Mimpi

September 21, 2007 pukul 1:31 pm | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Sepotong Mimpi
Oleh FANI AHMAD FASANI*

Senja jatuh kemudian nyangkut di tiang-tiang lampu, terbelit kabel listrik dan telepon. Jantung kota masih kencang berdegup, bahkan kurasakan setiap denyutnya di bawah sepatuku. Debu-debu jalanan masih asik berjingkrak kian kemari, menggebu-gebu kemudian terpental menabrak kaca dan etalase, tersuruk menuju haribaan kaki lima. Tampak mesra. Kusamakan langkahku bersama teman sekaligus tamu, seorang perempuan, begitu perempuan. Langkahnya sangat nyaman, kucobakan langkahku sepertinya. Kami berjalan antara mereka yang juga berjalan, orang-orang yang sungguh nyata dalam keseharian, para manusia asli, bahkan lirik dan senyum mereka dapat kau temukan di manapun. Tapi mengapa risih menyapaku juga. Entahlah ..berada antara mereka seperti terjebak di sekeranjang ikan menuju pasar siap untuk ditimbang, menyerahkan nasib sepenuhnya pada pisau dan bumbu dapur, mungkin dibikin balado hangat pedas atau di potong miring untuk goreng kering. Ketika kutatap hidangan tersebut di etalase rumah makan padang yang kulewati pun seleraku tak mampu berkutik, kepingan di saku celana hanya mampu memberi harapan untuk tak berjalan dengan mulut asam, segera ku hampiri penjual rokok asongan.

Berjalan dengan gejolak lambung membuat jalanku terbungkuk namun lampu-lampu jalanan lebih bungkuk, bahkan lebih dalam lagi, membisikan sumpah serapah di telingaku. Sudah kubilang, aku tak begitu bagus di keramaian. Sudahlah lagi pula aku toh tak berjalan sendirian, perempuan di sebelahku mampu meredakan penat pada titik paling mungkin dijangkau. Dia terlihat manis di bawah lampu, meski kupikir lebih sedap lagi di bawah bulan, antara taman dan telaga. Di sini sangat berbeda, tak bercita rasa. Sebetulnya aku sendiri yang buat onar, seharusnya aku tak terlalu menyimak kehadiran mereka, semestinya aku sanggup merelakan mereka menjadi latar saja bagi kehadiran kami, lebih baik lagi jika tak berpikir macam-macam.

“Kau tak suka tempat ini?”, pertanyaannya mengandung sekian ribu volt sengatan listrik. Dia menatapku untuk beberapa jenak dan aku berharap tubuhku mengecil saja untuk bersembunyi di dalam sepatuku, meski bau setidaknya merasa aman. Kemudian akupun tersenyum meski tak manis, dan berusaha menggigit apapun kemungkinan jawaban dari pertanyaannya itu. Aku sangat kacau menghadapi pertanyaan serealistis itu, entahlah . Dia tak mengulangi pertanyaannya dan kembali pada kesediakalaannya, mungkin dia tak benar-benar meminta jawaban, segera kuraih kembali kemerdekaanku.

Ketika aku keluar dari pertokoan, sekilas kutatap langit dan kutemukan malam menggantung seperti gumpalan hitam yang besar, kepalaku mulai dijelajahi beribu judul yang entah apa, kurasa sejenis kutukan dengan kwalitas eksport, atau karena aku tak biasa dengan suasana malam seperti ini, tidak sesederhana yang biasanya kutemukan di kamar kontrakanku, bahkan di sini malam seperti di atas loteng, tak terjangkau. Tiba-tiba kurasaka semuanya begitu tak terjangkau, bahkan apa-apa yang tepat nyata di hadapanku. Ya.. aku harus segera pulang.

Bandrol celana mengancam kewarasanku, bahkan harga seberapa judul buku sebanding jatah makanku sebulan, benar-benar gila. Akupun kembali pada ritual mencaci nasib pada akhirnya, disini aku merasa tak nyaman dengan nasib sendiri. Kehebatanku runtuh seketika, aku mesti menyelamatkan diri sebelum segalanya benar-benar musnah.
“Kita mesti pulang!”, namun tak berani aku memulai langkah.

Kuluruskan pandang pada deret mobil di jalan raya, menembus jauh menuju kamarku, kemudian lebih jauh lagi. Ketika ku lirik ia pun memandang pada arah yang sama, namun wajahnya masih steril dari prasangka apapun, begitu biasa. Menurutku justru itu kehebatannya. Kusiapkan langkah dan tak berkedip memandang ujung sepatunya menantinya mulai melangkah, kita mesti tetap melangkah dalam kebersamaan bukan? Sekali lagi aku keliru memulai langkah dengan kaki kiri.

Kami berdiri di pinggiran jalan menanti angkutan yang dapat membawa pulang, namun untuk kesekian kali angkutan kudapati penuh saja. Kenapa mereka begitu bergegas untuk pulang, kutuk seperti apalagi yang terjadi sekarang? Beberapa belas menit telah berlalu dan aku mulai panik dan frustasi, jika aku tak bersamanya, mungkin aku akan lompat saja ke tengah jalan, membiarkan tubuhku ini digilas kendaraan terjelek sekalipun. Lagipula kendaraan yang lewat sini semuanya tampak bagus dan mengkilap, menajamkan seleraku untuk meremukan tubuh kusam terkutuk ini. Tentu saja itu tak baik.

Akhirnya datang juga satu yang masih menyisakan ruang, setidaknya menurut kondektur yang penuh semangat meyakinkanku bahwa masih cukup untuk dua orang. Kami pun naik dan aku harus menyalakan kerelaan yang khas untuk berada diantara himpitan orang. Setidaknya mobil ini bagian dari berkah yang turun dari langit lewat jalanan padat, lagipula aku masih punya tawaran bagus, aku mesti duduk di pojokan, tempat paling nyaman di dunia, ya..meski pantatku harus berada pada posisi rentan, sekali lagi tak apalah. Yang kuperlukan sekarang adalah memandang titik lampu yang berlarian lewat kaca demi membuang dendam ini. Perempuanku duduk terpisah, terhalangi dua perempuan yang tak hentinya berdiskusi tentang merk dan selisih harga dengan tempat lainnya. Sewaktu tadi naik, aku melakukan ketaksengajaan yang membanggakan, dengan menginjak ujung kantong kertas belanjaannya.

Tentu saja mereka tak tahu karena asik berdiskusi. Perempuanku harus tahu aku tak suka mereka berdua telah berada pada posisi yang salah dan mesti menebusnya dengan segera turun dari mobil angkutan ini!

Mobil berhenti dan aku turun dengan kaki kiri lebih dulu, ini sesuai dengan anjuran para kondektur, meski yang ini belum mengatakannya, aku hanya suka saja melangkah dengan kaki ini. Kakiku gugup menginjak kerikil pinggir jalan mungkin karena pegal duduk dengan posisi yang tak bagus, akupun menepi. Sekilas kupandang keteguhan pundaknya ketika menerima kembalian dari kondektur, seperti sayap elang yang siap terbang kapan saja, aku harus mencegah itu terjadi. Harus kupikirkan lagi bagaimana caranya.

“Akhirnya kita sampai”, dia meliriku kemudian tersenyum dengan rasa yang tak dapat kuduga, semanis es krim tadi sore. Seketika saja gigilku lenyap dan langkahku tegap kembali. Menyusuri gang sempit tanpa penerangan serta mesti hati-hati dengan lobang dan kubangan air, belum lagi tikus-tikus gajah menuding sisa kesabaranku, bagaiman aku bisa menatap langkahnya dengan mengandalkan beberapa bintang mulai nampak di langit. Aroma kumuh menjemput segera dari balik himpitan petak yang begitu akrab, jika kau berjalan di siang hari kau akan melihat wajah murung anak-anak kecil yang memunguti botol bekas air mineral sementara musik dangdut terdengar terseok-seok dari balik dinding triplek. Kadang suara tangis anak-anak berbaur dengan umpat ibu mereka, memulai perdebatan sengit antar orang tua. Kau bisa menduga kisah selanjutnya. Sesekali suara minyak goreng diatas wajan begitu gemericiknya selanjutnya aroma ikan asin menendang-nendang rasa laparku. Itu dia kamar kontrakanku nampak begitu kesepian, namun dialah penyempurna cita rasa kumuh ini, dengan dinding tanpa lapis semen serta atap asbes yang jika hujan turun suaranya sangat berisik.

Ketika aku menggapai pegangan pintu terasa begitu licin, tanganku kurasakan berkeringat, mungkin sedari tadi. Aku tahu engsel pintuku sudah berkarat, ku buka pintu perlahan, agar deritnya tak begitu memilukan. Pintu terbuka, derit bergaung di hatiku. Kurasakan udara terlalu padat dan pengap mungkin jendela mesti kubuka, kembali harus memilih antara gerah dan serbuan nyamuk. Rasanya beberapa abad kutinggalkan kamarku ini, kuhirup dalam udara yang sebenarnya begitu apek. Dia melangkah memasuki kamar dengan langkah seringan kijang yang berlarian di padang rumput, melewati pintu dengan kejelasan yang singkat seolah takkan melewatinya lagi seumur hidup. Mestinya kutanyakan “kau suka tempat ini?”, kali ini yang kutakutkan adalah jawaban.

Jika aku tahu kau akan sudi kemari, mungkin aku melakukan sesuatu, meski sekedar menghapus sajak-sajak duka di tembok, atau menyingkirkan cucian yang berserak. Sudahlah bahkan kau tak kelihatan gatal sedikitpun, di karpet kau bahkan membaringkan tubuh tanpa menampakkan keragauan, aku hendak melonjak menembus atap memetik bintang bekal mimpimu, kurasa itu tak perlu. Matanya pelan meredup, begitu teduh.

“Selamat tidur!” dia kembali tersadar dan tersenyum, aku menyesal telah mengusiknya.
Sementara dia mulai tertidur kutatap garis wajahnya, menikmati kelembutan yang tak mungkin lagi kusangkal, indah seperti mimpi.

Tatapku kian lekat begitu lelap, apa yang sedang kau impikan cantik?, aku ingin ikut di mimpimu, maafkan aku sedari tadi terlalu sibuk dengan diriku sendiri, tanpa menyajikan percakapan hangat, bahkan lupa untuk menceritakan bagaimana kita mulai saling kenal, kelak jika kau bangun aku takkan melakukannya lagi. Sekilas bintik cahaya memancar di alisnya paling ujung, itukah mimpi indahmu? Kutelisik terus dan cahayanya kian rebak seperti gerombolan kunang-kunang di rerumput. Bintik-bintik itu menyatu memenuhi keningnya, kian nyalang melahap pandanganku, aku tak menyerah. Seketika silau memenuhi ruang dan kurasakan tubuhku terbakar seperti laron yang hangus terpanggang lentera. Aku terpejam merasai tubuh yang berkeringat dan ketika kubuka mata, kau masih tertidur, begitu kekal.

Aku beranjak ke luar kamar, kunyalakan rokok memandang sisa bintang di teras, mereka seperti saling berbisik dan aku begitu gugup. Kantuk seketika menyergap, aku berdiri menuju pojok ruangan, aku bersumpah untuk tidak mengusik tidurnya. Untuk kesekian kali usahaku memejamkan mata, tapi aku selalu tergoda untuk sekedar meliriknya, atau mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Akhirnya aku mulai terlelap, namun segera aku tersungkur kembali ke alam jagaku, tidurku tak mampu menampung mimpi yang begitu penuh. Tanpa sepengatahuannya aku telah mencuri sepotong mimpi nya yang bahkan aku lupa seindah apa.

2003

*Mahasiswa Aqidah Filsafat dan pemenang Lomba Cerpen se-Jawa-Bali yang diadakan oleh LPM Suma Unisba (2005).

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: