‘Maha Auditor’

September 14, 2007 pukul 7:03 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

SORE hari, udara Pasuruan sudah lebih ramah ketimbang beberapa jam sebelumnya. Jalan padat, karena banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya.

Di antara pedagang di jalan yang padat itu, seorang wanita tua berkerudung menggelar plastik kecil berisikan jepit-korek gas, peniti, dan beberapa barang dagangan yang terlihat kuno dan tidak modern.

Aku tertegun melihat kegigihannya lalu merapatkan diri ke lapak itu. “Bu, mau tanya. Boleh kan?” sapaku lembut. Nenek itu mengangkat wajahnya dan memandangi wajahku sejenak seakan berusaha untuk mengingat-ingat.

“Oh, monggo ye,” jawabnya ramah. (‘ye’, adalah panggilan khusus untuk lelaki keturunan Arab di Jawa Timur).

“Maaf, Bu! Mengapa ibu yang sudah tua masih berdagang, padahal jarang orang yang membeli karena dagangan ibu, maaf, kalah kualitasnya dengan barang-barang di toko yang dijual oleh wanita-wanita yang jauh lebih muda,” tanyaku dengan nada pelan.

“Kulo dagang niki kerno kepingin oleh ganjaran kasab. Kasab niku ibadah (saya berdagang ini karena ingin mendapatkan pahala mencari rezeki dengan tangan sendiri. Inilah ibadah),” jawabnya lembut.

Saat kuberikan beberapa lembar uang sebagai penghargaan, wanita itu pun berkata, “Belilah daganganku, maka aku terima pemberianmu.” Aku pun mengambil peniti dan korek gas yang kuperlukan untuk membakar rokok.

Menurut tasawuf, rezeki adalah segala sesuatu yang berpengaruh positif terhadap peningkatan kehambaan. Ia bisa berbentuk kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Ia juga bisa berupa kebalikannya. Dengan kata lain, rezeki adalah sesuatu yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah. Setiap manusia akan diminta alasannya memilih menjadi kaya atau miskin, berkuasa dan dikuasai dan segala sesuatu yang kecil maupun yang besar. “Ia tidak akan meninggalkan yang kecil maupun besar melainkan menghitungnya.”

Rezeki dapat dibagi menjadi dua : Pertama, Rezeki material. Ia adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh indera lahir, seperti alam jagat raya, hasil kekayaan alam, makanan, tumbuhan, hewan, harta kekayaan, anak, perhiasan dan lain-lain. Sebagian besar kata rezeki dalam al-Quran ditujukan kepada rezeki material. Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.

Rezeki adalah sesuatu yang terbebas dari dua virus; 1) Haram, yaitu segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Kadang sesuatu disebut haram karena substansi bendanya, seperti minuman keras, dan kadang pula karena proses perolehannya, seperti uang yang dihasilkan dari korupsi; dan 2) Syubhah, yaitu segala sesuatu yang tidak jelas kedudukan halal dan haramnya, seperti hadiah kepada pejabat negara (gratifikasi);

Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah-limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan masing masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih-lebihan. Karena sikap ini akan menjurus kepada aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia. Ia akan memandang semua harta orang sebagai hartanya, sedangkan hartanya hanya miliknya. Karena itu ia dengan tenang menggunakan surat dan kop departemen untuk menghimpun kekayaan publik kalau menarinari di atas derita mereka seraya berharap tiada mata yang melihatnya. Ia lupa bahwa akhirat adalah sidang pengadilan paling ketat dan Tuhan Maha Auditor.

Ketika mencari rezeki dengan sungguh-sungguh, mukmin sejati selalu memperhatikan pula cara bermuamalah, sikap hati-hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan yang haram. Rezeki berkaitan erat dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. “Berbekallah kamu, maka sebaik-baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah.

Bertakwa dengan harta adalah memberikannya kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap Muslim itu terkandung hak orang-orang lemah. Allah berfirman, Dan dalam harta-harta mereka, terdapat hak-hak orang yang meminta dan terlantar.

Kedua, rezeki spiritual. Ia adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati dengan indera batin, “Dan jangan kalian menduga bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah adalah mati. Mereka hidup dan senanatiasa mendapatkan rezeki.” Pernyataan Allah ini menegaskan bahwa kematian yang merupakan bencana material adalah rezeki. Ia adalah rezeki paripurna, karena dengan kematiannya, ia menghidupkan banyak orang. Untuk kematian istimewa ini, tidak setiap orang dapat meraihnya. Ia harus diperoleh dengan perjuangan dan kegigihan. “Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami, niscaya akan Kami berikan jalan-jalan Kami’

Lalu, bila rezeki telah ditentukan dan semuanya mendapatkan peluang yang sama, mengapa ada yang sangat miskin dan ada pula yang sangat kaya? “Itu karena ada hak orang lain yang diambil secara aniaya,” kata Ali bin Abi Thalib.

Penulis MUHSIN LABIB
Renungan, Edisi 20 Majalah Adil
http://adilnews.com

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: