Menyikapi Perubahan

September 17, 2007 pukul 1:49 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh MUHAMMAD ASEP ZAELANI

PERUBAHAN merupakan sesuatu yang sudah menjadi suatu ketetapan Tuhan yang tidak mungkin bagi kita untuk bisa menghindarinya. Sesuatu yang sudah pasti akan datangnya (sunatullah). Kita bisa berkaca kepada diri, renungkanlah hal-hal yang pernah kita jalani selama hidup, yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Apakah ketika kita dilahirkan sudah dalam keadaan seperti sekarang? Atau apakah kita sekarang sama dengan kita pada tahun-tahun yang lalu? Jawabannya sudah pasti tidak. Segala sesuatu dalam kehidupan ini sudah pasti akan terus mengalami perubahan. Hal ini sesuatu yang sangat wajar karena memang diperlukan untuk menjaga kedinamisan alam raya ini.

Perubahan terjadi di dalam semua lini kehidupan, tidak terkecuali dalam sebuah bangsa, organisasi atau perusahaan. Arie de Geus menandaskan bahwa sebuah perusahaan pada dasarnya adalah sesosok makhluk hidup (a living organism). Karena ia hidup maka ia mengalami proses melahirkan, tumbuh, sakit, tua dan dapat mati seperti makhluk hidup yang lainnya. Kalau perawatannya baik maka akan bisa bertahan dan berumur panjang.

Banyak perusahaan-perusahaan yang dulunya besar kemudian harus ter(di)paksa untuk gulung tikar karena mereka tidak mampu menghadapi persaingan (perubahan) dengan para competitor baru. Salah satu faktor penyebabnya karena sebagian orang/perusahaan tersebut telah terperangkap pada “kesuksesan masa lalu”. Mereka sudah merasa puas dengan apa yang sudah mereka raih dan dapatkan. Padahal seperti yang dikatakan oleh Peter Drucker, bahwa bahaya terbesar dalam perubahan bukanlah pada perubahannya, melainkan “cara berpikir kemarin” yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.

Setiap saat, setiap waktu akan tumbuh pesaing-pesaing baru dengan keanekaragaman ciri khas dan keungulan yang coba untuk ditawarkan. Akan muncul trend-trend baru yang kemudian akan menggantikan trend-trend lama yang tentu kesemuanya itu akan berpengaruh banyak terhadap setiap pekerjaan yang sedang kita geluti sekarang.

Berubah atau diubah? Dalam kehidupan social tidak ada sebuah perubahan yang terjadi dengan alamiah. Semuanya penuh dengan rekayasa-rekayasa yang memang sengaja diciptakan (social enginering). Sehingga kemudian mau tidak mau, suka atau tidak suka dalam menghadapi dan mengarungi kehidupan ini kita akan dihadapkan pada dua buah pilihan, kita menciptakan perubahan sendiri atau justru dirubah (mengikuti perubahan yang dibuat oleh orang lain).

Pilihan yang pertama memberikan banyak ruang kepada kita untuk bisa merancang, memilih, mengkreasikan dan mewujudkan berbagai keinginan dari sisi idealisme kita sendiri. Sedangkan pada pilihan kedua cenderung membelenggu dan memaksa kita untuk turut pada skenario yang dirancang oleh orang lain.

Kembali kepada permasalahan utama yang ingin coba saya angkat, apakah ada jaminan organisasi kita atau perusahaan tempat kita bekerja akan terus ada dan bisa bertahan ditengah arus perubahan yang semakin cepat serta susah untuk diprediksi seperti sekarang ini. Tentu butuh sebuah perenungan dan analisis yang mendalam untuk bisa menjawabnya. Namun kita bisa belajar dan meminjam teori evolusinya Charles Darwin. Dia mengatakan “Bukan yang terkuat yang mampu berumur panjang, melainkan yang paling adaftif”. Perusahaan kita akan tetap bertahan memenangkan persaingan serta berumur panjang apabila selalu bisa menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang terjadi. Makhluk hidup berevolusi untuk mempertahankan kehidupan dan meneruskan keturunan. Dalam evolusi itu, kadang makhluk hidup harus menoleh kebelakang untuk memaknai kehidupannya dimasa yang akan datang. Tetapi ternyata untuk saat sekarang ini tidak cukup hanya sekedar belajar dari masa lalu, kita harus juga belajar untuk melihat masa depan. Kita harus pintar dalam melihat berbagai kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Dalam bahasa manajemennya kita harus memiliki keahlian Visioning dan Trand Wacthing. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah dalam ushul fiqh bahwa “Kita tetap harus memelihara nilai-nilai lama yang baik tapi juga tidak menutup diri untuk mengambil nilai-nilai baru yang sekiranya lebih baik”.

Bahkan jauh sebelum orang-orang berbicara tentang manajemen perubahan, Rosulullah Saw sudah memberikan sebuah isyarat kepada kita tentang pentingnya sikap terbaik dalam menghadapi perubahan. Dalam sebuah hadist-Nya dikatakan bahwa “Orang-orang yang akan beruntung adalah orang-orang yang apabila hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin, sedangkan orang-orang yang akan rugi adalah orang-orang yang hari ini sama dengan hari kemarin dan akan lebih buruk lagi (bangkrut) kalau hari ini lebih jelek dari hari kemarin”.

MUHAMMAD ASEP JAELANI,
Alumni Pesantren Daarut Tauhiid Bandung

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: