Munggah dan Mudik

September 20, 2007 pukul 3:07 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh JAKOB SUMARDJO

TRADISI munggah dan mudik menggejala di Pulau Jawa, yakni pada masyarakat Sunda dan Jawa. Tradisi mudik dikenal baik di Jawa maupun di Sunda. Tetapi munggah, setahu saya, kurang dikenal luas di masyarakat Jawa. Dalam masyarakat Jawa sangat menggejala tradisi mudiknya.

Baik munggah maupun mudik yang dilakukan sebelum bulan suci Puasa dan menjelang akhir Puasa, sebenarnya mempunyai arti bahasa yang sama, yakni naik. Arti ini berkaitan dengan arah di zaman nenek moyang Indonesia. Pada zaman pramodern hanya dikenal komunikasi sosial lewat sungai. Hampir semua hunian tua di Indonesia selalu berada di tepi sungai. Sungai merupakan jalan raya bagi nenek moyang kita. Pembikinan jalan baru diperlukan ketika lembaga kerajaan mulai dikenal masyarakat Indonesia. Karena sungai merupakan sarana komunikasi dan transportasi yang vital, maka dikenal adanya istilah arah hulu dan hilir, mudik dan muara.

Pada waktu itu, kalau orang mengatakan mau mudik, jelas artinya mau pergi ke hulu. Dan kalau mau ke hilir, berarti mau ke arah muara. Orang yang menuju ke hulu dapat berarti “naik”, “munggah”, “pulang”, “ke hutan”, “ke kebun”, “ke bukit”, “ke kampung”. Sedangkan orang yang menuju ke hilir dapat berarti pergi, “keluar”, “ke pasar”, “merantau”, “kerja”. Dengan demikian arah hulu lebih bermakna “perempuan” dan hilir bermakna “lelaki”. Perempuan adalah hulu adalah rumah adalah kampung halaman. Lelaki adalah hilir adalah luar adalah asing, atau rantau.

Dengan pola pikir yang demikian itu, munggah dan mudik maknanya sama, yakni kembali ke ibu, ke kampung halaman, ke nenek moyang, ke asal adanya, ya kembali ke fitrahnya. Tradisi munggah dan mudik mempunyai nilai arketipe bangsa. Begitulah kesadaran kolektif bangsa ini sejak zaman dahulu kala, yakni tidak pernah melupakan jati dirinya, asal usulnya, nenek moyangnya, kampung halaman tempat ia dilahirkan. Manusia Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dalam hubungan munggah dan mudik ini, selalu ingat asal usulnya, indungnya, sangkan paran atau asal dan tujuan hidup ini.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa tradisi munggah dan mudik dilakukan justru menjelang dan mendekati selesainya puasa yang merupakan bulan suci bagi umat Islam Indoensia. Gejala ini menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tingkat religiositasnya tinggi sejak dahulu kala. Hidup ini bukan masalah sekular belaka. Hidup ini selalu merupakan bagian, menyatu, dengan hal-hal metafisika. Hidup ini fisikal-metafitrikal, halus-kasar, sakral-profan, rohaniah-badaniah, surgawi-duniawi. Substansi ini amat terasa hadir selama bulan Ramadan. Di situ manusia merasa amat dekat dengan Allah, mematuhi perintahnya, tunduk padanya seratus persen, manunggaling kawula Gusti.

Di zaman purba Indonesia ada upacara setiap tahun yang bermakna manunggal dengan nenek moyang sebuah komunitas. Sisa-sisa upacara demikian masih lestari dalam bentuk bersih desa, ngalaksa, seren taun, ngarot dan banyak lagi. Dalam upacara-upacara semacam itu dilakukan penyatuan manusia sebagai mikrokosmos dengan alam sebagai makrokosmos dan arwah nenek moyang berupa mitos-mitos sebagai metakosmos.

Rangkaian upacaranya mulai dari mandi bersama (bersih badan), pantang dan puasa, ziarah kubur, seni pertunjukan yang mementaskan kisah mitologi nenek moyang pendiri wilayah, dan akhirnya makan bersama atau kenduri. Tempatnya bisa di tanah lapang, di balai desa, di leuwi, di mata air, di kuburan desa. Dalam upacara-upacara tahunan semacam itulah seluruh penduduk kampung kumpul bersama, tua atau muda atau kanak-kanak.

Upacara menyatukan diri seluruh penduduk kampung dengan makrokosmos dan metakosmos ini, dapat bermakna sangkan-paran atau kembali menyatu dengan yang asal. Mereka sedang munggah atau mudik. Kembali ke indung asal kehidupan ini. Kembali ke Sang Pencipta dengan seluruh warga yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Ketika agama Islam dipeluk oleh bangsa Indonesia, maka sisa-sisa ritual primordial ini tidak dilenyapkan karena sudah merupakan bagian dari arketip budayanya. Kalau tidak melakukan, mereka merasa ada yang hilang dari bagian dirinya sebagai kelompok. Padanan untuk itu adalah bulan puasa bagi umat Islam, atau puncaknya pada hari Lebaran. Tradisi manusia Indonesia untuk nyekar atau menebar bunga di kuburan nenek moyang, mandi bersama di pantai atau di sungai desa, mengirim makanan bagi sanak saudara, yang semua itu dilakukan sebelum bulan puasa, adalah inkulturisasi Islam terhadap budaya sebelumnya.

Inti munggah dan mudik adalah bersih desa itu, yang merupakan peristiwa metafisik melalui perbuatan-perbuatan fisikal nyata. Kalau dalam upacara bersih desa selalu ada pertunjukan kesenian yang mementaskan mitologi nenek moyang, maka dalam bulan Puasa tarawih yang intinya tetap sama, yakni mengkaji Kitab Suci yang pada zaman dulu berupa mitos-mitos kampung.

Saya masih ingat upacara bersih desa didesa saya di Klaten, Jombor danguran tahun 1950-an. Pada upacara itu dipentaskan wayang kulit di sebuah sumber air desa yang letaknya di dekat sebuah kedhung atau bagian sungai yang melebar. Lakon yang dipentaskan cerita Bandung Bondowoso, dan dalangnya berasal d ari desa saya juga, yang terkenal sampai ke seluruh daerah Klaten waktu itu, bernama Soetiksno. Dalam cerita wayang itu pahlawan daerah Klaten dan Prambanan, yakni Bandung Bondowoso yang ingin mengawini Loro Jonggrang, harus berhadapan dengan Ratu Boko.

Untuk dapt mengawini Loro Jonggrang, Bandung Bondowoso harus mampu menciptakan ratusan candi hanya dalam waktu semalam. Itulah sebabnya di Prambanan berdiri candi-candi. Sedang perkelahiannya dengn Ratu Boko menyebabkan lahirnya beberapa nama desa dan sungai di daerah saya tersebut. Dan akhirnya barulah saya tahu bahwa bukit kapur di dekat desa saya, Gunung Gamping, berasal dari otak Ratu Boko yang kepalanya dipecahkan oleh Bandung Bondowoso.

Dari pentas bersih desa itu tahulah saya bagaimana asal usul desa saya dan desa-desa di sekitar, tahulah saya dari mana nama-nama sungai kecil dan desa-desa berasal, tahulah saya dari mana gunung kapur itu berasal. Dengan penceritaan kembali mitos desa itu, maka masyarakat disatukan kembali alam pikirannya tentang asal usul diri mereka. Masa lalu dikembalikan lgi pada masa sekarang, sehingga manusia mikro ini menyatu kembali dengan alam makro dan alam metafisika.

Tradisi munggah dan mudik amat menggejala pada masyarakat yang dulunya hidup dari bersawah. Orang sawah selalu merupakan kumpulan manusia massal. Makin luas daerah sawah, semakin banyak tenaga manusia dibutuhkan, semboyannya “banyak anak banyak rezeki”. Tidak mengherankan apabila upacara semacam bersih desa itu mengundang banyak penduduk yang sudah tersebar sebagai kaum urban, setiap tahun harus mudik kembali ke desanya, berkumpul kembali dengan seluruh penduduk desa dan seluruh arwah nenek moyangnya. Maka ziarah kubur menjelang Puasa atau Lebaran selalu dilakukan.

Pada waktu mudik Lebaran, semua kendaraan darat penuh dengan para pemudik. Mereka inilah kaum menengah-bawah yang masih kuat naluri tradisionalnya. Mereka inilah yang tak mau kehilangan momen penting dalam seluruh hidupnya selama setahun, yakni berkumpul dengan penduduk desa yang lain, sanak saudara, orang-orang tua, kuburan keramat dan kuburan kakek-nenek atau ayah ibu. Ibaratnya gaji satu tahun digunakan buat mudik tidak apa, asal bisa kembali ke kampung, ke indung, ke asal muasal kehadiran dirinya di dunia ini. Berdesak-desakan dalam kereta atau bus tidak masalah. Mereka gembira ria saja. Sampai di kampung tidur berjubel dalam kamar sempit juga merupakan kegembiraan spiritual. Berbahagialah yang masih menghayati nikmat spiritual sewaktu munggah dan mudik.

Kaum menengah-atas yang sudah terlalu berbudaya global tentu tak akan memperoleh apa-apa dari peristiwa munggah dan mudik. Buat apa? Bodohlah untuk berdesak-desakan bersama para pembantu dan pegawai-pegawai kecil dengan armada keluarganya naik bus atau kereta pulang kampung. Pulang menengok orang tua dapat dilakukan kapan saja, tidak usah di waktu menjelang Puasa dan Lebaran. Apalagi membagi-bagikan uang di kampung kepada sanak saudara atau kerabat-kerabat desa.

Jelas ada arketipe budaya dalam peristiwa munggah dan mudik Lebaran. Itulah peristiwa metafisik. Itulah peristiwa spiritual. Nilainya tidak dapat diukur dengan keluarnya banyak uang. Andai pun harus hutang dulu tidak masalah. Membayar kembali setelah ke hilir kembali, ke kota kembali, ke wilayah profan dan sekuler kembali, bukan masalah sama sekali bagi pendukung budaya mudik ini. Harta dunia ini dapat dicari, tetapi berkah rohani munggah dan mudik itu tak bisa dibeli.***

JAKOB SUMARDJO,
Dewan Pembina Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman [LPIK] UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: