Filsafat Kacang dan Kulit

September 26, 2007 pukul 5:14 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh FARAH IZADI

Memang, salah satu cara untuk mengenal kacang adalah dengan mengenal kulitnya. Akan tetapi, cara tersebut bukan satu-satunya cara untuk mengenal esensi kacang, karena kacang bukan kulit, dan kulit bukan kacang. Keduanya adalah dus esensi yang berbeda, walau ‘nampak’ satu kesatuan. Yang lebih parah lagi, jika yang mengangkat wacana ‘Filsafat kulit’ lantas mengaku telah mengetahui ‘esensi kacang’ secara baik dan benar serta menganggap bahwa ‘Filsafat Kulit’ adalah satu-satunya cara mengenal ‘Esensi Kacang’. Dan yang jauh lebih parah dari itu, ternyata yang mengatakan hal ini adalah orang yang disanjung dan bernotabene sebagai intelektual berjargon “Islam” dan “Liberal”, konon liberal dalam pola pikir dan penggunaan akal murni yang sehat.

Berkaitan dengan mengenal Rasul/Nabi Muhammad, benar, kita dapat mengenalnya melalui bukti dan analisa sejarah. Akan tetapi, “bukti dan analisa sejarah” ibarat “Falsafat Kulit” tadi. Dia bisa dijadikan pijakan dalam menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad, tetapi ingat, hal itu tidak akan bisa menyentuh ‘esensi kenabian/kerasulan’ , juga bukan satu-satunya cara untuk mengenal kenabian dan kerasulan seseorang, termasuk kenabian Muhammad bin Abdillah saww. Hal itu dikarenakan, hakekat dan esensi kenabian/kerasulan adalah “hal transtendental” yang tidak mungkin akan dikenali hanya dengan berpijak pada kajian histories atau ‘Falsafat Kulit’. Hanya mencukupkan pada kajian histories untuk menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad, persis sebagaimana orang yang hanya menikmati kulit kacang saja, maka mustahil ia akan mampu menikmati esensi biji kacang, yang dalam hal ini adalah hakekat transendent kenabian dan kerasulan anak manusia yang bernama Muhammad.

Atas dasar itulah, dalam teologi Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Syiah Jakfariyah), berdasarkan doa (lihat dalam kitab Mafatihul Jinan) yang diajarkan oleh para Imam suci Ahlul Bayt yang menyatakan: “Ya Allah, kenalkanlah diri-Mu kepada-ku, karena jika Engkau tidak mengenalkan diri-Mu kepada-ku niscaya aku tiada akan mengenal Rasul-Mu. Ya Allah, kenalkanlah Rasul-Mu kepada-ku, karena jika Engkau tidak mengenalkan Rasul-Mu kepada-ku niscaya aku tiada akan mengenal Hujjah-Mu (Imam). Ya Allah, kenalkanlah Hujjah-Mu kepada-ku, karena jika Engkau tidak mengenalkan Hujjah-Mu kepada-ku niscaya aku akan tersesat dari agama-Mu”. Dalam penggalan doa di atas disebutkan bahwa, “Ya Allah, kenalkanlah diri-Mu kepada-ku, karena jika Engkau tidak mengenalkan diri-Mu kepada-ku niscaya aku tiada akan mengenal Rasul-Mu”, kita akan ketahui bahwa tanpa mengenal Dzat Maha Transetendent Yang bernama Allah swt, niscaya kita tidak akan mengenal sisi transtendent Kenabian dan Kenabian Muhammad. Padahal sisi transtendent kenabian inilah merupakan esensi dasar kenabian, ibarat ‘kacang’ yang terbungkus dibalik kulit kasar sang kacang. Dan kita semua –terkhusus yang Syiah- tahu, sebagaimana yang diajarkan dalam teologi kita, dalam menetapkan keberadaan, keeesaan dan kesempurnaan Allah swt kita bisa lakukan dengan menggunakan ‘Akal Murni’ tanpa bantuan teks agama sekalipun. Bukankah ini yang diajarkan teologi-filsafat kepada kita? Hal itu karena, bagaimana mungkin kita akan tetapkan keberadaan, keesaan dan kesempurnaan Allah swt dengan teks (al-Quran maupun Hadis), sementara Dzat Yang Menurunkan (Penurun) al-Quran dan Pengutus pengucap hadis tersebut masih belum ditetapkan? Oleh karenanya, bagi pengikut Syiah Imamiyah yang telah belajar “Ideologi dan Akidah Syiah” secara baik dan benar akan mengetahui bahwa, teks (al-Quran dan Hadis) dalam kajian ketuhanan (menetapkan keberadaan, keeesaan dan kesempurnaan Allah swt) hanya sebagai argumentasi penguat (sekunder) saja, bukan argument utama (primer). Tanpa mengenal Allah swt dengan menggunakan argumentasi tadi maka mustahil kita akan mengenal ‘Kacang Kenabian’. Kita hanya cukup dengan mengenal ‘kulit Kacang’ kenabian saja.

Jika kita mengaku orang yang beragama Islam dan mengaku sebagai pengguna kebebasan akal sejati maka, MARILAH BERLOMBA-LOMBA UNTUK MENCARI KACANG DAN BERSEGERA UNTUK MENIKMATINYA. JANGAN HANYA CUKUP DENGAN MENDAPAT DAN MENIKMATI KULIT KACANG, YANG TIDAK LAYAK DIKONSUMSI OLEH MANUSIA SEHAT LAHIR-BATIN.

BRAVO KACANG, DAN SELAMAT TINGGAL KULIT….BERBAHAGIALAH ORANG YANG SUKA ‘NGACANG’ DAN TIDAK TIDAK HANYA SIBUK ‘NGULIT’.

Pertanyaan saya terakhir; Mungkinkah pemeluk mazhab yang ajaran resminya adalah “membatasi Luang lingkup dan gerak akal” lantas ia akan dapat mengaku –apalagi berpraktik- sebagai orang pengguna kebebasan akal sejati? Bukankah ini paradoks? Bagi orang-orang semacam ini, apalagi yang bersikeras ank eras kepala untuk berparadoks ria, maka saya ucapkan; “Selamat menikmati keparadokan berpikir dalam benak dan otak anda…!?”

FARAH IZADI,
farah_izadi@yahoo.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: