Meraih Kemuliaan Malam Seribu Bulan

Oktober 1, 2007 pukul 8:45 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Alquran surat Al-Qadr menjelaskan sebuah keistimewaan. Pada bulan Ramadhan, Allah SWT menurunkan satu malam yang sangat mulia. Begitu mulianya, sampai-sampai Allah menggambarkan malam tersebut dalam Alquran, nilainya lebih dari seribu bulan. Itulah malam Lailatul Qadar.

Kemuliaan tadi tak lepas karena pada malam itulah awalnya Alquran diturunkan. Selain juga lantaran begitu banyak anugerah dijatuhkan pada malam qadar itu. “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan dan kedamaian sampai terbit fajar.” (QS.al-Qadr: 4-5).

Hadis shahih meriwayatkan malam Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”Dan memang tidak ditentukan kapan tepatnya. Ini dimaksudkan supaya kita sungguh-sungguh berupaya menggapainya,” ungkap Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin ketika dihubungi per telepon.Di samping itu, lanjutnya, setelah selama dua puluh malam umat membersihkan jiwa dari perbuatan munkar, maka Lailatul Qadr diharapkan menjadi klimaksnya. Segala amalan dan doa bagi Allah SWT yang dilakukan di malam tersebut bakal memperoleh pahala senilai 1.000 bulan.

Namun adakah tanda-tanda datangnya malam mulia tersebut? Menurut Ma’ruf Amin, hal itu tidak disebutkan secara eksplisit dalam Alquran. Akan tetapi, sejumlah hadis (walau dinilai kurang sahih) mengurai adanya tanda-tanda alam.

Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka’ab, sebagai berikut,”Tanda kehadiran Lailatul Qadar adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.”

Sementara Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,”Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas.” Sungguh suasananya lain dari biasanya. Oleh karenanya amat dianjurkan kepada umat Muslim untuk memperbanyak ibadah pada malam lailatul qadr. Demikian yang dilaksanakan oleh Rasulullah, imbuh dia, bahwa pada 10 malam terakhir Ramadhan, beliau senantiasa berada di masjid untuk beritikaf, merenung sambil berdoa dan memperbanyak membaca Alquran.

“Lailatul Qadar merupakan kekhususan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu persiapkan diri menyambut malam mulia ini,” kata Ma’ruf Amin. Pada bagian lain, Anggota Dewan Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih, Prof Dr H Muardi Chatib, menjelaskan bahwa Lailatul Qadar sebagai malam berpahala seribu bulan, sebenarnya adalah kalimat motivasi guna mendorong umat berlomba mencari kemuliaan Allah SWT. Bila dirunut,
imbuhnya dengan nada tanya, makna kalimat 1000 bulan itu apanya? Nilainya.

”Nilai dari apa? Pahala ibadah. Jadi dengan kata lain, di balik keutamaan tadi, ada pesan yang ingin disampaikan oleh Allah yakni supaya umat senantiasa beribadah kapan pun saja, dengan malam qadr sebagai puncaknya,” jelasnya.

Dia menekankan, tak mudah untuk meraih Lailatul Qadar. Butuh kesabaran, kemauan, motivasi, dan kehendak beribadah yang kuat. Ada kalanya, seseorang yang sudah berkali-kali mencari malam qadar dengan beriktikaf, justru belum pernah memperolehnya. Sebaliknya, ada orang yang baru pertama kali mencari, langsung bertemu. ”Karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang mengetahui.” Karenanya, kata dia, tak usah menebak-nebak kapan malam qadar itu datang. ”Jalani saja ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan khusyuk. Insya Allah hidayah Allah akan diperoleh,” ujarnya kemudian.

Dihubungi terpisah, Sekum Dewan Kemakmuran Masjid Indonesia, Drs H Ahmad Yani juga menyatakan, tidaklah mungkin bagi seseorang menyatakan bahwa dirinya telah memperoleh lailatul qadr atau tidak karena hal itu sepenuhnya rahasia Allah SWT. Namun umat dalam kaitan tersebut, diharapkan menjadi lebih dekat kepada Allah sepeninggal bulan Ramadhan. Karena tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka amat dianjurkan agar beriktikaf. Salah satu pengisi iktikaf adalah tadarus Alquran. “Tadarus juga jangan sekedar membaca Alquran melainkan bagaimana mempelajari kandungan isi Alquran,” papar Ketua Lembaga Dakwah Khairu Ummah ini.

Menanti Lailatul Qadar, kata dia, juga merupakan saat yang baik untuk bermuhasabah, berintrospeksi diri. ”Seseorang mestilah merenungi kembali dosa-dosa yang mungkin pernah dilakukan untuk kemudian memohon ampunan Allah SWT.” Walau begitu, ada makna tersirat di sini. Terkait turunnya Alquran pada malam suci ini, Muardi Chatib berpesan hendaknya umat memperhatikan keutamaan Alquran. Dia berpendapat, Alquran sebagai hidayah serta petunjuk kepada manusia untuk menggunakan fasilitas yang diberikan Allah, termasuk akal.

Sehingga dengan Alquran sebagai pegangan, diharapkan umat manusia tidak akan tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia dan akherat kelak. “Aktualisasikan Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Itu hikmahnya,” ujar Muardi Chatib.

Ma’ruf Amin juga membenarkan, pemberian anugerah malam Lailatul Qadr memiliki tujuan yang lebih penting, yakni agar umat selalu berpedomankan Alquran.”Semenjak turunnya Alquran, terjadi perubahan mendasar terhadap kehidupan manusia. Dari sebelumnya hidup tanpa tuntunan menjadi berpedoman kepada Alquran,” imbuh dia lagi.

Dia tidak menampik kenyataan, di tengah arus globalisasi dewasa ini, nilai-nilai Alquran perlahan terlupakan. Seringkali manusia tidak memahami hekekat suatu permasalahan sehingga cenderung mencari pembenaran sendiri tanpa mengindahkan tuntunan yang ada. Padahal sudah demikian jelas, sesungguhnya kebenaran hanya ada pada Allah
melalui Alquran.”Sehingga ini merupakan momen terbaik agar kita kembali kepada pedoman Alquran. Segala upaya pemecahan masalah bangsa, hendaknya sejalan dengan nilai-nilai Alquran sehingga memperoleh hidayah Allah SWT.”

Begitu halnya anjuran Ustadz Ahmad Yani, yang meminta umat mengevaluasi diri apakah selama ini sudah menjadikan Alquran sebagai pembimbingnya atau justru masih ada kesenjangan. Mengingat ini merupakan momen evaluasi serta introspeksi, maka sudah selayaknya umat menyambut malam qadar dengan suka cita bagi wujud komitmen keimanan terhadap Alquran. (n yus)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: