Bentuk dan Esensi Syukur

September 10, 2007 pukul 8:47 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

KITA sudah yakin bahwa sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Namun, mungkin sebagian besar dari kita belum tentu yakin telah “mulang tarima” (berterima kasih) secara benar sesuai kehendak Allah. Bahkan mungkin banyak di antara kita yang masih menganggap nikmat Allah adalah pemberian Allah berupa rezeki. Oleh karena itu, banyak di antara kita yang bersyukur atau mengucap syukur “hanya” ketika mendapatkan rezeki. Padahal masih banyak kriteria lain yang mengharuskan seseorang untuk bersyukur.

Sebelum mengukur diri sejauhmana kita telah menunjukkan syukur kita kepada Allah, kita harus memahami bentuk dan esensi dari pengungkapan syukur. Selain itu, pemahaman tentang syukur tidak dapat dilepaskan dari kufur.

Dalam al-Quran dijelaskan bahwa esensi dari ungkapan syukur kepada Allah adalah upaya sadar kita untuk memfungsikan penglihatan, pendengaran, dan hati secara benar. Hal ini tercantum dalam al-Quran surah an-Nahl [16] ayat 78, “Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” Dari ayat tersebut kita memahami bahwa bentuk dan esensi syukur bukan hanya ucapan di mulut atau melakukan sujud syukur, tetapi melibatkan seluruh potensi diri khususnya penglihatan, pendengaran, dan hati.

Oleh karena itu, seseorang yang memelihara pendengaran dengan menggunakannya kepada hal-hal yang baik; yang memelihara penglihatan untuk hal-hal yang baik; dan yang memfungsikan hati sesuai kehendak Allah, dialah orang yang telah bersyukur. Sesuai keterangan al-Quran surah Ibrahim [14] ayat 7 (lain syakartum ….), sikap syukur sangat bertolak belakang dengan sikap kufur. Dengan demikian, orang-orang yang tidak memfungsikan pendengaran, penglihatan, dan hati secara benar hukumnya kufur.

Adapun tempat yang yang layak bagi orang kufur (kafir) adalah neraka Jahanam bersama orang-orang munafik, seperti yang tercantum dalam surah an-Nisa [4] ayat 140. Hal ini sejalan dengan kandungan surah al-A’raf [7] ayat 179, yang artinya: “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Berdasarkan firman-firman Allah tersebut, mengubah persepsi kita tentang bentuk dan esensi bersyukur. Jangan-jangan ucapan hamdalah dan sujud syukur kita selama ini sebagai ungkapan syukur tidak sampai kepada Allah, karena kurang lengkap atau belum sesuai kriteria al-Quran dan sunah. Mungkin saja Rasulullah memerintahkan kita mengucap hamdalah dan sujud syukur sebagai ungkapan syukur kepada Allah dengan asumsi pendengaran, penglihatan, dan hati kita sudah berfungsi secara benar.
Namun, kemungkinan tersebut bukan berarti ucapan hamdalah atau sujud syukur “tidak berarti”, tetapi harus diiringi dengan pemungsian potensi (indrawi dan hati) dalam diri kita secara benar. Jangan sampai mulut kita berucap syukur dan dahi kita menyentuh lantai, maksiat jalan terus. Bahkan jangan sampai bentuk syukur kita kepada Allah malah menjadi “kufur” menurut pandangan-Nya. Selain itu, dalam sebuah hadits dikatakan bahwa yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling bersyukur kepada manusia. Jadi, bagaimana dengan kita?

Kapan harus bersyukur, mungkin kita pun terkadang gamang menjawabnya. Setiap tahunkah, setiap bulankah, setiap minggukah, setiap jam, menit atau detik?. “Dalam setiap nafas dari seluruh nafas ada syukur yang wajib atasmu”, begitu jawaban Imam Ja’far Ash-Shadiq dalam kitabnya Mashaabihu Asy-Syarii’ah”.

Beliau menambahkan bentuk syukur yang dapat kita tiru dengan ucapannya, “Syukur yang paing rendah di antaranya meyakini bahwa seluruh nikmat datangnya dari Allah, tidak menggunakan nikmat Allah untuk maksiat, dan tidak membangkang kepada perintah Allah”. Kakek beliau, Imam Ali ketika ditanya orang tentang nikmat Allah, beliau menjawab, “ Kalau kamu ingin melihat (mengukur) nikmat Allah tutuplah kedua matamu.”

Setelah memnyebutkan bentuk syukur yang paling rendah, Imam Ja’far As-Shadiq menyebutkan bentuk syukur yang paling sempurna, yaitu “Pengakuan dengan lisan yang tulus kepada Allah bahwa kita tidak mampu mencapai syukur yang paling rendah sekalipun.”

Dengan demikian, jika kita ingin mencapai hakikat syukur yang paling sempurna tidaklah terlepas dari pemungsian potensi diri khususnya hati kita. Oleh karena itu, belajar ilmu tashawuf sebagai langkah awal untuk memahami cara membersihkan diri khususnya hati penting kita lakukan. Sehingga akan terbentuklah diri kita yang mampu bersyukur sebanyak tarikan nafas kita. Selain itu, mungkin cara inilah yang dapat diandalkan oleh siapa dan di mana pun untuk membersihkan penyakit khususnya penyakit moral, di antaranya korupsi.

AHMAD DIMYATI,
Editor Buku-buku Pelajaran

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: