Maulid Nabi

September 10, 2007 pukul 4:49 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Aku, Maulid Nabi dan Semangat Pembebasan
Oleh Ibn Ghifarie

`Lho…kenapa Umat Islam juga melakukan peringatan Hari Raya Maulid Nabi (kelahiran Muhammad). Bukankah itu sama halnya dengan kami. Umat Kristiani yang memperingati hari Natal (kelahiran Yesus), bener ga Leudz` kata salah satu temanku (Kristen) saat menjawab pertanyaan `Kenapa setiap tanggal 25 Desember umat Kristiani selalu melekukan acara Natalan. Bukankan kebiasaan itu tak ada dalam tradisi Isa As?`

Tak ayal, lontaran kata-kata bernada ganjil itu, tentu saja menghentakan perasaanku sekaligus tak ada obrolan lagi antara kawanku (Kristen) dengan temenku (Islam) yang lain. Pasalnya, ruang dialog antar iman sudah tertutup rapat-rapat, hingga nyaris tak menyisahkan kata-kata lain selain diam seribu bahasa.

Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikhwal kesamaan antara Maulid Nabi dengan Natalan tersebut. Walau dalam diriku masih bergulat seribu pertanyaan sekaligus menuntut jawaban segera. Salah satunya, kenapa kelahiran Rasulullah tak mau disamakan dengan kelahiran Yesus Keristus?

Konon, dipenghujung abad ke-11 Masehi, dunia Islam kewalahan menghadapi serangan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman dalam Perang Salib. Hingga pasukan Barat (1099) akhirnya dapat merebut Jerussalem sekaligus mengubah Masjidil Aqsa menjadi gereja. Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayubi yang berkuasa 1174-1193 Masehi (570-590 H) melihat kekalahan dunia Islam disebabkan oleh daya juang kaum Muslimin yang semakin melemah.

Maka, ditangan Salahuddinlah kelahiran Nabi Muhammad saw menjadi momentum kebangkitan umat Islam. Pada mulanya, maulid Nabi diperingati di wilayah Suriah Utara untuk membangkitkan kembali semangat juang umat Islam. Ternyata, peringatan maulid ini berhasil membangkitkan semangat jihad, sehingga kemudian diperluas pelaksanaan peringatannya di seluruh kekuasaan Islam.

Salahuddin berasal dari Suku Kurdi. Semula ia sempat mendapat tantangan dari para ulama dalam rangka peringatan maulid sebagai sesuatu yang bid’ah. Namun, ia meyakinkan pemuka agama, peringatan maulid bukanlah ritual peribadatan semata, melainkan spirit untuk membangkitkan gairah dan semangat juang umat Islam. Sebagai Khadimul Haramain (Pelayan kota suci Mekah dan Madinah), Salahuddin bahkan selalu mengingatkan jemaah haji untuk merayakan maulid sesampainya di tanah air masing-masing. (Pikiran Rakyat, 30/03)

Thus, strategi Salahuddin ternyata membuahkan hasil dalam memenangkan Perang Salib (1187/583). Semenjak itulah, penanggalan 12 Rabiul Awal setiap tahunnya selalu diperingati umat islam dibelahan dunia manapun.

Kini, semangat pembebasan `Maulid Nabi` dari penguasa lalim itu mulai memudar, hingga nyaris berubah menjadi kegiatan seremonial belaka. Tengok saja, peringatan kelahiran nabi di daerah mana saja selalu dimeriahkan dengan pelbagai kegiatan yang tak sedikit mengeluarkan biaya. Mulai dari perlombaan; menggambar, kaligrafi, azdan, busana muslim, baca, tulis Al-Qur’an sampai Tabligh Akbar dengan mengundang Kyai kondang.

Perhelatan akbar itu, tentu saja membutuhkan dana banyak dan tak terlalu berdampak pada kehidupan social masyarakat. Tak ayal, keterbelakangan dan kemiskinan di negara muslim manapun masih menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan lagi. Bahkan nyaris tak mengenal dunia teknologi.

Dengan demikian, ghirah Maulid Nabi hanya menjadi kemenangan semu di tengah-tengah porak porandanya bangsa kita pasca bencana.

Kelaparan, ketertindasan, buta hurup masih menyelimuti kita. Berbeda dengan umat Kristiani saat memperingati Hari Natal. Selama ikut terlibat aktif dalam Forum Silaturahmi Lintas Iman, mereka acap kali menggelar bakti sosial, pengobatan gratis, khitanan masal, pelatihan keterampilan kepada anak-anak jalanan, masyarakat tertinggal. Meski mereka tetap menggelar acara Natalan dalam bentuk ritual. Berdoa, memohon ampun di depan altar. Mudah-mudahan semangat Yesus Kristus selalu menyertai umatnya. Haruskah roh Maulid Nabi berakhir pada kegiatan ritual belaka? Entahlah.

Walhasil, silaturahmi antar iman pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan ruang pertemuan menuju ruang makan. Terlebih lagi, saat salah satu kawanku non-muslim mengeluarkan pertanyaan balik `Eh…malah ikut-ikutan ngerayain kelahiran Nabi juga. Benerkan.`

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 31/03;23.08 wib

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: