Amanah dan Jujur

September 14, 2007 pukul 12:12 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

“Amanah akan mengantarkan seseorang kepada kekayaan, sedangkan khianat akan mendatang kefakiran”–Al-Hadits.

Allah memerintahkan kita melaksanakan amanah baik dalam arti sempit maupun luas. Sebagai orang muslim yang beriman kita memiliki amanah, di antaranya berhidmat terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. “Manusia yang paling baik adalah yang paling memberikan manfaat bagi yang lainnya”, begitulah sabda Rasulullah. Oleh karena itu siapa pun kita, di manapun kita, dalam kondisi apapun kita tetap harus memberi manfaat kepada orang lain. Apatah lagi jika kita memiliki kedudukan atau jabatan yang mempengaruhi hajat hidup orang lain, maka amanah dalam diri kita semakin banyak. Selain itu, sikap, dan perilaku kita akan memiliki dampak terhadap orang lain, dan seharusnya lebih banyak memberi manfaat kepada mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah di atas, amanah dapat mendatangkan kekayaan bagi seseorang, maka kita akan menjadi orang kaya bila mampu melaksanakan amanah yang kita emban. Namun, kekayaan di sini tidaklah bersifat materialistik berupa tumpukan harta, tetapi kekayaan jiwa dari rahmat Allah. Oleh karena itu, mungkin saja Allah telah mencabut rahmat dari bangsa kita sehingga sampai kini krisis demi krisis melanda negeri ini.

Selain harus mampu melaksanakan amanah sesuai posisi dan fungsi, kita harus bersikap jujur. Sikap jujur adalah upaya melakukan sesuatu atau menyampaikan sesuatu sesuai yang sebenarnya. Artinya jika kita jujur, kita akan melakukan sesuatu yang benar, dengan cara atau tahapan benar, untuk tujuan yang benar, dan dasar yang benar. “Janganlah engkau melihat kualitas diri seseorang itu dari panjang rukuk dan sujudnya, tetapi lihatlah dari kejujuran dan kesetiaan dalam menjalankan amanah”, demikian nasihat Imam Ja’far Ash-Shadiq. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 69, yang artinya: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shadiqin (orang-orang jujur dan mencintai kebenaran), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.”

Sekarang, sudahkah kita memiliki komitmen melaksanakan amanah dan bersikap serta berkata jujur? Jika sudah mari kita ajak keluarga kita, teman-teman kita, para atasan kita, para ustadz (murobbi) kita, para pemimpin dan wakil di pemerintahan kita untuk melaksanakan amanah yang diemban dan untuk bersikap serta berkata jujur. Sebagai pribadi kita harus melaksanakan amanah Allah untuk mengosongkan diri dari kemaksiatan, mengisi dengan iman dan ilmu, dan menghiasi dengan akhlak mulia. Kita juga usahakan agar keluarga kita memiliki kecerdasan aqliyah, kekokohan aqidah, dan keistiqamahan amaliyah. Setelah itu mari kita mendemontrasikan akhlak mulia secara kolektif agar menjadi poeple power (kekuatan rakyat) dan gerakan oposisi untuk menekan para pemimpin dan wakil kita di pemerintah dan DPR agar berakhlak mulia, berpikiran cerdas dan dewasa, bersikap adil dan bijaksana, serta segera menepati janji dan melaksanakan amanah dalam menyejahterakan rakyat. Kita tidak butuh perdebatan yang emosional dan tidak cerdas dalam upaya membela rakyat seperti yang telah berlalu.
Namun kita tidak boleh putus asa dan harus yakin bahwa kualitas para pemimpin di pemerintahan dan wakil di DPR adalah gambaran kualitas masyarakat kita yang belum berkualitas secara kolektif. Dengan demikian kita kaummuslim yang mayoritas harus peduli perkembangan politik dan harus mampu memilih pemimpin dan wakil rakyat yang berakidah kuat, berpikiran cerdas, berakhlak mulia, bersikap adil, dan mau melaksanakan amanah, serta jujur dalam berucap dan bertindak. Bagi kita tidak perlu merasa ada masa (priode) yang sia-sia. Ketika dalam kondisi begini seperti kita rasakan, masih banyak yang pelu kita urus mengenai umat ini, ketika dalam kondisi semi berkuasa kita diperintahkan untuk bersikap cerdas, bijaksana, dan penuh perhitungan. Begitu pula jika Allah memberi amanah kepada kita untuk berkuasa atau memimpin bangsa, Allah memerintahkan kita bersikap adil, mengayomi, dan melindungi orang-orang tertindas dan minoritas, siapa pun orangnya. Sekarang, dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, kita sarankan kepada wakil kita di DPR: Bersikaplah proaktif; janganlah melakukan tindakan yang akan menyengsarakan diri seperti mogok makan atau membakar diri, dsb. “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”, begitu perintah Allah dalam al-Quran (QS.2:195); Selain itu laksanakanlah perintah: “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian jika kamu telah membulatkan tekad maka bertakwalah kepada Allah”. Jika belum berhasil juga, Allah telah menganugerahi kita akal untuk berpikir.

Seandainya kita mau menggali ajaran dari Allah dan Rasul-Nya dalam al-Quran dan sunah melalui orang-orang yang amanah dan jujur serta memiliki kualitas yang lebih dari sekedar mengajarkan, insya Allah kita tidak akan menghadapi masyarakat begini ini atau para pemimpin dan wakil rakyat begitu itu. Kita akan menghadapi masyarakat atau orang-orang yang sangat dekat dengan Allah dan kelak di akhirat akan dekat dengan Rasulullah. Siapa gerangan? “Nanti yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah kalian yang paling jujur dalam berbicara, paling setia dalam menjalankan amanah, paling menepati janji, paling bagus akhlaknya, dan paling khidmat kepada manusia”, begitu sabda Rasulullah saw.

AHMAD DIMYATI,
Editor Buku-buku Pelajaran sebuah Penerbitan di Bandung

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: