Mitos Pribadi

September 2, 2007 pukul 3:40 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Mitos, adalah cerita yang tidak pernah kita alami. Apalagi bila bercerita tentang pernak-pernik dan laku para dewa di kahyangan. Oleh karena itu kita menganggapnya sebagai tidak rasional, khayali. Para ilmuwan menganggapnya sebagai cara berpikir yang kekanak-kanakan bila kita masih menghiraukan cerita mitologis. Menurut para da’i, bukan hanya tidak rasional, tapi juga dianggap bid’ah bila mempercayainya. Ya, tidak rasional dan bida’ah; karena tokh tidak semua yang tidak rasional itu bid’ah, dan tidak semua yang bukan bid’ah itu rasional. Dengan kata lain bid’ah tidak ada hubungannya dengan rasionalitas.

Nietzsche dan Einstein memiliki cara berpikir yang sangat berbeda dengan para ilmuwan itu. Keduanya bilang bahwa untuk menjadi filosof dan manusia yang cerdas, ia harus berpikir seperti anak-anak. Banyak bertanya dan berusaha menjawab tanpa kecurigaan yang tidak perlu. Mitologi tak lain merupakan sekumpulan pertanyaan dan jawaban dari jaman yang memiliki gairah untuk selalu bertanya dan memberikan jawaban dengan tanpa kecurigaan yang tidak perlu. Mengajukan pertanyaan, bukan karena ingin disebut kritis; dan memberikan jawaban bukan karena ingin disebut pintar. Menjelaskan bukan karena ingin menguasai, tapi menjadi satu dengan (bagian dari) segala sesuatu.

Mitos bagi kita di jaman “dewasa” ini, dengan demikian, merupakan gairah untuk senantiasa bertanya dan menjawab secara “polos” terhadap semua persoalan yang kita hadapi. Kita tentunya tidak akan sok dewasa untuk mengatakan bahwa betapa kekanak-kanakannya kita, karena kita bertanya sesuatu tanpa memiliki maksud yang lain. Seperti seorang diplomat yang mempersilahkan minum kepada lawan bicaranya, dengan maksud untuk mengatakan bahwa waktu telah habis dan meminta lawan bicaranya untuk mengakhiri pembicaraan. Mitos adalah mental sekaligus metodologi. Bertanya dan menjawab dengan memberikan tanda kurung terhadap persfektif awal yang sekiranya akan memenjarakan kita dalam menemukan makna-makna baru. Upaya untuk keluar dari cara berpikir yang “seragam” yang akan menyeret kita pada jawaban yang itu-itu juga. Jawaban yang berputar-putar pada lingkaran yang sama, yang bukan hanya tidak memberikan jawaban yang tuntas alih-alih melahirkan persoalan yang lebih parah.

Dengan demikian, cara berpikir mitologi, memang bid’ah. Karena, keluar dari cara berpikir konvensional dengan maksud untuk menemukan makna-makna baru. Menemukan dan berpijak pada hal baru. Itulah bid’ah. Bid’ah seperti ini, barangkali, adalah apa yang disebut ustadz sebagai bid’ah hasanah.

Mitologi salah satu dari sekian khazanah efistem masa lalu yang diwarisan dari generasi ke generasi. Masa keemasannya merentang sedemikian panjang dan luas. Seperti birunya langit yang menaungi kehidupan seluruh manusia di jagat raya ini. Tidak ada masyarakat manusia di muka bumi ini yang berada di luar naungannya. Kini, gumpalan-gumpalan awan mengisi dan menutupi sebagin birunya langit itu. Tapi tidak perlu menjadi orang bijak untuk mengetahui bahwa di balik gumpalan awal itu terdapat birunya langit yang tidak akan pernah hilang karena tertutupi awan. Kekasih yang baru, tidak akan pernah memupus ingatan orang dari kenangan manis dengan kesasih pertamanya. Gumpalan awan itu seperti lipatan-lipatan harapan dalam benak manusia. Harapan akan turunnya hujan, dan berharap bukan badai yang akan turun.

Kini, mitologi hanya menjadi kenangan. Tokoh-tokoh mitologi kita anggap sebagai hayalan, karena dan oleh karena itu kita tidak pernah berkehendak dan berniat untuk mengalaminya. Atau lebih tepatnya kita tidak akan mampu melakukian apa yang mereka lakukan. Perbuatan yang kita sebut baik yang dilakukan oleh tokoh mitologis, hanya untuk dijadikan “pelajaran” tentang kebaikan, tapi tadak pernah dianggap sebagai hal yang benar-benar baik, sekali lagi kita tidak pernah berkehendak untuk melakukannya. Dan lebih dari itu, semuanya itu hanyalah khayalan manusia lalu yang sama sekali tidak pernah relevan dan tidak pernah dianggap relevan dengan kehidupan kita sekarang.

Sebagai suatu sistem pengetahuan, seperti halnya sistem pengetahuan lainnya, selain memiliki prinsip-prinsip apriori dan statik, ia pun memiliki unsur dinamis yang merupakan respons dan penjelasan terhadap fakta-fakta kongkrit di sekitar dunia kehidupan manusia. Sifat statik dan dinamis dari mitologi, seperti halnya pengetahuan lainnya, menjadikannya memiliki kelincahan untuk memprediksi peristiwa-peristiwa yang akan dialami manusia, berdasarkan arah perjalanan sejarah yang telah dilaluinya. Mitos pun memberkan formula-formula teoritik dan praktis untuk menjalani suatu pase kehidupan dan proses tertentu, dan mengantisifasi dampak-dampak negatifnya.

AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI,
pengajar filsafat, mistisme dan kebudayaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: