Skenario Tanpa Skrip

September 11, 2007 pukul 6:37 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

JUDUL : Iran skenario penghabisan
PENULIS : Musa Kazhim dan Alfian Hamzah
PENERBIT : Ufuk
TAHUN : 2007
TEBAL :190 halaman


BUKU ini adalah buah tangan dua penulis muda handal yang telah menelurkan berbagai buku laris, termasuk di antaranya Ahmadinejad: David di Tengah Angkara Goliath Dunia. Buku yang sukses alang kepalang itu ingin diulang dalam karya terbaru kali ini, walau terpaksa kehilangan dua penulis lainnya, dengan subyek yang tak jauh berbeda: Iran.

Singkat, padat, dan mudah dicerna. Iran pantas dibawa dan dibaca di antara waktu menunggu kereta atau di dalam angkutan kota. Nama dan reputasi kedua penulis menjamin kerenyahan bahasa dalam irama jurnalisme sastrawi yang cantik namun berisi. Simak bagaimana Wahhabisme digambarkan sebagai “sekte yang pemahaman terhadap Islam mengingatkan orang pada burung Nasar” (h.27). Atau kalimat ini: “ketertindasan tidak seperti rerumputan yang tumbuh liar di hutan Borneo, atau tumpukan asteroid di luar angkasa” (h.189). Kalimat-kalimat yang dipergunakan melompat-lompat riang seperti dentingan musik hasil komposisi Rossini. Eksplorasi dan eksperimentasi kata serta kekayaan kosa kata merupakan kenikmatan paripurna dari karya ini dan membuatnya memiliki kekhasan tersendiri.

Iran menyuguhkan suatu proposisi spekulatif tentang keniscayaan konflik antara Amerika Serikat dengan Iran. Walau pesannya terkesan apokaliptik, pembahasan dalam buku ini bersifat membumi dan masih berusaha terikat pada fakta. Dibagi ke dalam tiga bab dan satu epilog, Iran membawa pembaca berkelana dari konflik minyak Timur Tengah ke Revolusi Islam Iran, dari Mustafa Chamran ke Hasan Nasrallah, mulai brownies sampai wehrgeopolitik. Semua itu untuk menegaskan satu anggapan “Amerika menyiapkan sebuah perang terbuka, perang penghabisan kata mereka, melawan Iran” (h.7).

Musa dan Alfian berusaha memperlihatkan keniscayaan konflik itu dengan menarik untaian pembahasan ke sejarah. Mereka menyorongkan pembahasan beragam konflik yang melibatkan kedua negara, Amerika Serikat dan Iran, secara langsung maupun tidak. Bab satu berusaha memperlihatkan motivasi ketertarikan Washington terhadap Timur Tengah yang tak sekadar minyak tetapi juga keberadaan “pangkalan militer post-modern di semua penjuru, dari Saudi hingga Suriah, dari Yordania hingga Qatar” (h.11).

Tentunya merupakan pertanyaan tersendiri bagaimana mungkin Suriah yang anti-Amerika menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS. Beberapa negara Timur Tengah menolak menjadi pekarangan belakang AS: Libanon, Palestina, Irak, dan Iran. Musa dan Alfian lantas memberikan perhatian khusus pada Iran dengan senjata khasnya: Ayatullah Khomeini dan kini Presiden Mahmud Ahmadinejad.

Bab kedua memperlihatkan bagaimana Iran berbeda dari negara-negara Timur Tengah yang lain. Dengan memberikan penjabaran meluas tentang kondisi geopolitik dan sejarah di kawasan penuh konflik itu, Musa dan Alfian menunjukkan perbedaan itu karena “Iran memiliki gen usyghur –binatang dalam fabel Rumi yang bila dipikul keras bertambah kuat dan besar badannya” (h.72). Iran juga dibesarkan oleh seorang pemimpin setingkat Ayatullah Khomeini yang “sepenuhnya yakin bahwa rentetan kekalahan bangsa Arab dalam melawan AS dan Israel ialah karena mereka meninggalkan Islam. Begitu mereka megenakan baju Pan-Arabisme, daya dan pamor yang mereka miliki langsung sirna” (h.68).

Bab ketiga memaparkan berbagai konflik kontemporer Timur Tengah, yang dianggap merupakan pemicu dan tanda-tanda sebuah skenario besar dari Washington dan Tel Aviv untuk menghantam Iran. Penundukan Palestina dan penyerbuan ke Libanon dipandang sebagai bagian awal dari suatu penyerangan Amerika Serikat, dibantu Israel, ke Iran. Ternyata, Hizbullah berhasil menghadang Israel di Libanon Selatan sedangkan Palestina tetap bertahan melawan Israel seiring dengan kemenangan pemilu untuk Hamas. Musa dan Alfian menjabarkan rancangan-rancangan serangan yang sudah tersebar luas di media massa, seperti hasil riset jurnalis New Yorker, Seymour Hersh, atau pengamat globalisasi Michael Chussodovsky.

Buku ini ditutup dengan sebuah epilog yang mengingatkan masalah Iran dan problema kemiskinan di Indonesia bermuara pada satu persamaan: ketertindasan. Sehingga “sukar bagi kita untuk tidak mengatakan bahwa himbauan agar melupakan Iran dan mendahulukan soal kemiskinan sama saja dengan meminta orang melepas akal sehat dan membuang hati nurani” (h.190-191).

Buku ini menawarkan pembahasan yang seperti kehilangan orientasi, lebih merupakan katarsis retoris ketimbang pendalaman strukturalis dan sistematis. Peristiwa-peristiwa saling dikaitkan dengan pertimbangan konspiratoris dibarengi penghematan analisis. Kita seperti disodorkan sebuah sinetron yang kejar tayang dengan segala konsekuensinya. Tak heran pengeditan memerlukan perhatian khusus, dari “Machintos” (h.34) hingga foto Ayatullah Behesyti yang tersuguh Ayatullah Misbah Yazdi (h.65). Topik utama Iran, yakni skenario penghabisan dan perang dunia III tidak tereksplorasi mendalam selain disinggung pada beberapa lembar bab ketiga. Akibatnya, tak jelas mana yang tidak tepat: pembahasan atau judul buku.

Alhasil, buku ini sepertinya memang dimaksudkan untuk melupakan kepenatan tinimbang sumbangan terhadap pengkajian akademik yang melelahkan.

Naskah, Edisi 23 Majalah Adil
http://www.adilnews.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: