Komentar (3)

September 21, 2007 pukul 3:02 pm | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Tulisan ini masih berkisar komentar tentang buku OPOSISI RICE COOKER (Catatan Harian Post LPIK [Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman] Bandung)

Dari Lidah Angin ke Lidah Pena
Ahmad Gibson Al-Busthomie*

Lidah angin kadang membuat orang merasa nyaman dalam gerah tajamnya sorot mata hari. Tapi juga, tak jarang orang ketakuan lidah angin ketika ia mengamuk, nguwak-ngawik. Ada banyak lidah, lidah api diantaranya. Keadaannya sama dengan lidah angin.

Lidah manusia tak jauh berbeda dengan lidah angin dan lidah api. Lidah manusia bisa membuat manusia lain merasa nyaman dan terhanyut dalam kegembiraan. Tapi juga bisa membuat manusia lain murka dan malu abis.

Dalam era tulis menulis, terutama era informasi (konon) jaman sekarang, lidah manusia sering beralih menjadi lidah-lidah pena dan menari tiada henti. Meliuk ke sana meliuk ke sini, tak ada lagi batas ruang waktu yang membatasinya. Kadang membuat kita tertawa terbahak-bahak bila membacanya. Kadang pula membuat kita termenung, mengerenyitkan kan jidat, merasa malu sendiri, dan bahkan muncul kemarahan yang membuncah.

Setiap lidah manusia dan lidah pena menari, tatap mata setiap orang nentu beda memandang. Oleh kaerena itu responsnya pun berbeda-beda. Kita tertawa, tapi bisa saja tetangga kita marah-marah tak keruan.

OPOSISI RICE COOKER (Catatan Harian Post LPIK [Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman] Bandung) sebagai kumpulan dari tapak-tapak tarian Lidah Pena tentunya bisa melahirkan respons dan sikap yang berbeda dari masing-masing orang. Bisa ikut menari dan bisa juga duduk terdiam dengan warna wajah yang berubah-rubah, atau seperti pita pelangi di musim penghujan.

Ya… tarian Lidah Pena sebagai perpanjangan Lidah Manusia, tak ayal seperti lidah angin dan lidah api, kadang menyejukkan, menghangatkan; kadang pula membakar dan menyapu segala yang ada, menyisakan patahan-patahan yang memilukan.

Apa sebenarnya yang ingin dikatakan Lidah Pena OPOSISI RICE COOKER Banyak hal, dan bisa juga sama sekali tak mengatakan apa-apa, hanya ingin menari saja, mengikuti getar alam semesta. Bahkan jangan-jangan untuk disebut menari pun tidak cukup indah. Hal yang paling penting adalah ternyata bahwa masih ada sejumput orang yng masih peduli utnuk terus menari…..

*Pembina LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung dan Dosen Fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: