WAWANCARA ULIL ABSHAR ABDALLA : “…Kenapa harus jauh-jauh belajar Islam di Amerika Serikat (AS)…”

September 17, 2007 pukul 7:25 am | Ditulis dalam khazanah | 6 Komentar
Tag: ,

BULAN Juli lalu, Ade Armando dari Majalah Madina sempat mewawancarai Ulil Abshar Abdalla untuk keperluan edisi contoh Majalah Madina yang sedang di garap bersama Ihsan Ali Fauzi dan Farid Gaban.

Majalah edisi contoh itu sudah jadi dan digunakan untuk keperluan terutama mencari sponsor, iklan dan penyandang dana.

Wawancara dengan Ulil itu niatnya juga akan dimuat dalam edisi perdana. Tapi daripada menunggu lama, saya rasa saya ‘bocorkan’ dulu saja hasil wawancara itu pada peserta milis, mengingat isinya menurut saya bagus untuk di-share.

Kami ngobrol terutama soal kenapa harus jauh-jauh belajar Islam di Amerika Serikat (AS). Pembicaraan tentu saja berkembang tentang pengamatan dia mengenai perkembangan studi Islam di AS.

Berikut ini hasil wawancara itu:

AA (Ade Armanto): Anda sekarang melanjutkan studi Islam di AS. Kabarnya Anda memfokuskan perhatian pada studi Islam klasik, mengapa?

Ulil: Saya sebetulnya ke Boston University tidak untuk belajar khusus tentang pemikiran Islam klasik. Tapi di semester pertama, saya sengaja mengikuti sebuah matakuliah tentang Fakhruddin Al-Razi, seorang penafsir penting dalam tradisi teologi Asy’ariyah abad ke 13, dari Persia. Saya mengikuti kuliah itu karena suka saja, bukan karena diwajibkan. Tapi karenanya, saya menjadi harus membaca pemikiran-pemikiran dia.

Ternyata Al-Razi itu menarik sekali. Dia seorang polemikus ulung yang secara terbuka berhadap-hadapan dengan kaum rasionalis, Mu’tazilah. Saya belajar tentang bagaimana Al-Razi memanfaatkan bahan-bahan dari filsafat Yunani dalam membela argumennya. Saya melihat ada begitu banyak hal dalam struktur pemikirannya yang dapat digunakan dalan diskusi modern. Karena itulah kemudian saya memutuskan untuk mempelajari lebih dalam Islam klasik. Di Boston saya hanya kuliah dua tahun. Ternyata waktu itu pendek sekali. Di Harvard nanti, untuk program doctoral saya, saya akan lebih jauh mendalami pemikiran-pemikiran Islam klasik ini.

AA: Apa yang penting dari Islam klasik itu?

Ulil: Banyak sekali. Saya belajar bagaimana tokoh-tokoh Islam pada zamannya telah menjalani perdebatan tentang banyak isu sceara cerdas yang sekarang kembali didiskusikan dengan cara yang kadang terlalu sengit dan justru menemui kebuntuan.

Misalnya saja, isu tentang aspek-aspek mana saja dalam Alquran yang bisa diubah dan yang tidak. Atau apa kedudukan akal dalam agama, apakah sumber kebenaran itu akal atau wahyu? Itu semua adalah isu-isu yang tetap lazim dipertentangkan saat ini. Al-Razi sendiri merekam perdebatannya dalam sebuah diary perjalanan. Dan kita bisa membaca betapa kaya dan menarik perdebatan yang terjadi saat itu.

Saya belajar bahwa bahwa sebenarnya pengkutuban antara kaum Mu’tazillah dan Asy’ariyah secara kaku, di mana yang pertama sangat rasional sementara yang kedua menolak akal sebagai sumber kebenaran adalah terlalu menyederhanakan. Para ahli Asy’ariyah berdebat dengan menggunakan argumen-argumen rasional! Al-Razi, misalnya, memiliki banyak formulasi menarik.

Kalau saja perdebatan modern diperkaya oleh formulasi-formulasi klasik, diskusinya akan lebih hidup, tidak deadlock. Warisan pemikiran para sarjana dari abad-abad lalu itu bisa digunakan untuk memformulasikan isu-isu modern. Kalau kita tidak menengok ke belakang, kita akan stuck, karena tidak akan ada terobosan.

Misalnya soal Al-Ghazali. Sering dianggap dia antifilsafat, membunuh filsafat dalam dunia Islam. Saya anggap itu tidak fair. Kalau kita pelajari secara mendalam, ada beberapa peninggalan dia yang menarik. Dia misalnya sudah membahas soal toleransi dan pluralisme, dengan cara cerdas. Dia tidak sekadar mengharamkan atau menutup diskusi. Dia justru membukanya. Dia membuat framework dulu. Mula-mula dia definisikan, apa itu Islam. Jadi dia bertanya: apakah kalau orang tidak mengikuti asy’ariyah, atau syiah atau mu’tazilah, maka orang itu menjadi tidak Islam? Kemudian dia membuat kerangka empat tingkat keimanan seorang muslim. Dan dia simpulkan, bahwa selama seseorang masuk dalam kategori empat tingkat tersebut, dia tetap adalah muslim, terlepas dari sekte mana dia berasal. Itu, menurut saya, luar biasa. Dia jauh lebih inklusif dari para pengagumnya sekarang ini.

Begitu juga soal kebangkitan tubuh di hari akhir. Al Ghazali mengatakan, percaya tentang kebangkitan di hari akhir adalah bagian dari definisi tentang muslim atau tidak muslim. Tapi dia juga mengajukan empat kemungkinan penafsiran tentang kebangkitan — spiritual, fisikal, mental atau imajinatif. Iman kepada kebangkitan di hari akhir dalam empat tingkatan itu tetap bisa ditoleransi.

Jadi saya mempelajari bagaimana Al Ghazali mendekati masalah pluralisme dengan cara ilmiah dan solid, dengan mendasarkan diri pada tradisi Islam. Dia sangat toleran terhadap perbedaan, tidak kaku. Dan sumber-sumber argumennya ádalah filsafat. Dia tidak anti filsafat. Dia mengkritik filsafat, tapi dia menggunakan filsafat – termasuk Aristóteles – dalam seluruh karya pentingnya.

AA: Mengapa terjadi salah penafsiran terhadap orang-orang seperti Al Ghazali?

Ulil: Salah satu kendala adalah kita sendiri memblok pemahaman kita. Dulu saya juga begitu. Di semester awal, saya masih membawa sikap untuk memilih-milih. Kalau ada buku yang kira-kira tidak liberal, saya mau mempelajarinya. Misalnya saja, karena saya sudah begitu percaya bahwa Al-Ghazali antifilasafat, saya jadi tidak mempelajarinya. Ada banyak buku yang semula saya nilai sudah pasti tidak mengajarkan apa-apa, ya tidak akan saya baca. Tapi kemudian saya bilang pada diri saya, saya tidak bisa terus begini kalau mau belajar secara benar. Saya harus singkirkan blok-blok itu. Baru kemudian saya bisa lebih santai membaca buku-buku klasik. Pada saat itulah saya menemukan bahwa ada banyak kemungkinan dalam membaca tradisi.

Guru Al-Ghazali, misalnya, Al-Haramain, memiliki sikap realistis mengenai pemisahaan kekuasaan antara otoritas politik dan agama. Dia sendiri hidup dalam sebuah masa di mana kekuasaan spiritual ada di tangan khalifah, yang misalnya diwujudkan dalam bentuk menjadi imam Shalat Jumat, tapi penyelenggaraan kekuasaan sehari-hari berada di tangan panglima perang.

Al-Haramain menulis risalah berisikan teori politik tentang pemilahan tersebut. Saya semula skeptis mengenai dia. Tapi setelah membaca karyanya, saya melihat dia sangat realistis tentang isu pembagian kekuasaan ini. Jadi, bisa dikatakan gagasan tentang sekulerisme pun dikedepankan olehnya.

AA: Kenapa warisan tradisi yang kaya ini tidak sampai ke kelompok muslim
saat ini?

Ulil: Karena mereka tidak baca. Kedua karena tidak punya kemampuan membaca. Untuk membaca karya-karya klasik ini, memang berat. Anda berhadapan dengan teks kuno yang mungkin nampak tidak nyambung dengan keadaan sekarang. Kalau orang tidak dibekali dengan alat untuk menganalisis, sulit sekali untuk memahami substansi teks tersebut. Perlu ketabahan sendiri untuk mempelajarinya.

Kalau saya membacanya sebelum saya berangkat ke sana, mungkin teks-teks itu pun tidak akan berbunyi apa-apa. Tapi begitu kita membacanya dengan kerangka analisis tertentu, menarik sekali. Banyak peminat Islam di Indonesia ini tidak memiliki akses ke sumber-sumber klasik ini. Dan kalaupun punya, mereka tidak memiliki lensa yang dibutuhkan untuk membaca teks-teks tersebut sehingga memiliki makna.

AA: Tapi kenapa ke AS, untuk studi tentang Islam?

Ulil: Saya rasa studi Islam terbaik saat ini ada di Barat. Mereka memiliki kultur kesarjanaan yang tidak ada dalam dunia Islam. Studi Islam di Barat dilakukan tidak atas dasar iman, jadi tidak faith-based. Dan ini menjadi justru sumber keunggulan mereka. Karena dengan demikian, mereka bebas mengeksplorasi Islam sebagai subjek pengetahuan, tanpa ada beban bahwa kajian itu harus sampai pada kesimpulan yang mengkonfirmasi atau menolak kebenaran sebuah doktrin.

Saya rasa itu sangat membebaskan banyak hal. Teks menjadi bisa berbunyi apa saja. Sementara di dunia Islam, yang terjadi sebaliknya. Penelitian dilakukan untuk mengkonfirmasi kebenaran sebuah doktrin, sebuah dogma.

Akibatnya studi Islam di Barat tumbuh luar biasa. Para sarjana di sana bebas untuk melakukan berbagai eksperimen dengan sejumlah metode. Misalnya, dalam studi hadiss. Sejauh-jauhnya seorang sarjana Islam meneliti Hadis, dia tidak akan bisa melepaskan diri dari cara pandang yang bertumpu pada sanad, mata rantai hadis. Jadi seorang sarjana Islam akan bertanya: ”Apakah mata rantai sumber hadis itu sudah benar? Apakah yang meriwayatkan hadis adalah orang baik dan bisa dipercaya?” Kalau jawabannya, semua baik, maka hadis tersebut akan dengan sendirinya dianggap benar. Akibat kepercayaan akan prinsip sanad tersebut, sarjana Islam enggan untuk mempertanyakan kebenaran hadis dari sisi isi-nya, dari sisi formulasi redaksionalnya.

Itu yang tidak membebani sarjana Barat. Mereka tidak punya kendala untuk memverifikasi, menguji kebenaran hadis dari sisi isi. Sehingga dari sarajana-sarjana Baratlah ditemukan bahwa banyak dari hadis yang selama ini diterima sebagai benar oleh para ahli fiqih ternyata sebenarnya palsu, misalnya untuk mendukung posisi legal dalam perdebatan hukum yang tidak mungkin dikatakan Nabi. Kritik semacam ini tidak akan bisa datang dari skema sanad yang dipercaya sarjana Muslim.

AA: Tapi yang justru dikuatirkan, tanpa paradigma yang faith-based ini, Islam akan dipandang sebagai tidak suci lagi dan akan menjadikan sarjana Islam menjauh kebenaran agamanya?

Ulil: Itu miskonsepsi. Dalam tradisi ilmiah, tidak ada keyakinan yang permanen. Setiap pernyataan ilmiah harus bisa dipertanyakan kembali, difalsifikasi. Kesimpulan akan mengalami koreksi terus menerus. Namun justru karena itu, kita melihat bahwa dari para sarjana yang melakukan studi Islam di Barat, tumbuh sikap yang semakin simpatik pada Islam. Ini terjadi karena kesimpulan-kesimpul an studi Islam di masa lalu tidak diterima sebagai kesimpulan yang abadi dan terbuka untuk dikritik. Itu berbeda dengan studi Islam di dunia Islam, yang kecenderungan umumnya
adalah melahirkan bukan statement ilmiah tapi statement iman, sehingga tidak bisa dikoerksi.

Di Barat, studi Islam memang diawali dengan skeptisisme terhadap Islam. Tapi studi itu terus berkembang, menjalani koreksi terus menerus, sehingga justru saat ini yang lahir justru sikap yang semakin simpatik

AA: Ada kekhawatiran bahwa para sarjana Islam yang belajar ke Barat akan pulang dengan mempertanyakan Islam sendiri?

Ulil: Kita memang harus membedakan antara Islam sebagai iman dan Islam sebagai bidang studi. Tapi saya harus katakan, bahkan sarjana klasik Islam jauh lebih menyadari itu. Iman tetap merupakan kerangka besar, tapi mereka tidak dihantui oleh itu.

Misalnya tokoh Islam klasik, Al-Suyuthi. Dia menulis pada abad ke-16 bahwa dalam Alquran sebenarnya ada kesalahan gramatik. Ini persoalan besar karena bagi orang Islam, Quran adalah sebuah mukjizat literal. Kalau ada
kesalahan gramatik, bagaimana bisa disebut keajaiban? Kalau ternyata ada kesalahan, bagaimana dia bisa disebut sempurna?

Tapi Al-Suyuthi menuliskannya. Dan dalam bukunya, ia menunjukkan ada tiga ayat Quran yang mengandung kesalahan gramatik. Jadi ada isi Quran yang menyalahi kaidah bahasa Arab. Buku itu jelas menggangu sekali sarjana
Quran. Tapi toh buku itu diizinkan terbit, tidak dilarang, tidak pernah diharamkan di masanya. Ini menunjukkan bahwa dalam khazanah klasik, Islam sebagai objek studi dipandang sebagai sesuatu yang relatif independen. Ia dilepaskan dari masalah iman atau tidak iman. Buat saya yang terpenting bahwa Al-Suyuthi memuat itu dalam bukunya. Yang ternyata sekarang tidak dimuat oleh pengkaji Islam modern.

Contoh lain, umat Islam saat ini percaya bahwa jumlah surat Quran itu ada 114 dengan susunan yang sudah pasti. Al-Suyuthi menyatakan bahwa urut-urutan surat dalam Quran sebenarnya tidak selalu sama. Ada beberapa Quran yang dimiliki sahabat yang susunannya berbeda. Bahkan ada dua tambahan surat dalam Quran Ibn Mas’ud yang tidak dikenal dalam Quran yang kita kenal sekarang. Saya tidak ingin mengangkat kembali debat tentang berapa sebenarnya jumlah surat Alquran. Poin terpentingnya adalah studi tentang Quran di masa lalu dilakukan secara terbuka dan dihadapi dengan biasa saja.

AA: Tapi kesimpulan itu tidak diterima sebagai kesimpulan mainstream?

Ulil: Ya para sarjana modern berusaha menghindari dari perdebatan itu dengan mengatakan bahwa apa yang dinyatakan Assuyuti tidak reliable, tidak lulus test. Jadi diskusi lebih lanjut dihentikan karena ditutup dengan
kesimpulan bahwa buku itu tidak bisa diterima kebenarannya. Mereka melindungi orotodoksi agama dengan tidak membicarakannya. Seolah karya Al-Suyuthi ini tidak pantas ditelaah, tidak relevan. Padahal ia dikenal
sebagai ahli hadis.

AA: Bagaimana sikap Anda sendiri?

Ulil Sebetulnya saya tahu sudah lama. Tapi setelah saya membacanya kembali, saya shock sekali.

AA: Itu tidak mengurangi keyakinan Anda pada Islam?

Ulil: Tidak mengurangi keyakinan saya pada Quran. Tapi tentu itu mengubah cara saya mendekati Quran. Pada akhirnya saya percaya Alquran adalah kitab suci. Tapi itu tidak berarti bahwa dia harus terbebas dari kritik atau
terbebas dari kemungkinan dia bisa dibicarakan secara kritis. Saya berkesimpulan, Quran adalah teks yang diimani melalui sebuah proses yang memiliki sejarahnya sendiri. Quran bukan teks yang sekali jadi. Quran adalah teks yang terbuka.

AA: Dan ada kemungkinan Al-Suyuthi salah…?

Ulil: Tentu saja selalu ada kemungkinan itu. Dan itulah baiknya kita mendekati objek studi tanpa basis keyakinan, yaitu ini pun bukan kesimpulan akhir. Dia memang bukan kesimpulan yang ngarang-ngarang, arbitrer, tapi dia juga bukan sesuatu yang mutlak benar sehingga selalu harus terbuka untuk kritik. Dia menggunakan data, dan data itu bisa juga
dipersoalkan.

AA: Jadi sebenarnya tidak ada masalah bahwa Anda berangkat ke Amerika dengan keyakinan tertentu, dan di sana Anda akan menemukan data baru yang mungkin berbeda dengan apa yang diyakini selama ini ….

Ulil: Tidak ada masalah, dan yang sebaliknya pun terjadi. Mungkin Anda berangkat dengan sikap tidak percaya pada Tuhan, atau mungkin agnotistik, dan berujung pada simpati. Banyak sekali sarjana Barat yang mempelajari Islam dengan skpetistisme yang kadang radikal dan berujung pada simpati yang mendalam pada Islam. Salah satu contoh terbaik adalah Annemarie Schimmel. Dia tidak pernah menajdi muslim, dan dia memulai perkenalannya dengan Islam secara skeptis. Namun kemudian, setelah dia belajar soal Islam, dia menjadi sarjana yang sangat bersimpati pada Islam.

Bagi orang Islam seperti saya, belajar Islam dengan cara seperti di Barat tidak membawa keruntuhan keyakinan melainkan membuka kita terhadap begitu banyak kemungkinan yang didasari studi ilmiah. Saya merasa tidak ada suatu ancaman besar terhadap keIslaman saya. Di sini sayapun membaca karya-karya sarjana yang sangat kasar dan sinis teradap Islam, seperti Why I am Not a Muslim dari Ibnu Warraq. Tapi saya merasa tidak terancam, karena saya
menganggap itu hanyalah studi ilmiah yang dalam kenyataannya juga dibantah oleh para sarjana Barat lainnya. Itu hanyalah salah satu statement ilmiah tentang Islam, tapi bukan satu-satunya. Karena statement itu banyak, maka
dia saling mengkoreksi.

Karakter kesarjanaan itu yang tidak dipahami banyak orang Islam. Mereka memang skeptis, tetapi terus melakukan self-criticism, saling mengkoreksi. Mereka terbuka terhadap segala kemungkinan, termasuk mendengarkan suara
orang Islam.

AA: Tapi memang ada masa dimana studi Islam di Barat justru cenderung melihat Islam dalam konteks hubungan penjajah dan yang dijajah?

Ulil: Ya, tapi itu sudah hilang, sudah lewat masanya. Orientalisme yang sinis terhadap Islam, yang melecehkan Islam, seperti Ernest Renan di Prancis di abad 19, sudah tidak lagi.

AA: Tapi bagaimana dengan tuduhan bahwa orientalisme dilatarbelakangi oleh hasrat kapitalisme, hasrat penjajahan?

Ulil: Salah satu kritik yang paling tajam kan datang dari Edward Said. Tapi kritik semacam itu menurut saya tidak fair, dalam banyak hal. Bagi para penulis kritis itu, orientalisme adalah alat kontrol yang dipakai Barat untuk menguasai Islam. Saya tidak setuju. Saya anggap, hasrat mengetahui adalah hasrat inheren dalam diri manusia. Memang hasrat mengetahui bisa digunakan untuk menguasai orang lain, tapi itu bukan kecenderungan yang intrinsik dalam manusia.

Saya percaya bahwa hasrat mengetahui sebenarnya adalah impuls dasar manusia untuk mengetahui segala hal. Penyalahgunaan pengetahuan untuk menguasai datang kemudian. Bila Anda memandang orientalisme bukan sebagai abstrak, bukan sebagai sebuah kategori besar, dan Anda berhadapan orang per orang, Anda akan tiba
pada kesimpulan berbeda. Tidak mungkin kita melihat Annemarie Schimmel sebagai orang yang berhasrat menguasai Islam. Mungkin saja ada sebuah institusi di luar sana yang memanfaatkan karya Schimmel untuk menguasai,
tapi itu isu lain.

AA: Tapi tidakkah Anda melihat bahwa tumbuhnya studi tentang Islam yang berlangsung di pusat-pusat penelitian, universitas- unversitas Barat ini turut dipengaruhi hasrat untuk memahami Islam demi kepentingan ekonomi dan
politik?

Ulil: Oh ya, itu pasti ada, karena bukankah penelitian-penelitian itu sebagian dananya datang dari negara? Tetapi hasrat kekuasaan yang datang dari luar masyarakat akademis ini tidak akan sepenuhnya dapat mengendalikan pengetahuan. Kalaupun pengetahuan hendak diarahkan untuk melayani kepentingan tertentu, akan ada pemberontakan. Dan itulah yang terjadi dalam studi Islam di Barat saat ini. Kritik-kritik terhadap
kebijakan luar negeri Bush saat ini datang dari profesor-profesor yang mengajarkan Islam di universitas Barat.

Daniel Pipes, seorang ilmuwan AS yang sangat sinis pada Islam, membuat sebuah website bernama Campus Watch, untuk antara lain memonitor profesor-profesor di AS yang anti Israel dan anti kebijakan AS. Ternyata
sebagian besar profesor yang masuk kategori itu ada di Departremen of Islamic Studies. Dan itu profesor-profesor kulit putih, bukan orang Timur Tengah.

Jadi pengetahuan bisa diselewengkan untuk kepentingan kekuasaan, tapi pada akhirnya disiplin ilmu pengetahuan memiliki otonominya sendiri. Dia bisa dipakai, tapi pada akhirnya kalau dia diperlakukan semacam itu, dia akan
memberontak. Kekuasaan punya batas. Studi Islam punya otonomi yang non-faith based, yang terus mengkoreksi dirinya sendiri. Dan apa yang dihasilkan oleh masyarakat peneliti di sana bukan hanya bermanfaat bagi
studi Islam tapi juga memberi masukan berharga bagi para policy makers dalam memandang dunia Islam.

Saya percaya bahwa kalau ilmu pengetahuan dilepaskan dari beban non-ilmiah, termasuk di dalamnya beban iman, maka ia akan membawa kemaslahatan yang besar bagi seluruh masyarakat.

AA: Anda berada di sana, Anda tidak melihat semacam konspirasi?

Ulil: Kalau saya duduk di kelas, saya memandang seorang profesor, … ya dia adalah seorang sarjana, ilmuwan yang bekerja dengan data, menggunakan teori, berusaha menjelaskan fakta dengan teori-teori tersebut, dan
kemudian bisa dichallenge oleh siapa saja.

Saat ini semakin banyak orang seperti Esposito, Karen Armstrong yang sangat bersimpati pada Islam. Sedemikian banyak, sehingga sekarang terjadi pendulum balik. Ada kekuatiran bahwa sekarang kok studi Islam maunya
memuji-muji Islam saja. Kok tidak ada kritik? Ada semacam kerisauan bahwa ada sikap berlebihan untuk menjaga political corectness. Seolah-olah kalau ada mengkiritik Islam, Anda menjadi politically incorrect. Sekarang ini,
kecenderungan itu dikritik kembali oleh sejumlah sarjana karena dianggap mulai tidak sehat. Tapi ya memang begitulah. Iklim pengetahuan di sana sangat dinamis — lari ke kiri kekanan, tapi at the end of the day, dia
terus mempebaiki dirinya sendiri.

AA: Anda melihat studi di AS menjadi lebih baik daripada Eropa?

Saat ini memang yang terbaik di AS. Banyak sekali sarjana terkemuka Eropa pindah ke AS. Baik karena dana riset di AS yang jauh lebih besar, maupun karena iklim akademik AS jauh lebih baik. Studi Islam di AS pelan-pelan
melampaui Eropa. Walaupun masterpiecenya masih di Eropa, peninggalan dari masa lalu.

Dan yang berkembang bukan cuma perguruan tinggi yang non-faith based, namun juga yang berbasis agama. Saat ini di beberapa tempat, lahir sekolah-sekolah tentang Islam yang berbasis agama. Tapi pendekatannya juga
terbuka. Dan ini yang menurut saya juga merupakan pengaruh dari studi-studi Islam yang non-faith based tadi.

Kesimpulan-kesimpul an ilmiah yang dilahirkan dan disebarkan lembaga pengetahuan akan mengkoreksi keyakinan-keyakinan umat bergama yang ternyata tidak memiliki dasar ilmiah. Corak pemahaman keagamaan Islam di
AS mau tidak mau memperhitungkan kesimpulan2 ilmiah yang masuk akal. Mereka menjadi lebih toleran, lebih terbuka lebih menggunakan akal.

AA: Interaksi itu turut mengubah corak keberagamaan kaum imigran?

Ulil: Imigran generasi pertama tentu tidak. Tapi anak-anak mereka kan bersekolah?. Bahkan sebagian dari mereka mengikuti studi Islam di perguruan tinggi. Itu berpengaruh terjadap komunitas Islam. Karena itulah
saya berharap banyak pada pertumbuhan Islam di Barat. Karena mereka tumbuh dalam peradaban yang mewarisi renaissance, maka Islam yang berkembang di Barat pasti akan bicara dalam semangat renaissance. Mereka harus
menginkorporasikan buah pikiran Immanuel Kant, Rosseau; dan tidak bisa semata-mata bicara filsafat Al Ghazali, Ibnu Rusy. Saya menunggu dengan berdebar2 corak Islam seperti apa yang akan lahir dari peradaban.

AA: Anda sudah melihat lahirnya corak2 baru itu?

Ulil: Ya, itu berlangsung. Sebagai contoh Irshad Mandji. Dia seorang wanita muda yang sangat aktif bicara soal Islam, keturunan India berasal dari Uganda, cantik, mendirikan sebuah projek bernama projek ijtihad. Dia mengaku muslimah tapi sekaligus lesbian. Ini tidak mungkin terjadi di luar Amerika. Dia menyuarakan pesan2 Islam, deeply comitted to Islam. Sangat konfrontatif. Dia mengkritik keras para ulama. Dia buat acara di televise PBS, berjudul Faith Without fear. Dia membaca Quran dengan cara rasional tanpa mengabaikan aspek-aspek spiritual dalam Islam.

Bahkan di sana sekarang ada komedi muslim. Ada standup comedian yang mengkomedikan Islam. Mengejek Islam, tapi juga mengejek cara orang AS memandang Islam. Semua disampaikan secara santai ….

AA: Jadi Anda menunggu dengan berdebar-debar dan optimistis?

Ulil: Saya opitmistis, karena infrastruktur yang ada memungkinkan lahirnya renaissance dalam Islam. AS berbeda dengan Eropa. Di Eropa kan kebanyakan imigran Islamnya adalah pekerja kasar, ekonomi rendah. Di AS,
kebanyakan kan datang ke AS untuk sekolah. Sebagian memang imigran dari masa lalu yang meninggalkan tanah kelahirannya karena situasi politik atau perang, tapi sekarang kan sudah generasi kedua dan ketiga yang sudah
sekolah di AS juga.

AA: Anda bicara infrastruktur pendidikan juga.. perpustakaan?

Ulil: Perpustakaan memang penting. Tapi yang lebih penting adalah publikasi. Produksi buku tg Islam di sana luar biasa mengagumkan. Setiap bulan terbit buku baru tentang Islam. Ini dimungkinkan karena kultur akademik yang baik.

Dalam hal studi Islam misalnya, mereka memiliki bahan-bahan yang dapat dieksplorasi secara berkelanjutan. Di Barat, perpustakaan bukan hanya menyimpan buku-buku tercetak, tapi juga manuskrip-manuskrip klasik asli
dalam tulisan tangan yang berabad-abad usianya. Melalui manuskrip-manuskrip itulah, lahir berbagai studi verifikasi teks. Dengan ketersediaan teks yang berlimpah, para sarjana melakukan studi mengenai misalnya, apakah teks ini memang benar ditulis oleh Al Ghazalli; atau kalaulah benar, apakah ini ditulis oleh penyalin yang memang berusia dekat dengan usia Al Ghazalli, apakah penyalinan ditulis dengan lengkap dan utuh.

Dengan demikian, sebuah teks, sebuah manuskrip memiliki sejarahnya sendiri. Teks bisa diuji dengan hukum2 yang objektif. Dan itu kemudian berlaku untuk semua teks, termasuk pada Alquran juga.

Studi manuskrip menjadi salah keunggulan Barat. Yang baru belakangan dikuti oleh dunia Islam. Dalam hal jumlah manuskrip, perpustakaan besar seperti di Princeton University AS, mungkin kalah dari perpustakaan Islam
di Turki atau Mesir, misalnya. Tapi orang yang bekerja mempelajari, memverifikasi manuskrip-manuskrip itu lebih banyak di AS.

AA: Apakah Anda bisa membayangkan studi serupa berkembang di Indonesia.

Ulil: Sebenarnya studi Islam di sini perlahan-lahan berkembang menjadi kesarjanaan non-faith based. Tapi tidak bisa sepenuhnya. Beban keimanan itu tidak akan bisa hilang. Karena itu saya rasa studi Islam di dunia
Islam tetap membutuhkan studi Islam di dunia barat. Sebagaimana studi Hindu di India tidak bisa melepaskan diri dari komitmen kehinduan.

AA: Anda sudah dua tahun di AS. Bagaimana Anda memandang perkembangan Indonesia dari jauh?

Ulil: Satu hal yang saya lihat adalah bahwa sekulerisme itu akan sangat dirasakan manfaatnya ketika Anda menjadi minoritas. Ketika Anda mayoritas, Anda tidak benar-benar menyadari manfaatnya. Orang2 Islam di AS saya rasa
pelan-pelan mengakui betapa enaknya hidup dalam sebuah negara yang menganut sekulerisme, daripada kalau AS pelan-pelan menjadi negara Kristen sebagaimana yang diagendakan kaum Evangelical.

Saya rasa kaum Islam akan mengapresiasi renaissance, persis karena mereka di sana. Sekulerisme di AS kan bukan hostile secularism melainkan religion-friendly secularism. Karena itu terpaan sekulerisme pada kaum Islam sebagai minoritas itu penting sekali. Saat ini kosa-kosa kata yang digunakan aktivis Muslim AS sudah kosakata sekuler. Misalnya civil liberty, hak-hak sipil. Itu kosakata sekuler. Orang berjenggot Wahabi di sana pun menggunakan kata civil rights. Ya, memang pertama-tama mereka menggunakan kosakata itu berdasarkan asas manfaat, karena menguntungkan kaum muslim minoritas. Tapi perlahan-lahan saya percaya mereka akan meyakini itu. Saya mereka akan secara tulus menghayati norma-norma hak sipil.

AA: Jadi semakin Anda di AS, Anda semakin sekuler

Ulil: Hmmm saya rasa saya semakin mengapresiasi.

17 September 2007//Pukul 09:17:47

SUMBER :
adenina@cbn.net.id
jurnalisme@yahoogroups.com

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Yang menarik perhatian kami dari hasil wawancara sdr. Ulil Abshar Abdalla oleh pewawancara sdr. Ade Armando adalah kata-kata kalimat yang diutarakan oleh yang diwawancarai sdr.Ulil:

    1. “Saya menunggu dengan berdebar-debar corak Islam seperti apa yang akan lahir dari peradaban”.
    2. “lahirnya renaissence dalam Islam”.

    Sebenarnya jawaban persisnya sudah ada didalam kitab-kitab suci agama-agama sebagai berikut:

    A. Didalam Kitab Suci Islam: Allah mewajibkan menunggu-nunggu akan tetapi dilupakan:
    1. Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14: Datangnya Allah menurunkan hari-hari Allah sebanyak tidak kurang dari 400 ayat dan tinggal pembuktiannaya seperti apa, diantaranya yang penting:
    2. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan hari takwil kebenaran kitab.
    3. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab yang mendapat protes dari orang-orang arab sesuai At Taubah (9) ayat 97.
    4. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnkan pewahyuan Al Quran berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia.
    5. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya Allah membangkitkan semua manusia dengan ilmu pengetahuan agama.
    6. Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, An Nashr (110) ayat 1,2,3: Datangnya Allah menyempurnakan agama disisi Allah adalah Islam ketingkat Agama Allah untuk semua agama.
    7. An Nahl (16) ayat 93: Datangnya Allah menciptakan umat yang satu; yang tidak setuju sesat; yang setuju diberi petunjuk.
    8. Hal-hal tersebut adalah untuk menyelesaian perselisihan persepsi antara agama-agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 113 dan menyelesaikan perpecahan persepsi didalam agama sebagaimana diramalkan oleh nabi akan menjadi 73 firqah sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 (sesat sampai suatu waktu hari kiamat yang artinya hari habis gelap terbitlah terang benderang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2) ayat 257, Ibrahim (14) ayat 1), Yudas 1:18,19,20,21 (pecah-belah dalam hidup tanpa Roh Kudus dan wajib kemabli kepada rahmat tuhan Al Anbiyaa (21) ayat 107).

    B. Didalam Al Kitab Suci Perjanjian lama dan perjanjian baru:
    1. Kisah para rasul 1:9,10,11: Datangnya Yesus Kristus untuk kedua kalinya yang didukung oleh kitab suci Islam sesuai An Nisaa (4) ayat 159, Al Maidah (5) ayat 82.
    2. Yohanes 16:12,13,14,15: Datangnya Roh Kebenaran yang menjelaskan seluruh kebenaran.

    C. Didalam Kitab Suci Weda, Baghawadgita, Percakapan IV:5,6,7,8: Hari Dharma mengalahkan Adharma atau hari yang hak mengalahkan yang bathil.

    D. Didalam Kitab Suci Tipitaka, Cakka Vati Sihanada Butta Digha Hikaya: Datangnya Buddha Maitreya, Roh Nibana untuk kepentingan perdamaian manusia hari ini.

    E. Arah tujuan A,B,C,D adalah sama yaitu ilmu pengetahuan persepsi tunggal agama yang dapat diterima oleh semua umat manusia beragama era globalisasi agama, sebagaimana dijelaskan didalam sorga ilmu pengetahuan agama ajaran Adam dalam kitab suci Al Baqarah (2) ayat 30-34,35,36-39, Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha 20) ayat 117.

    F. Untuk penjelasan secara total atas hal-hal tersebut daiatas, teori pelaksanakannya kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berisi XX+527 halaman berikut lampiran terpisah skema acuan berukuran 60×63 cm:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selam 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    ‘BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 8573388

  3. Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana gandakoesoema

    I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama (APU) Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai kepada putusan menerima atau menolak dengan hujjah, sebagaimana hujah yang terdapat didalam buku itu sendiri.

    II. Telah dibedah oleh:
    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2001.

    B. Prof. DR. Budya Pradiptanagoro, Penghayat Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FS Universitas Indonesia.

    C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Filsafat Universitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, Pendeta Nasrani, anak paman Siti Hadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ).
    Pertanyaannya yang sulit untuk dijawab akan tetapi sangat logis dan wajar untuk dipertanyakan adalah, waktu Siti Hadijah dan Muhammad sebagai orang baik, patonah, sidik, amin, dan lain sebagainya sebelum menerima wahyu mereka menikah dengan cara ritual agama apa dan mereka berdua beragama apa ?

    E. Disaksikan oleh 500 peserta seminar dan bedah buku yang diakhiri oleh dialog tanya-jawab. Apabila waktu tidak dibatasi, maka akan mengulur sangat panjang sekali, disebabkan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan oleh para hadirin.

    Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta 100002, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitan agama-agama (1301-1401 hijrah) (1901-2001 masehi)” diacara: Seminar & Bedah Buku, hari/tanggal Selasa 27 Mei – 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Panca Sila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  4. Cepot Gorbachev, Pembau Pepsi Tinggal 3 milli liter Masa-sich.
    ——————————————————————————————————–
    Gratis… gratis… gratissss😀
    Silahkan berkunjung rame-rame, murah dan meriah di:

    Bacaan gratis := http://haniifa.wordpress.com

    “@mas Eka main-Catur bari Sila, dengan lawan-tunggal @mba Ika”
    Penonton := Gratis… tis !!
    Kecuali sambil sbb:
    “Minum Pepsi Cola gratis, setelah minum bayar dunk… “

    Tersedia ditoko-toko dan kios-kios terdekat :
    _____________________________________________
    Jl. Carisendiri -C, Bandung-Jakarta-Sumatra
    (Bus Trans Sumatra…😀 )
    Telp. 062-00-007
    Fax. 061-00-007
    Email. “GUNDUL-GUNDUL PACUL” Susuganan kayak Celengan😀

    Cepat-cepat, siapa Cepat baca buku si Cepot siap Copot😀
    (Apa nyang dipandu wong… pasang iklan dikoran aja bokek…)
    —————————————————————-

    PratPretProt,Cepot Gorbachev, Pembau Pepsi Tinggal 3 milli liter Masa-sich.

  5. Hei… 8) “GUN” and “JIL”…. eh salah… “JIL”-”GUNDUL”

    Punten nyah, Kang Cepot Gorbachev hitut tadi…

    Perepeetttttt, PROT’s… duh aya bukuran geuning !!!😀

  6. Cepot nyelepot: “Reng… Gareng… na kamana si JIL teh ?!”
    Gareng garing: “si JIL teh… anu Jelema Ilmuna Lieur tea ?!”
    Cepot nyengir: “Heu…ehn, ari Garong…eh.. Gareng”
    Gareng gerung: “Kapan ku maneh dihitutan… jadi ayeuna keur di UGD”
    Cepot lieur: “Naon ari UGD… ”
    Gareng bageur: “UGD… teh Uganda… oyon😛 ”
    Cepot nyimpul: “Paingan mas@Ganda mirip kang@Idi-Amin

    Nyambung ka carita “SI CEPOT NYEMPOT”….😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: