Hujjatul Islam Hamid Muhammadi: Utamakan Kepentingan Nasional

September 11, 2007 pukul 6:26 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

HUJJATUL Islam Hamid Muhammadi belajar ilmu-ilmu al-Qur’an di Hauzah, sampai tingkat Ph.D. Sejak tahun 1959 beliau aktif di dalam mendirikan International Center for Islamic Study di Qum. Beliau aktif sebagai deputi budaya di Islamic Culture dan Communication Center dibawah Kementerian Penerangan dan Budaya. Muhammadi juga memimpin pusat internasional Tabligh. Berikut penuturannya :

Bagaimana Iran menyediakan ruang keterbukaan bagi seluruh aliran pemikiran, ideologi, dan pandangan yang berbeda dengan pemerintahan Islam?

Perlu diketahui ada sekitar 52.000 judul buku setiap tahun terbit di Iran. Mayoritas dari buku-buku tersebut adalah terjemahan dari karya luar negeri. Bahkan yang anti terhadap pemerintahan Islam juga luar biasa banyaknya. Inilah mungkin salah satu sebab kenapa pemikiran intelektual di Iran secara terus-menerus mengalami perkembangan

Bagaimana respon Iran dengan gelar yang diberikan Ratu Elizabeth kepada Salman Rushdie? Apakah fatwa mati Imam Khomeini masih berlaku sampai sekarang?

Dasar yang menyebabkan fatwa Imam Khomeini itu adalah adanya penghinaan terhadap tokoh nomor satu alam keberadaan, yaitu pribadi suci Rasulullah SAWW. Dan, ini merupakan kesepakatan seluruh mazhab umat Islam, bahwa penghinaan kepada pribadi Rasul dari siapapun, oleh siapapun, dan dalam bentuk apapun harus ditindak. Kita juga tidak membatasi masalah itu hanya pada pribadi suci Rasulullah SAWW saja, tetapi juga terhadap seluruh nabi-nabi sebelum beliau.

Kita menganggap penghinaan terhadap tokoh-tokoh ini sama dengan penghinaan kepada kemanusiaan itu sendiri. Karena nilai-nilai kemanusiaan itu secara sempurna telah termanifestasi dalam diri mereka. Kalau mereka dihina, berarti adalah penghinaan terhadap segala-galanya. Kalau kita sudah kehilangan mereka disebabkan penghinaan, maka kemanusiaan manusia sudah tidak punya makna lagi. Oleh karena itu, dasar hukum haram terhadap penghinaan semacam itu adalah rasional dan sesuai dengan dasar-dasar fitrah. Sebetulnya Imam Khomeini itu tidak melakukan apa-apa kecuali hanya menunjukkan keberanian untuk mengungkapkan pandangan Islam yang sebenarnya.

Fatwa hukum mati yang berasal dari Imam Khomeini tersebut adalah sesuai dengan keyakinan seluruh mazhab Islam yang ada. Dan selama fatwa tersebut belum terlaksana, maka tidak akan ada sesuatu yang dapat merubah, menganulir maupun mengganti fatwa tersebut.

Bagaimana dengan aplikasi hukuman mati itu, sementara Salman Rushdie tidak berada di Iran?

Fatwa hukum mati itu berlaku bagi umat Islam seluruh dunia, yang punya kesempatan untuk menjalankannya. Dan tidak ada hubungannya dengan orang Iran atau negara Iran. Hukum Islam ini berlaku untuk semua kaum muslimin.

Bagaimana anda membayangkan cara setiap orang Islam harus melakukan itu untuk seorang Salman Rushdie?

Jika anda dalam melakukan kewajiban-kewajiban relijius, seperti salat. Apakah anda meminta izin kepada seseorang? Apakah anda harus melakukan koordinasi dengan musuh. Juga, kalau ada kewajiban syariat tertentu dan anda mempunyai kemampuan, maka anda wajib melakukan hal tersebut. DPR Indonesia mempersoalkan dukungan pemerintah terhadap resolusi 1747. Dan mengajukan interpelasi kepada presiden.

Apakah negara anda mengikuti perkembangan di Indonesia?

Masyarakat Iran sangat kaget terhadap keputusan pemerintah negara seperti Indonesia. Ternyata pemerintah Indonesia mendukung Iran dibatasi oleh negara-negara adikuasa secara tidak benar. Oleh karena itu, pada saat wakil rakyat Indonesia menunjukkan sikap mereka terhadap pemerintah dengan rencana interpelasi, masyarakat Iran melihat dukungan rakyat Indonesia yang ternyata luar biasa terhadap Iran. Karena itu masyarakat Iran berterimakasih kepada rakyat Indonesia dan wakil-wakil rakyat di parlemen yang sudah mengambil sikap adil dan menunjukkan semangat kebersamaan dalam Islam.

Dan di sini saya ingat pesan Imam Khomeini bahwa pemimpin-pemimpin bangsa hendaknya menyesuaikan kehendak mereka dengan kehendak rakyat ketimbang kehendak para penguasa dunia. Mengutamakan kepentingan nasional mereka ketimbang kepentingan negara-negara adikuasa.

Jarang sekali pemimpin non muslim diterima oleh Pemimpin Revolusi (Rahbar), mengapa Rahbar mau bertemu dengan Chavez, apa isi pertemuan itu?

Mereka membicarakan persoalan ekonomi. Itu sangat wajar karena pertimbangan Sayyid Ali Khamenei sebagai pemimpin revolusi dan juga kepentingan dua negara. Tentu saja kepentingan memproteksi dari ancaman musuh yang akan melawan karena kepentingan mereka di dua negara itu telah hilang. Oleh karena itu Chavez diberi kesempatan. Itu sebetulnya permintaan dari Chavez sendiri, karena secara natural dia mendapat tekanan dari AS. maka dia merasa harus membuat hubungan yang mesra kepada semua negara yang bisa membantunya, menjamin dan menjaga kepentingan nasionalnya.

Agama, Edisi 20 Majalah Adil
http://adilnews.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: