Memaknai Kematian Tanpa Kesaksian

Oktober 1, 2007 pukul 5:13 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Judul buku: Memaknai Kematian
Penulis: KH Dr Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: IIman
Cetakan: Pertama, 2006
Tebal: viii + 309 +iii hlm

PERTAMA melihat buku ini, saya berucap, “Alhamdulillah”. Akhirnya, ada juga orang sekaliber Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) ditugasi-Nya menulis makna kematian. Ketika melihat cover bergambar orang berjalan di lingkaran menuju cahaya –kekosongan– saya berharap, buku ini bercerita tentang kematian, dalam artian apa yang hidup dan apa yang mati. Bagian mana dari diri kita yang tetap hidup, dan bagian mana pula yang akan mati serta dikuburkan.

Setelah membaca kalimat, “Buku yang sedang anda baca ini (di alam mulk) punya kembaran di alam malakut” (hlm 29), harapan saya terus melambung. Sebab, Kang Jalal menulis seperti yang tertulis di alam malakut. Saya terus menelusuri “peta” keberadaan Kang Jalal di hadapan Allah dari buku yang ditulisnya. Karena, buku ini menceritakan tentang kematian, alam barzah, bertemu Allah dan Rasul-Nya, dan juga tentang surga.

Dari tulisannya, saya melihat keberadaan Kang Jalal sudah di alam barzah. Tinggal memilih, bertemu Allah atau kembali ke dunia fana. Dalam bukunya, ia nampak enggan menemui Allah. Tulisannya mengesankan bahwa Kang Jalal masih mencintai dunia, dan terjerat pada segala bentuk lahiriahnya.

Seperti saat menulis masalah khusyuk, Kang Jalal masih terbelenggu pada pemahaman khusyu’ dalam artian lahiriah. Yaitu, khusyuk saat melakukan ritual shalat. Bukan dalam artian maknawi. Yaitu, khusyuk dalam menjaga kesucian (wudhu) antarwaktu shalat. Menjaga mulut agar tidak berbohong, misalnya, serta menjaga pikiran agar tidak berpikiran negatif.

Padahal, Kang Jalal tahu bagaimana kekhusyukan shalatnya Rasulullah dari (QS: 2; 144). Dan juga pernah shalat di masjid tempat ayat itu turun, yakni Masjid Kiblati’ain. Ia juga tahu kekhusyukan Rasulullah bukan dalam shalat, tapi dalam menjaga ‘anggota wudhu’-nya, ketika berucap dan bersikap.

Hampir saja saya tertipu Sang Keberadaan. Kalau tidak mengingat bahwa Allah bersifat Al Bathinu, Tersembunyi di balik sifat-Nya Yang Nyata (Az Zahru), saya akan beranggapan bahwa Kang Jalal sedang menyesatkan pembaca dengan karyanya. Sang Keberadaan selalu menipu, dengan cara “mengajak” kita melihat segala sesuatu –hanya– dari sisi lahiriah keberadaan saja. Dan yang terlihat melalui buku itu, pembaca bukannya diajak memahami, mana bagian diri kita yang tetap hidup, mana yang akan mati dan dikubur, tapi diajak ke alam angan-angan. Ke dunia khayal.

Secara lahiriah, buku itu mengajak pembaca agar selalu berharap dapat berjumpa dengan Allah. Tapi nanti, pada kejadian setelah mati. Bukan membuktikan dan menunjukkan jalan, bagaimana agar setiap diri dapat berjumpa dengan Allah dalam kehidupan saat ini. Berjumpa Allah semasa masih memiliki kesempatan berupaya.

Alhamdulillah, kedua sifat Allah itu menjadikan saya segera menepis buruk sangka kepada Kang Jalal. Menganggap ia memang sengaja memposisikan dirinya “terjerat” di alam lahiriah. Artinya, posisi itu memang sengaja diciptakannya, sebagai metode penyampaian. Ia memang sengaja menampakkan dan menurunkan maqam dirinya pada maqam pembaca, agar dapat menemani dan mendongengkan mereka dengan kisah-kisah pendahulu yang mencari Allah. Karena, kebanyakan pembaca memang masih terjerat di alam lahiriahnya masing-masing.

Itu sebabnya, dalam memahami selawat kepada nabi, Kang Jalal masih mengajak pembaca memahami selawat dalam artian bersalawat dengan ucapan (baca: lahiriah, karena menggunakan fisik, yaitu mulut). Bukan dalam artian upaya diri mencapai derajat kenabian. Yaitu, mencapai kekosongan atau zero mind — berpasrah diri seperti bacaan awal tahiyyat ketika shalat.

Dalam buku ini, Kang Jalal menceritakan berbagai jenis kematian. Antara lain, kematian sebagai penyucian diri, dalam artian fisik, atau alami, juga mati dalam artian nonfisik, yakni kematian ego setiap diri sebelum ajal.

Dengan mengutip QS Al Baqarah ayat 260, ai bercerita bahwa ego manusia terdiri dari empat bagian. Ayat itu menceritakan bahwa Allah memerintahkan Ibrahim agar membelah burung menjadi empat, jika ingin mengetahui kehidupan dan kematian, dan menempatkannya di empat bukit.

Sayang, empat bagian ego yang mana atau empat ego dalam bentuk dan artian seperti apa yang harus dimatikan oleh setiap diri, tidak dijelaskan. Sehingga pembaca harus mencari sendiri ke empat ego yang dimaksud. Dengan cara inilah Kang Jalal membimbing pembaca menuju jalan-Nya.

Pada bagian Hidup dalam Penghayatan Kematian, Kang Jalal mengajak pembaca mengekor pada pernyataan Imam Al Ghazali, bahwa kenikmatan yang paling besar bukanlah tinggal di surga, melainkan berkesempatan memandang wajah Allah SWT (hal 130). Ia menyatakannya dalam bentuk perumpamaan, ”sebagaimana kenikmtan seorang perindu, bukanlah memperoleh hadiah dari orang yang dirindukannya, tapi bisa memandang wajahnya”.

Sampai akhir buku, Kang Jalal tidak menceritakan, bagian mana dari diri kita yang mati, dan bagian mana pula yang tetap hidup serta bertemu Allah. Kecintaan Kang Jalal pada dunia yang tercermin pada tulisannya, telah menjadi penghalang untuk menemui-Nya. Pemikirannya dalam buku itu, secara keseluruhan bukan saja menjadi terlihat tidak ilmiah, tapi juga tidak masuk akal.

Mengapa? Karena, Kang Jalal sendiri (mungkin) memang belum pernah bertemu Allah. Padahal, “kunci” kematian adalah kesaksian. Syahadah. Hanya orang-orang yang selalu mempertahankan kesaksiannya yang akan syahid dan menjadi syuhada. Ibarat menceritakan nasi goreng, dalam bukunya ini ia sendiri seperti tidak pernah tahu apa itu nasi goreng. Apalagi memakannya. Wallahu ‘alam.


diresensi oleh ADHYWIRA

Republika, Minggu, 30 April 2006

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: