Wajah Baru Kapitalisme

September 10, 2007 pukul 3:19 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

DISADARI atau tidak, arus besar kapitalisme sudah begitu akrab dengan keseharian kita. Disetiap saat dan kesempatan wajahnya bisa kita temukan hampir diseluruh aspek kehidupan. Tidak terkecuali agama, sebuah wilayah suci yang selama ini menjadi benteng pertahanan kita yang terakhir, tidak luput dari serangannya, sehingga pada akhirnya ”agama” dipaksa untuk kompromi (bahkan tunduk) atas kehendaknya.

Kapitalisme telah memunculkan sebuah trend baru dalam agama, yaitu membawa ruang dakwah dari mesjid, pesantren dan majlis ta’lim ke dalam pasar. Agama telah berubah dari hubungan sakral dengan Yang Maha Kasih menjadi hubungan produsen dan konsumen. Agama bukan lagi nilai-nilai agung yang mencerahkan secara ruhaniah. Tetapi agama hanyalah salah satu dari komoditas yang bisa diperjual belikan di pasar Kapitalis.

Wajah Agama dalam TV
SEBAGAI komoditas yang dijual bebas di pasar kapitalis, agama harus dikemas sedemikian rupa untuk dapat memenuhi selera pasar. Misalnya saja, di setiap bulan Ramadhan tiba, kita akan disuguhi beragam bentuk ”parade kesolehan” di semua stasiun TV. Mulai sahur sampai menjelang berbuka, penonton akan dimanjakan dengan berbagai pilihan tayangan. Dari ceramah, tanya jawab, diskusi interaktif, kuis, lawakan, shalat tarawih live dari Mekkah, sampai kepada sinetron dan film yang semuanya bernuansa ”Islami”. Bahkan menurut saya mungkin saja kalau ilmu fiqh membolehkan, akan dibuat shalat berjama’ah dan tarawih di depan TV.

Penonton kita diajak untuk tidak ikut pengajian di pesantren-pesantren dan majlis-majlis ta’lim, untuk tidak bertanya tentang permasalahan-permasalahan keagamaan ke kiyai, untuk tidak melakukan tadarus, untuk tidak berbuat kebaikan dengan menolong sesama dan untuk tidak pergi menunaikan shalat berjama’ah kemesjid. Cukup dengan bermodalkan nongkrong didepan TV dan nelpon atau sms. Semuanya bisa teratasi, semuanya serba tersedia di sana.

Kita juga bisa melihat bagaimana perilaku para ”mubaligh” kita dalam berlomba-lomba meraih rating tertinggi setiap kali mereka ceramah di TV. Untuk bisa sekedar bertahan agar tidak tergusur oleh pandatang-pandatang baru yang terus bermunculan, mereka cenderung mengorbankan konten dari materi ceramahnya. Sebisa mungkin mereka menyesuaikan diri dengan trend yang sedang digemari oleh masyarakat pada umumnya. Untuk itu seorang “mubaligh” perlu membungkus diri dengan sejumlah aksesori. Mulai dari kostum yang khas, humor-humor yang menyegarkan, suara yang tidak kalah merdunya dari seorang penyanyi professional atau kalau memang diperlukan (tentunya supaya mudah diingat dan prestise) dengan cara menambahkan embel-embel “gelar” lain setelah “gelar” ustadz (yang sudah lebih dulu diraihnya). Kita mengenal ada ustadz cinta, ustadz gaul, ustadz funky, ustadz sedekah, ustadz lucu, ustadz hikmah, ustadz hati, dan ustadz-ustadz-an lain yang mungkin akan terus bermunculan. Da’wah di TV adalah sebuah usaha untuk memusatkan perhatian penonton, menyenangkan dan menghibur konsumen. Yang harus bersaing dengan tayangan Extravaganza atau Najaj Bajuri.

Atau acara yang dikemas sedemikian rupa oleh orang-orang TV berupa kontes-kontesan untuk memilih seorang da’i/da’iah, ustadz/ustadzah. Dimana standar penilaian untuk menjadi terbaik dan terfavoritnya bukan lagi ditentukan berdasarkan kualitas keilmuan yang mumpuni dalam bidang agama (misalnya pernah mondok disebuah pesantren dan mempunyai kemampuan ilmu tafsir, hadist, fiqh, nahwu/sorof dll), semuanya diukur dari sejauh mana besarnya dukungan sms yang dikirim oleh para pemirsa TV.

Wajah Agama dalam Training-training Spiritual
PATUT juga untuk kita curigai, maraknya pelatihan-pelatihan spiritual yang seakan menjadi sebuah trend baru di tengah masyarakat kelas atas (karena tentunya hanya orang yang berduit yang bisa ikut). Bisa jadi (ma’af) “mungkin saja” didalamnya memang terdapat nilai-nilai kapitalisme. Dengan sangat kreatif “penggagas dan pencetusnya” mendesain sedemikian rupa wajah agama yang tadinya bersifat progresif dan tranformatif dalam merespon permasalahan-permasalahan social masyarakat (seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Saw dengan menjadikan agama sebagai alat perubahan social masyarakat jazirah Arab), menjadi agama yang bersifat ritual dan individualistic (privat).

Pertanyaannya, bagaimana mungkin akan timbul rasa empati dan tergerak untuk melakukan pembelaan terhadap kaum dhu’afa, kalau pencerahan-pencerahan spiritual itu dilakukan di hotel-hotel berbintang (diatas lima), yang menyediakan ruangan training ber ac, didukung oleh mega sound system ribuan watt yang biasanya dipake untuk konser-konser musik, kamar-kamar yang mewah, makan dan coffe break yang serba ada. Dimana harga perpaket pelatihannya mencapai jutaan bahkan puluhan juta. Padahal disaat yang bersamaan, mungkin tidak jauh dari tempat pelaksanaan pelatihan tersebut, pengemis, pemulung, gelandangan, pengamen dan anak jalanan sedang berjuang untuk mendapatkan uang seperak-dua perak, sekedar bekal penyambung hidup. Jalaludin Rumi memberikan sebuah pelajaran bagi kita, bahwa kita tidak akan pernah mengetahui wanginya mawar dari kata M-A-W-AR, kalau kita ingin tahu wanginya mawar, kita harus pergi ke taman-taman yang disitu tumbuh bunga mawarnya, hiruplah dan rasakan wanginya di sana.

Saat ini kita dihadapkan pada dua pilihan yang sangat berat, yaitu ikut kedalam arus besar ini (kapitalisme) dan tentu kita akan dapat kebagian kuenya, atau terus berusaha untuk melawannya sampai titik darah penghabisan, mungkin dengan sebuah konsekwensi tidak dapat kuenya. Yang pasti kita harus tetap berusaha untuk mengembalikan spirit diturunkannya Islam ke muka bumi ini yaitu membebaskan manusia dari segala macam bentuk ketertindasan dan ketidakadilan. Kita harus bisa menjadikan agama Islam sebagai ajaran yang bisa membawa keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh manusia dan alam raya. Bukankah dalam banyak keterangan dikatakan bahwa sorgalah satu-satunya tempat yang layak bagi mereka yang telah berjuang di jalan Allah SWT. Wallahu’alam.

MUHAMMAD ASEP ZAELANI,
Mahasiswa Ekonomi Islam Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
E-mail: asep.bdg@pnm.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: