnya. Ali dibunuh oleh para sahabatnya ketika shalat subuh pada tanggal 19 Ramadhan tahun 40 Hijriah.

Orde lama yang diperintah oleh Khulafâur Râsyidîn, kemudian digantikan oleh Orde Baru yang diperintah oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Abu Sufyan adalah penentang Nabi saw sejak awal dan baru masuk Islam pada Hari Kemenangan Rasulullah saw. Khittah Abu Sufyan dilanjutkan oleh Muawiyah. Abul A’la Al-Maududi, dalam bukunya Al-Khilâfah wa Al-Mulk, mencerita-kan karakteristik pemerintahan orde baru Muawiyah sebagai berikut:

1. Pemerintahan ditegakkan diatas nepotisme. Negara ditegakkan di atas asas kekeluarga-an. Makin dekat dengan pemimpin kekua-saan, makin banyak hak-hak istimewa yang diperolehnya.

2. Pemerintahan ditegakkan di atas pelecehan hak-hak rakyat.

Muawiyah memerintahkan para ulama untuk mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. Karena Ali, walaupun sudah meninggal dunia, dianggap punya pengaruh yang besar terhadap kaum muslimin. Ada suatu mesjid di Kufah. Di sana terdapat serombongan orang yang tidak mau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Muawiyah lalu mengerahkan pasukannya untuk menangkapi orang-orang di mesjid itu. Sebagian orang ditebas tangannya dan sebagian lagi dikubur hidup-hidup hanya karena tidak mau mengecam Ali bin Abi Thalib.

Muawiyah membangun istana yang megah. Salah seorang sahabat Nabi, Abu Dzar Al-Ghifari, jengkel melihat betapa rakyat sengsara sementara Muawiyah membangun istana. Setiap hari Abu Dzar berteriak di depan Muawiyah dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbunyi, “Orang-orang yangmenumpuk emas dan perak, kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah, gembira-kanlah mereka dengan azab yang pedih” (QS. At-Taubah 34). Akhirnya Muawiyah tidak tahan dan menganggap Abu Dzar sebagai penghasut massa.

Satu saat Abu Dzar berteriak di pasar di hadapan rakyat kecil di sekitarnya. Abu Dzar berkata, “Saya heran melihat mereka yang hidup kelaparan, tetapi tidak membawa pedang-pedang mereka dan mendatangi orang-orang kaya itu untuk mengambil harta mereka.” Abu Dzar ditangkap, diikatkan ke dalam punggung unta, dan dikembalikan ke Madinah.

Pada akhir pemerintahannya, Muawiyah meninggal dunia. Bagaimana pun ia menjaga kekuasaannya, usia tuanya tetap tidak dapat ia pertahankan. Dia digantikan oleh anaknya, Yazid bin Muawiyah. Anaknya pun meneruskan perjuangan bapaknya untuk menegakkan kekuasaan di atas nepotisme, penindasan, dan perampasan hak-hak rakyat kecil.

Pada zaman itulah, 1356 tahun yang lalu, berangkat serombongan kecil orang untuk menentang kezaliman. Rombongan itu dipimpin oleh Al-Husein. Ia berangkat karena ia menemukan ulama-ulama sudah tidak lagi bicara tentang kebenaran. Mereka malah menggunakan mimbar-mimbar untuk membenarkan kezaliman. Ia berangkat karena ia tidak menemukan lagi para cendekiawan yang mampu menceritakan kenyataan. Ia berangkat karena menemukan begitu banyak orang yang menjajakan kepalsuan. Ia ingin tunjukkan bahwa pemerintahan waktu itu ialah pemerintahan yang zalim. Ia ingin menunjukkan kebenaran, demonstrate the truth. Sekarang kita sebut demonstrasi. Berangkatlah Al-Husein. Sampai di suatu padang pasir, datanglah pasukan pemerintah dalam jumlah banyak yang dipimpin oleh seorang prajurit bernama Al-Hurr yang mendesak para demonstran ini kembali ke tempat semula.

Tanggal 9 Muharram mereka ter-desak, dijauhkan dari sumber air minum. Mereka berkemah di situ dalam keadaan lapar dan dahaga. Saya tidak akan merinci peristiwa ini yang kemudian dilupakan orang. Orang berusaha melupakan karena bila peristiwa ini dikenang, maka semangat untuk menegakkan keadilan akan bangkit sepanjang sejarah. Para penguasa di mana pun berkepentingan agar semangat ini tidak pernah tumbuh. Oleh sebab itu, mereka membungkam siapa saja yang mau menceritakan peristiwa ini. Sebagai gantinya, kepada kita diajarkan sesuatu yang dapat melumpuhkan semangat perjuangan sama sekali, yaitu kepercayaan kepada takdir bahwa apa pun yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan Allah swt. Bahkan kekuasaan pun ditentukan Allah. Sehingga kalau kita ditindas, hal ini juga merupakan kehendak Allah dan kita harus menerima kehendak Allah itu dengan seluruh kepasrahan. Karena muslim seperti itulah yang mereka katakan sebagai muslim yang sejati. Mereka menafsir-kan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai kepentingan itu, Misalnya, “Katakanlah: Ya Allah, Engkaulah pemilik segala kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapa saja yang engkau kehendaki dan Engkau ambil kekuasaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Pada tangan-Mu ada kebaikan” (QS. Ali Imran 26). Saya tidak bermaksud menolak ayat ini, yang saya tolak ialah penafsiran ayat ini untuk membenarkan penindasan dan bahwa penindasan itu ialah kehendak Allah swt.

Ketika ada orang-orang yang menentang penindasan itu, segera mereka dituduh sebagai penolak takdir yang tidak mau menerima ketentuan Allah swt. Bahkan pemberontakan sekelompok kecil ini, yang masih memiliki hati nurani dan kebenaran, disebut oleh para ulama sebagai Bughat yang berarti tindakan melawan kekuasaan yang sah. Hukum melakukan tindakan ini sama dengan kafir. Sampai Imam Husein as disebut kafir hanya karena dia ini menentang kezaliman.

Saya ingin memfokuskan pada satu peristiwa saja. Yaitu pada pemimpin pasukan pemerintah yang bernama Al-Hurr. Kata Al-Hurr berarti sang merdeka, Mr. Freedom. Al- Hurr inilah yang menghalangi rombongan Al-Husein dan mendesak sampai ke satu tempat di mana terjadi peristiwa Sepuluh Muharram. Al-Hurr mendapat bantuan pasukan tambahan dengan jumlah yang lebih banyak dipimpin oleh seorang jenderal bernama Umar bin Sa’ad.

Al-Hurr melihat rombongan itu benar-benar mau membunuh cucu Rasulullah saw. Ia melihat kepada rombongan Al-Huseinsegelintir demonstran yang berada dalam kehausan. Ia melihat pasukan Ibnu Sa’ad yang merintangi mereka untuk memperoleh seteguk air minum. Al-Hurr bingung. Ia harus memilih di antara dua pilihan, mendukung perjuangan Imam Husein betapa pun lemah-nya mereka, atau ia tetap harus berpihak pada janjinya sebagai prajurit yang harus taat kepada atasan. Lalu ia bertanya kepada Ibnu Sa’ad, “Wahai putra Sa’ad, apakah betul kalian akan membunuh mereka ini, orang-orang yang tidak bersalah, yang dosanya hanya karena ingin mengungkapkan kebenaran?” Lalu Ibnu Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku akan bantai mereka. Walau-pun tangan-tangan berjatuhan dan kepala-kepala bergeletakan.”

Waktu itu Al-Hurr tersentak, tiba-tiba ia menghentakkan sanggur di kudanya menuju rombongan Al-Husein. Begitu tiba di hadapan Imam, Al-Hurr turun dari kudanya seraya merebahkan diri bersujud di kaki Husein. “Wahai cucu Rasulullah, inilah aku si Jahat yang menggiringmu sampai ke tempat ini. Tadi aku dihadapkan kepada dua pilihan antara surga dan neraka. Demi Allah, aku tidak akan mendahulukan apa pun di atas surga. Apakah masih ada maaf bagiku, wahai putra Rasulullah?” Al-Husein memandangnya dan berkata, “Insya Allah, Allah akan meng-ampunimu.” Al-Hurr berkata, “Kalau begitu, izinkan aku sekarang mempersembahkan nyawaku untuk menebus dosa-dosaku. Hari ini aku telah memutuskan untuk memihak kebenaran.” Kemudian Al-Husein mengusap wajah Al-Hurr dan berkata, “Engkau seperti nama yang diberikan ibumu, Engkau adalah Al-Hurr, Sang Merdeka.” Al-Hurr memilih kemerdekaan hati nuraninya daripada kedudukannya sebagai pemimpin pasukan. Ia meninggalkan pasukannya karena ia tahu pasukannya dikirim untuk menghancurkan para pejuang keadilan. Ia lalu bergabung dengan para pejuang keadilan. Pada 1356 tahun yang lalu, yang pertama kali gugur di padang Karbala ialah prajurit yang memilih hati nuraninya ketimbang perintah atasan-nya.

Banyak orang kecewa dan sedih dengan kejadian di Universitas Trisakti. Tapi hendaknya kita ingat juga, bahwa di antara para prajurit di sekitar kita itu, ter-dapat banyak Al-Hurr, yang insya Allah akan memilih hati nuraninya. Mereka tahu bahwa yang diperjuangkan oleh Husein-Husein baru adalah perjuangan untuk kepentingan rakyat. Mereka tidak berjuang untuk sebuah konsep. Karena untuk apa mereka merumuskan konsep yang memerlukan satu Pelita lagi dan reformasi hanya bisa dilaksanakan tahun 2003?

Permintaan para mahasiswa adalah permintaan sederhana yang dirumuskan dengan kata yang singkat saja, yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan. Lalu, kalau ada orang yang bertanya, “Bukankan menegakkan keadilan dan kebenaran itu terlalu abstrak?” Coba rumuskan lebih terperinci. Jika kita rinci, banyak orang akan tersinggung. Untuk menghindari itu, kita berbicara pada dataran yang sangat abstrak. Keadilan bukanlah masalah filosofis untuk dipikirkan, keadilan adalah sesuatu yang bisa dirasakan oleh hati nurani setiap orang. Kita tidak memerlukan definisi keadilan. Kita memerlukan kepekaan hati nurani.

Tanyakan kepada para petani yang dirampas tanahnya untuk dijadikan lapangan golf, “Apa definisi keadilan?” Tidak seorang pun yang dapat mengatakannya. Tapi mereka dapat merasakannya. Keadilan bukanlah something to think about, keadilan ialah something to feel about. Keadilan bukanlah a matter contemplation, melainkan a matter of emotion, feeling, and conscience.

Jadi, saya hanya memohon kepada kita semua untuk menelan pil sabar. Para prajurit-prajurit itu juga sama dengan kita, orang-orang kecil yang harus berhadapan dengan anak-anak kita sendiri. Bahkan harus berhadapan dengan hati nurani mereka sendiri. Anda harus membayangkan betapa hancurnya hati mereka sebetulnya. Ketika mereka berhadapan dengan Anda. Sekiranya Anda mampu melihat lebih tajam, Anda akan lihat gelegak air mata mereka yang sebetulnya tidak rida melakukan penindasan terhadap Anda. Mereka tahu bahwa Anda juga berjuang untuk kepentingan mereka. Sekali lagi, saya mohon kita semua bersabar dan marilah kita berdoa supaya di antara mereka, muncul Al-Hurr-Al-Hurr baru, sang kemerdekaan yang memilih untuk memihak hati nuraninya.

Mereka adalah saudara-saudara kita, air mata kita adalah air mata mereka juga. Kita juga berduka cita bukan hanya untuk mahasiswa Trisakti, tapi juga buat aparat yang meninggal karena dipukuli massa. Kalau orang meninggal dunia dalam upaya mene-gakkan keadilan, menegakkan hati nurani-nya, di dalam Islam di sebut Syahid. Di dalam bahasa Arab Syahida berarti menyaksikan.

Dalam Al-Qur’an kaum Muslimin disebut sebagai Syuhadâ ‘Alan Nâs, yang harus menjadi saksi-saksi kebenaran di tengah-tengah manusia. Seorang yang mati syahid adalah seorang yang menjadi bukti dari kecintaan kepada kebenaran. Dengan kata lain kebenaran itu hanya dapat disaksikan melalui darah yang dicurahkan.

Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi tentang syahid. Dalam Islam, orang yang syahid disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa mereka itu tidak mati. Al-Qur’an mengulang hal ini dua kali. Pertama dalam surat Al-Baqarah dan kedua dalam dalam surat Al-Imrân. Allah berfirman: “Jangan kamu kira orang-orang yang dibunuh di jalan Allah itu mati, mereka hidup di sisi Allah dan diberi rezeki” (QS Ali Imrân 169).

Seluruh ulama sepakat bahwa kematian orang yang syahid berbeda dengan kematian kita semua. Kalau kita mati, kita pindah ke alam Barzakh dan menunggu hari kiamat dalam penantian panjang yang mengerikan —atau membahagiakan sesuai dengan amal-amal yang kita lakukan. Orang yang mati syahid tidak mengalami penantian yang panjang seperti itu, mereka berada di alam yang lain dan tetap diberi rezeki. Berdasarkan beberapa hadits, orang yang mati syahid diberikan hak untuk berkunjungmenziarahi keluarganya, bahkan bisa berdoa untuk kesejahteraan keluarganya. Pada hari kiamat, orang-orang yang mati syahid diberikan hak oleh Allah untuk memberikan syafa’at kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 154, Allah swt berfirman: “Janganlah kamu berkata kepada orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, mereka itu hidup tapi kalian tidak merasakannya.” Kebahagiaan seperti itu diberikan kepada para syuhada, karena para syuhada itu telah menyiramkan darahnya di taman sari umat Islam agar di atasnya mekar bunga-bunga keadilan dan kebenaran.

Berikut ini hadits-hadits tentang keutamaan mati syahid;

1. “Pada setiap kebaikan itu, ada kebaikan yang lebih utama dari itu. Sampai seseorang terbunuh di jalan Allah, tidak ada kebaikan yang lebih baik daripada kematian seperti itu.”

2. “Tak ada tetesan yang paling dicintai Allah selain dua tetesan. Tetesan darah di jalan Allah dan tetesan air mata yang jatuh dalam kegelapan malam dari seorang hamba yang tidak mengharapkan apa-apa kecuali rida Allah.”

3. Pada peristiwa perang Uhud banyak sekali di antara para sahabat Rasulullah yang terbunuh, di antaranya ayah dari Jabir. Kemudian Rasulullah berkata menghibur Jabir, “Sesungguhnya Allah tidak pernah bicara kepada seseorang pun kecuali lewat tirai, tetapi Allah berkata kepada bapakmu secara langsung. Allah berkata kepada bapakmu, “Mintalah sekarang kepadaku, Aku akan beri permintaanmu.” Kemudian bapakmu berkata,”Aku mohon kepada-Mu Ya Allah, Engkau kembalikan lagi aku ke dunia supaya aku berjihad dan terbunuh lagi.”

4. “Tidak seorang pun yang masuk surga ingin kembali lagi ke dunia ini atau memperoleh sesuatu di dunia, kecuali orang yang syahid, karena ia berharap kembali lagi ke dunia ini dan terbunuh lagi puluhan kali, karena kemuliaan Allah yang diberikan kepada mereka.”

. Terakhir saya ingin mendefinisikan siapa saja yang syahid dan bagaimana yang mati syahid itu. Dalam hadits yang diriwayat-kan oleh Bukhari dan Muslim, “Siapa yang berperang dan terbunuh untuk mendekatkan kalimat Allah, maka dia termasuk orang yang mati syahid.” Lalu apa yang di maksud dengan kalimâtullâh? Menegakkan kebenaran adalah menegakkan kalimat Allah, dan siapa saja yang menegakkan kebenaran kemudian terbunuh, dia mati syahid. “Jihad yang paling utama adalah kau katakan kebenaran di depan hadapan penguasa yang zalim.” Menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang adil adalah termasuk jihad, tapi risikonya kecil malahan akan disambut “Alhamdulillah, masih ada orang seperti orang seperti kamu.” Ketika Umar bin Khattab menjadi presiden, dia meminta penduduk untuk membenarkan kelakuannya yang salah. Kemudian salah seorang berdiri mencabut pedangnya dan berkata, “Kami akan mendukung engkau kalau engkau membela kebenaran dan kami akan mem-betulkannya dengan pedang ini, kalau engkau berbuat salah.” Umar tidak menangkap orang itu, bahkan dia memeluknya. Jadi, berbicara kebenaran di depan penguasa yang zalim adalah jihad yang paling utama, dan mati karena mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim itu adalah mati syahid. Karena itu, saya tidak henti-hentinya mengatakan bahwa mahasiswa Trisakti yang gugur itu sebagai orang yang mati syahid.

Di dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hak-hak keluarganya yang dizalimi, dia termasuk mati syahid.” Hadits yang lain, “Barangsiapa yang terbunuh karena ingin mengambil hartanya yang dirampas oleh orang lain dengan zalim, ia juga mati syahid.” Hadits yang ketiga, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela kepentingan tetangganya yang dizalimi, ia termasuk mati syahid.” Nabi juga bersabda, “Siapa yang terbunuh karena membela agama Allah, ia pun mati syahid.” Dengan penuh keyakinan saya katakan bahwa para mahasiswa yang gugur itu termasuk orang yang mati syahid, karena mereka membela kepentingan saudara-saudara mereka, tetangga-tetangga mereka yang sangat menderita.

Lantas, kezaliman apa yang sudah dilakukan oleh penguasa di Indonesia ini? Saya yakin kita semua sudah tahu.

TULISAN ini pernah disampaikan di Radio Ganesha, tanggal 13 Mei 1998. Sumber Buletin al-Tanwir Nomor 116 Edisi 25 Mei 1998, Yayasan Muthahhari Bandung

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: