“Ketika Tuhan Membisu dan Menutup Mata”

Agustus 28, 2007 pukul 4:05 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh AHMAD GIBSON Al-BUSTHOMI

ANGIN berhembus kencang menerpa semua yang menghalanginya. Sinar matahari seolah ingin mengetahui apa yang terjadi di muka bumi, memancarkan cahayanya semakin kuat. Udara semakin panas, memanasi seluruh permukaan bumi, dan panasnya terbawa angin yang bergerak demikian kencang. Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba hembusan kencang angin berhenti dan cahaya matahari pun redup tanpa sebab yang jelas. Padahal tidak ada sedikit pun tampak awan menghalanginya.

Dua hari kemudian, terjadi hal yang sangat mengemparkan. Kegemparan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia. Kegemparan yang lebih dahsyat dari terjadinya perang dunia yang pernah terjadi. Tersebar pamplet dan selebaran lainnya yang ditempel di semua rumah ibadah dan sentral kegiatan keagamaan. Berita tersebut, bahkan pada akhirnya bukan hanya tersebar melalui pamplet dan selebaran-selebaran, tetapi juga dalam media masa cetak maupun elektonik. Berita yang bukan lagi isue, bahkan berita yang diberitakan oleh semua media masa di seluruh dunia. Isinya pendek, namun telah melahirkan sejumlah spekulasi dan pembicaraan setiap orang. Beritanya pendek, namun membuat semua orang bertanya-tanya. “Dipermaklumkan bahwa Tuhan telah memerintahkan melalui semua pemuka agama dan orang-orang suci di seluruh dunia, mulai tanggal satu bulan depan tahun ini juga, semua larangan serta syari’at dalam agama dicabut dan tidak diberlakukan !”.

Berita besar, karena untuk pertama kalinya semua agama sepakat dan secara bersamaan mendapat “wahyu” dari Tuhannya, dengan isi dan maksud yang sama. Mungkin kehidupan langit di atas sana pun telah tertulari isu posmo, atau Tuhan telah muak dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi di dunia. Atau mungkin Tuhan Yang Maha Tahu, punya maksud lain yang tidak terpikirkan manusia, bahkan dengan logika posmo sekalipun, kembali hanya Tuhan yang tahu.

Lebih hebat lagi, tidak ada seorang yang beragama pun meragukan kebenaran perintah tersebut, termasuk kaum agamawan dan kaum spiritualis di seluruh penjuru dunia.

Maka, pada waktu yang telah ditentukan, berlakulah kehendak Tuhan itu.

Semua orang yang beragama beserta tokoh-tokohnya kebingunagan apa yang harus dilakukan, tapi hal itu tak lama terjadi. Selanjutnya mereka melakukan segala sesuatu yang sebelumnya mereka anggap haram atau dilarang untuk dilakukan. Dari mulai perbuatan yang memang sebelumnya dianggap baik sampai perbuatan yang sebelumnya dianggap tidak baik, jahat, bahkan perbuatan yang paling jahat sekali pun, mereka lakukan. Namun ada hal yang aneh, kejahatan-kejahatan yang ketika itu tidak lagi mereka anggap jahat tersebut tidak dilakukan kepada sesama orang yang beragama atau yang taat beragama, melainkan dilakukan kepada mereka yang sebelumnya tidak beragama; kepada yang tidak ta’at beragama dan kepada mereka yang dahulu senantiasa menghalang-halangi orang beragama.

Selama kejadian itu, cuaca terang benderang, angin bertiup dengan lembut, sepoi-sepoi. Tidak ada bencana alam terjadi, tidak ada pembakaran hutan, tidak ada banjir, tidak ada pesawat yang jatuh, atau kendaraan yang bertabrakan. Lebih jauh lagi tidak ada kematian. Seolah-olah malaikat maut sedang malewati masa istirahat dan menikmati masa cutinya.

Tidak lama kemudian, tiga hari setelah itu, kembali rumah-rumah ibadah dan pusat-pusat kegiatan keagamaan didatangi dan dipenuhi orang. Namun anehnya mereka itu bukanlah orang-orang beragama, melainkan orang-orang selama ini menyepelekan, mengejek bahkan menganggap Tuhan tidak ada. Orang yang selama ini melakukan kejahatan dan penyelewengan yang kini dilakukan oleh orang-orang beragama itu.

Mereka yang mendatangi rumah ibadah itu berdo’a dan memohon kepada Tuhan yang selama ini mereka ingkari untuk mengembalikan keberlakukan hukum-hukum dan larangan-larangan agama. Mereka berdo’a supaya agama dan syari’at segera diberlakukan lagi.

Namun Tuhan memang senantiasa konsisten dengan apa yang diucapkannya. Do’a mereka ini seolah-olah tidak didengar Tuhan. Karena memang saat ini Tuhan sedang menutup mata dan telinga dengan apa yang manusia lakukan.

Manusia memang baru ingat sesuatu apabila dianggapnya hal itu menguntungkan dan akan menyelamatkan hidup dan miliknya.

AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI,
Dosen Filsafat, Tasawuf dan Studi Kebudayaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: