Memandang Romli dari ‘Atas’ (Bag 1)

September 6, 2007 pukul 1:31 pm | Ditulis dalam khazanah | 1 Komentar

Oleh SALEH LAPADI

“Kepribadian dan pengetahuan Muhammad dibentuk oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Salah satunya adalah kaum cerdik pandai Kristen.” Ungkapan ini adalah tulisan pembuka Mohamad Guntur Romli, Aktivis Jaringan Islam Liberal. Ia dengan setia kembali mengulangi konsepnya dengan mengatakan Muhammad bukanlah nabi yang datang dari dunia antah berantah. Dan ditutupnya dengan kesimpulan, kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimen kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang.

Menarik menyimak tulisan yang menggugah cara pandang lama tentang masalah kenabian. Kita dibombardir sejumlah data-data untuk meyakini bahwa begitu besar pengaruh lingkungan, yang dalam hal ini diwakili oleh koalisi Kristen (Waraqah bin Naufal dan Utsman bin al-Huwairits) dan Al-Hanifiyah Abdul Mutthalib). Ternyata, peran komunitas Kristen tidak kecil dalam membentuk kepribadian Muhammad saw. Rata-rata para “penasehat spiritual” yang disebut-sebut pendeta dalam sejarah berhasil meyakinkan Muhammad agar tidak perlu khawatir, karena ia bakal menjadi Nabi terakhir.

Romli juga mengajak pembacanya untuk menerima bagaimana Waraqah bin Naufal yang percaya kenabian Muhammad saw berada di surga. Untuk itu, ia perlu membawakan hadis langsung dari Rasulullah yang menyebutkan, “Sungguh aku telah melihat Pendeta (Waraqah) berada di surga dengan memakai pakaian dari sutra.” Hadis ini tidak sendirian tapi didukung oleh hadis lain yang memiliki makna sama. Hadis ini bisa mendukung cara pandang mengenai Pluralisme agama saat ini yang masih malu-malu mengatakan bahwa setiap pemeluk agama yang mengakui kebenaran agamanya juga bakal masuk surga. Karena apa yang dinukilkan Romli lebih luas. Karena setiap orang yang meyakini kebenaran Islam tapi tidak mengakuinya tidak akan bermasalah. Ia tetap selamat dan masuk surga, bahkan memakai pakaian dari sutra.

Tulisan kecil ini bukan sebagai jawaban atas tulisan Mas Romli, namun lebih tepat sebagai catatan-catatan kecil. Sebagai catatan, maka tulisan ini dibagi dalam urutan nomor agar memudahkan proses membaca.

Catatan 1
Tujuan penulisan artikel “Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen”, ingin membuktikan pembentukan kepribadian Nabi dalam menerima masalah kenabian dan pewahyuan tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah pengaruh sebuah komunitas Kristen atas pribadi Nabi. Sayangnya, kajian ini tidak dilanjutkan pasca kenabian. Tentunya, bila itu dilakukan akan membuat tulisannya menjadi sangat panjang. Namun, itu tidak bisa menjadi alasan ketika masalah monogami Nabi dengan Khadijah dinukilnya. Begitu juga, bagaimana Romli menjelaskan banyak ajaran-ajaran Islam dalam al-Quran dan hadis-hadis Nabi yang bertentangan dengan ajaran Kristen.

Terlepas dari apakah Romli akan melanjutkan kajiannya atau tidak, namun ada satu hal yang perlu ditekankan. Apa dampaknya bila kita meyakini apa yang ditawarkan Romli? Kita perlu meragukan beberapa ajaran dalam Islam, terutama terkait dengan ucapan dan perbuatan Nabi. Terbuka kemungkinan jangan-jangan suatu perkataan atau perbuatan dipengaruhi ajaran Kristen. Contoh gamblangnya, masalah tidak berpoligaminya Nabi semasa hidup bersama Khadijah dainggapnya sebagai warisan Kristen.

Catatan 2
Ide besar yang ditawarkan Romli bukan hal yang terlalu baru. Karena ini telah terlebih dahulu diluncurkan oleh Abdul Karim Soroush. Ia menafsirkan keadaan-keadaan mistik yang dialami Nabi Muhammad saw sebagai hal biasa. Tidak ada yang aneh dari mukasyafah-mukasyaf ah Nabi Muhammad. Setiap arif dapat melakukan hal yang sama. Idenya, soroush membuktikan bagaimana tingkat paling “melangit” yang dialami Nabi bukan monopoli seorang nabi saja. Siapa saja bisa sampai ke sana.

Romli berusaha menjelaskan ide besar Soroush dengan pendekatan hermeneutika tawaran Nasr Abu Zaid. Bahwa setiap fenomena yang ada tidak terlepas dari konteksnya. Lingkungan mempengaruhi makna. Romli ingin menunjukkan konsep Soroush dijelaskan tidak dengan pendekatan filosofis yang lebih akrab dengan sair-sair Maulana dan Rumi. Ia ingin yang lebih akrab dengan pendekatan historikal. Oleh karenanya, ia melakukan pelacakan ke dalam buku-buku sejarah Islam kuno yang ternyata menampilkan data-data yang dapat diandalkannya.

Catatan 3
Metode penulisan yang dipakai oleh Romli memakai pendekatan historikal dengan merujuk pada beberapa buku sejarah primer Islam. Ia membawakan buku sejarah Ya’qubi, Ibnu Ishaq, Ansab al-Asyraf, Sirah Ibnu Katsir dan Akhbar Makkah untuk mendukung ide-idenya. Dua buku kontemporer ikut mempertegas ide besarnya. Dua buku itu adalah Tarikh Al-Nasraniyah wa Adabuha Bayna Arab al-Jahiliyah dan Fatrah Takwin fi Hayati al-Shadiq al-Amin. Dan tidak lupa ia menancapkan dasar pemikirannya dimulai dari al-Quran.

Menarik mengikuti gaya penukilan Romli dari buku-buku sejarah kuno Islam. Berbeda ketika ia menukil pendapatnya dari dua buku sejarah kontemporer sebagai refensinya dengan rinci menjelaskan sumbernya (Dua jilid karya Luis Syaikhu, Târîkh al-Nashrâniyah wa Adâbuhâ Bayna ’Arab al-Jâhiliyah (Sejarah dan Sastra Arab Kristen di Era Arab Jahiliah) terbitan Dar al-Masyriq, Lebanon, tahun 1989, menjelaskan peran nyata kaum cerdik pandai Kristen terhadap kebudayaan Arab) dan (Bagi Khalil Abdul Karim, penulis Fatrah Takwîn fi Hayâti al-Shâdiq al-Amîn (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) terbitan Dar Mishr al-Mahrusah, Cairo, tahun 2004, Khadijah adalah “arsitek” kenabian yang dibantu oleh “komunitas inteligensia Kristen”). Ketika melakukan penukilan dari buku-buku sejrah Islam kuno, hanya sekali ia sempat menuliskan halaman dan tahun terbitan buku itu. Itu mengenai masalah hadis Nabi yang menyebutkan pendeta (Waraqah) berada di surga. Di sana ia menyertakan karya Ibn Ishaq (1999: 203). Selain itu, semua penukilan yang ada tidak menyertakan halaman atau setidak-tidaknya sebuah petunjuk di bagian mana pembahasan yang dinukilnya.

Hal ini memunculkan sebuah dugaan bahwa seluruh ide penulisan makalah ini diambil dari dua buku tersebut. Buku pertama (Târîkh al-Nashrâniyah wa Adâbuhâ Bayna ’Arab al-Jâhiliyah), dipakai untuk menggambarkan secara umum pengaruh Kristen lewat karya-karya sastera mereka yang dipamerkan di pasar-pasar Mekkah. Sayangnya, ia menjustifikasi ide buku itu terlalu jauh dengan mengatakan bahwa Nabi ketika ke pasar, ia tidak berbelanja tapi menyimak dan mengamati seluruh kegiatan pasar. Terlebih-lebih ketika ia mencoba membenarkan dengan ayat al-Quran surat al-Furqan ayat 7. Padahal, tidak seperti anggapan Romli, konteks ayat itu menunjukkan Muhammad telah menjadi Nabi. Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia? Ayat selanjutnya dengan jelas membantah cara pemahaman Romli. Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” dan orang-orang yang zalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir”. Ungkapan terakhir “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir“, menunjukkan dengan jelas penggunaan kata penyihir untuk Muhammad disematkan setelah ia menjadi Nabi. Cara Romli mereduksi pemahaman ayat al-Quran menunjukkan bagaimana ia hanya menukil pendapat dan tidak menyimak ayat selanjutnya. Atau tidak membaca sama sekali ayat yang disebutkan. Baginya yang penting maksudnya kesampaian.

Sementara buku kedua (Fatrah Takwîn fi Hayâti al-Shâdiq al-Amîn), masuk lebih dalam menggambarkan tokoh-tokoh yang berperan penting mengantarkan kenabian Muhammad. Di sini, Romli habis-habisan mempertaruhkan idenya. Ia berusaha menghubungkan semua peristiwa yang ada sambil tidak lupa menekankan peran “komunitas intelegensia Kristen”. Sementara Khadijah disebutnya sebagai “arsitek” bagi semua aktivitas ini. Untuk memperlihatkan kokohnya pendapat Khalil Abdul Karim penulis buku yang dijadikannya referensi utama kedua, Romli sesumbar dengan mengatakan, “Buku Khalil tadi merujuk pada sumber-sumber primer Sîrah Muhammad yang jarang disentuh, seperti Sîrah Ibn Ishaq, Ibn Sayyidi al-Nas, al-Halabiyah, al-Syamiyah, Târîkh al-Thabari, dan al-Ya’qubi.”

Untuk membuktikan dugaan sebelumnya, penulis sempat terhentak saaat membaca nama penulis buku Ansab al-Asyraf yang ditulis Romli. Ia menulis, “Dalam Ansâb al-Asyrâf (Nasab-nasab Orang Mulia) karya al-Baradzari.” Padahal, penulis buku itu bernama al-Baladzri. Mungkin ini masalah kecil dan anggap saja salah ketik (sekalipun huruf el dan er cukup jauh). Namun, yang menjadi menarik dalam buku itu, dalam sub judul mengenai meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah ada dialog yang menarik antara Nabi Muhammad saw dan Abu Thalib.

“Ketika Abu Thalib mendekati ajalnya, Nabi memintanya agar mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, namun ia menolaknya. Ia mengatakan, “Wahai anak saudaraku! Aku percaya apa yang engkau katakan pasti benar, tapi aku tidak ingin berontak dari agama Abdul Mutthalib.” Abu Thalib meninggal dalam kondisi demikian. (Ansab al-Asyraf, Beirut, 1996, hal 24)

Kejadian ini sama dengan sikap yang dipilih oleh Waraqah bin Naufal yang tidak memilih Islam sampai wafatnya di Mekkah. Bedanya, Abu Thalib oleh Ahli sunnah disebut masuk neraka. Sangat kontradiksi dengan Waraqah yang masuk surga, bahkan memakai pakaian dari sutra. Sementara Abu Thalib yang keyakinannya sama seperti Waraqah, tapi masuk neraka. Sikap pilih kasih ini, menunjukkan bagaimana ada tendensi membesarkan peran Kristen.

Kembali pada masalah Waraqah untuk membuktikan bagaimana Romli tidak menyentuh buku-buku sejarah Islam kuno atau menurutnya, primer. Ia mengatakan, “Kependetaan Waraqah ditegaskan Muhammad dalam Sîrah (biografi Muhammad) karya Ibn Ishaq (1999: 203): “Sungguh aku telah melihat Pendeta (Waraqah) berada di surga dengan memakai pakaian dari sutra.” Dalam versi riwayat lain hadis tadi adalah respons ketika nasib Waraqah di akhirat dipertanyakan karena tetap setia memeluk Kristen sampai akhir hayatnya meski ia menyaksikan kenabian Muhammad.”

Penukilannya bahwa “Sungguh aku telah melihat Pendeta (Waraqah) berada di surga dengan memakai pakaian dari sutra “, tidak ada dalam teks Sirah Ibn Ishaq. Teks yang ada lebih mirip dengan versi riwayat lain yang disebut Romli. Di situ disebutkan, “Seorang mencaci Waraqah yang kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah saw. Nabi kemudian bersabda, “Apakah engkau tahu bahwa aku melihat Waraqah punya satu atau dua surga (tempat di surga, -pen).” (Sirah Ibn Ishaq, tanpa tahun, Ma’had al-Dirasat wa al-Abhats lil Ta’rif, jilid 2, hal 113).

Sementara hadis yang dinukilnya, penulis temukan dalam buku Ansab al-Asyraf, karya al-Baladzri. Konteks hadis itu disebutkan bahwa Waraqah bin Naufal meminta kepada Muhammad untuk menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Setelah dibuktikan, Waraqah kemudian berkata, “Aku bersaksi! Bila engkau memerintahku untuk berperang, niscaya aku akan berperang di sisimu dan aku akan menolongmu selama-lamanya.” Kemudian ia meninggal. Rasulullah saw bersabda, “Sungguh aku telah melihat Pendeta (Waraqah) berada di surga dengan memakai pakaian dari sutra”. (Ansab al-Asyraf, Beirut, 1996, jilid 1, hal 117-118).

Kelihatan sekali, ada upaya keras untuk menyamakan kejadian-kejadian yang dialami oleh Abu Thalib dengan Waraqah. Namun, sejarah mencatat Abu Thalib benar-benar membantu Nabi mempertaruhkan nyawanya, tidak demikian dengan Waraqah. Tapi, ada dua hadis yang menunjukkan bagaimana ia berada di surga, sementara kondisi yang sama tidak dapat dinikmati Abu Thalib.

Bila jeli menyimak hadis di atas, terutama sebab munculnya ucapan Nabi yang memberikan pahala surga bagi Waraqah, Romli mesti membantah asumsinya selama ini. Karena, Waraqah yang dikenal sebagai salah satu anggota “komunitas intelegensia Kristen”, bahkan menjadi penasehat spiritual kenabian Muhammad, meminta bukti kenabian Muhammad. Bagaimana mungkin seorang penasehat yang disebut-sebut paling mengetahui masalah kenabian Muhammad di Mekkah masih perlu meminta bukti kenabian Muhammad. Artinya, Untuk menafsirkan apa yang dialaminya saat-saat awal turunnya wahyu, Muhammad lewat Khadijah meminta bantuan kepada Waraqah. Dan untuk menunjukkan ketinggian posisi Waraqah dengan hadis punya satu atau dua kapling di surga, ia terpaksa meminta tanda-tanda kenabian Muhammad agar dapat menunjukkan kekesatriaannya. Sayangnya, ini terlalu dipaksakan. Sebuah mata rantai yang tak pernah berhenti.

Waraqah bin Naufal yang tidak pernah dikenal namanya sebelum masa kenabian, tiba-tiba melejit menjadi selebritis. Tidak hanya itu, ia menjadi sutradara bahkan penafsir kejadian-kejadian yang dialami Muhammad. Dan itu dituntaskan dengan menunjukkan sikap ksatrianya yang berujung surga dan tidak hanya satu.

Sekarang, kita coba pertentangkan ayat pertama yang dibawa oleh Romli dengan sikap Waraqah penghuni beberapa tempat di surga. Surat al-Maidah ayat 82 disebutnya menegaskan kedekatan orang Kristen dengan Muhammad yang berbeda dari orang Yahudi dan kaum pagan Mekkah yang bersifat memusuhi. Potongan yang dinukilnya berbunyi, “Karena di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib dan mereka tidak menyombongkan diri.” Romli begitu terpana pada kata pendeta-pendeta dan rahib-rahib. Hal itu membuatnya lupa apa penyebab kedekatan orang-orang Kristen dalam ayat tersebut (atau disengaja?).

Hal itu akan tampak jelas bila menyimak cara penerjemahan Romli atas ayat tersebut. Penerjemahan itu mutlak ingin menjustifikasi sikap Waraqah yang tidak masuk Islam tapi ditempatkan di surga. Cara menerjemahkan mestinya tidak cukup dengan kalimat “dan mereka tidak menyombongkan diri”, karena kedekatan mereka disebabkan oleh sifat ini (dalam aturan tata bahasa Arab kata sambung dan (wa) yang ada dalam ayat itu bersama jumlah setelahnya memiliki posisi penjelas dan dalam maknanya sebagai sebab. Oleh karenanya, tidak bisa diartikan sederhana dengan kata “dan”, tapi harus dengan menyertakan kata “karena” seperti yang dilakukan dalam terjemahan Depag). Bila mengikuti terjemahan Romli, sebab kedekatan orang-orang Kristen murni karena mereka pendeta, sementara bila melihat konteks bahasa yang dipakai al-Quran, kalimat (mereka tidak menyombongkan diri) menjadi sifat mereka. Kedekatan mereka dengan Muhammad saw dibenarkan karena mereka tidak sombong bukan karena pendeta. Dan kebanyakan orang-orang Kristen di zaman itu tidak sesumbar seperti orang-orang Yahudi.

Kesombongan Yahudi dapat dilihat dalam buku sejarah Ibn Ishaq dari hadis ke 61 dan 62. Orang-orang Yahudi bila menemukan hal-hal yang tidak diinginkan mereka dari orang-orang Arab mereka berkata, “Sesungguhnya akan diutus seorang nabi. Saatnya telah tiba dan kami akan mengikutinya dan memerangi kalian bersamanya. (Sirah Ibn Ishaq, ibid, jilid 2, hal 62-63). Mengapa mereka dikategorikan sombong? Ini yang tidak dikaji lebih dalam oleh Romli setelah puas menerjemahkan ayat al-Quran sedemikian rupa untuk menyelamatkan Waraqah.

Hal sama bagi kaum pagan Mekkah yang disebutkan dalam al-Quran mereka tahu betul Nabi seperti mengenal dirinya sendiri. Tapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran yang dibawanya.

Dalam hadis Nabi yang terkenal, sering diulang-ulangi mengenai definisi sombong. Rasulullah bersabda, “Orang sombong adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengikutinya.” Dan dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa kesombongan adalah pakaian kebesaran Sang Pencipta dan Allah tidak akan berbagi dengan siapa pun. Itu artinya, tidak ada ampun bagi orang yang sombong. Siapa orang yang sombong? Orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengikutinya. Kondisi sulit memang bagi Romli untuk mencoba menyelamatkan Waraqah. Beberapa hadis perlu dibuat untuk menyelamatkan seorang anggota elit “komunitas inteligensia Kristen”. Tapi apa boleh buat, genderang telah ditabuh. Segala cara perlu dilakukan untuk membenarkannya.

Bersambung.. .

saleh_lapadi@yahoo.com

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mungkin ini sedikit beda topik
    Saya sedang merintis wadah baru yaitu http://www.kreasisantri.com untuk komunikasi Orang2 Kuno, khususnya para Santri, biar bisa mempertahankan nilai-nilai KUNO mungkin dalam hal kecerdasan Spiritualnya. Mohon Ide & Saran2nya ya..ke muchbasyir@yahoo.com Soalnya Designya masih blajaran, belum punya Tim nih, masih saya Sendirian


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: