Cerita Orang-orang Mati

Agustus 27, 2007 pukul 11:23 am | Ditulis dalam khazanah | Tinggalkan komentar

Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI

Mengamati, terkait dengan mengukur-ukur. Membicarakan, terhubung dengan kegiatan mengira-ngira. Sedang pada saat mengalami, seperti tidak terjadi apa-apa dalam diri kita.

Buah mangga jatuh dari ketinggian, dengan mengamatinya kita bisa mengukur dan membicarakannya. Tapi bila kita mengalaminya. Jangan harap untuk sempat mengukur dan tertarik untuk membicarakannya. Kita amati seorang gadis cantik, semampai. Kita membicarakannya dengan sedikit ditambah-tambah untuk semakin mendramatisir kecantikan gadis itu. Bila kita menyatu dengan kecantikan gadis itu, kesunyian yang kita temukan.

Kita, manusia, memiliki kecenderungan untuk membuat jarak. Manusia senantiasa memelihara kerinduan dan rasa takut. Mengalami dan kemenyatuan “senantiasa” membuat manusia terkubur dan lenyap. Dalam kemenyatuan dan mengalami, sepertinya kita kehilangan kemampuan untuk mengukur dan berkata-kata. Keberjarakan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Mengalami adalah ilusi jadinya. Oleh karena itu, keinginan untuk bergesekan dengan batu asah dianggap sebagai ketololan yang harus ditebus dengan harga yang sangat (terlalu) mahal. Tidak efisien, dan tradisional. Cerita seorang yang mengalami dianggap sebagai igauan yang tidak masuk akal. Mitos yang memiliki kekuatan sihir. Omongannya dianggap sebagai kata-kata yang diucapkan mayat yang berbicara tentang kematian yang dialaminya. Cerita tentang apa yang dialami, seperti seloroh orang yang menceritakan mimpi dalam tidurnya semalam.

Bila kita memahami makna dari kata “jatuh”, kita akan sanggup menceritakan secara piawai bagaimana sebiji buah mangga jatuh dari tangkainnya yang berada jauh di atas pohon. Bagaimana mata begitu sulit untuk mengikuti gerak jatuh buah mangga tersebut. Dibandingkannya dengan jatuhnya sebongkah batu, atau setangkai bulu yang jatuh terlepas dari saya unggas yang terbang jauh di angkasa. Apa yang dibicarakan adalah sesuatu “seperti”. “Apa” itu jatuh? Tidak pernah dibicarakan. Andaikan jatuh itu seperti yang terjadi dengan buah mangga yang terlepas dari tangkai pohonnya, mengapa berbeda dengan seorang manusia jatuh dari pohon yang sama, mesti mengeluarkan darah, patah tulang atau bahkan mati.

Dengan cara berpikir vertikal, maka kita akan mengatakan bahwa perbedaan itu disebabkan “sesuatu” yang jatuhnya berbeda. Bila keberbedaan akibat tidak dianggap penting dan tidak dijadikan persoalan inti dari suatu peristiwa yang sama ( dalam hal ini jatuh), maka apa menariknya pembicaraan kita tentang jatuh?.

Bila demikian, kita harus mempertanyakan “apa yang dialami oleh buah mangga yang jatuh, dengan apa yang dialami oleh seorang manusia yang jatuh dari pohon yang sama”. Karena, bukankah sebuah peristiwa bukan hanya persoalan pengamat atau komentator, tapi juga (bahkan) merupakan persoalan pelaku dengan apa yang dialaminya.

Dalam kasus yang agak spesifik dalam kehidupan seorang muslim yang sama-sama melakukan shalat. Sejumlah definisi, penjelasan atau deskripsi tentang shalat tidak selalu membuat orang menjadi lebih baik, dengan “takaran” yang sama, bahkan mungkin sama sekali berbeda dan jauh dari apa yang diharapkan. Tidak banyak orang yang mengalami bahwa shalat akan mengakibatkan orang menghindari terhindarnya dari berbuat jahat dan keji. Lebih banyak yang tahu bahwa shalat akan mengakibatkan orang menghindari terhindarnya dari berbuat jahat dan keji. Bila ada orang yang melakukan shalat seperti yang lainnya (melakukan peniruan forma-metodologis) dan tetap melakukan kejahatan dan kekejian, ia akan berdalih bahwa shalatnya tidak dilakukan dengan sempurna, padahal “kesempurnaan” shalat tidak pernah dibicarakan sejak awal. Pertanyaannya, apakah sesungguhnya yang membedakannya?—atau lebih tepatnya (sesungguhnya) kenapa kita membedakan shalat si Jahat dan si Alim? Jangan-jangan sesungguhnya yang harus kita pertanyakan bukan kesamaan atau perbedaan shalatnya, akan tetapi apa yang “dialami” atau “apa yang terjadi” dengan shalatnya si Alim dan si Jahat?

“Shalat” dengan “pelaku shalat” bukan dua hal yang berbeda dan terpisah. Bila kita membedakannya, kita akan cenderung mengutak-atik salah-satunya dan menyalahkannya. Apakah kita harus mempersoalakan orang (si Jahat dan Si Alim) dalam shalat, atau mempersoalkan shalat yang dilakukan orang (si Jahat dan si Alim). Atau lebih dari itu, apakah kita harus membicarakan kealiman dan kejahatan dan bukannya membicarakan tentang shalat dan atau orang yang shalat?

Dan bila kita bertanya pada si Alim bagaimana ia shalat. Dan, kita membenarkannya. Kemudian kita mendengarkan bagaimana si jahat memaparkan shalatnya? Akankah kita menyalahkannya? Jangan-jangan yang kita nilai bukan shalatnya (apa yang dialaminya dalam shalat), akan tetapi kita telah secara “tidak sadar” bersikap apriori terhadap kejahatan dan atau kelaiman penuturnya. Sama halnya dengan bila kita mendengarkan orang mati yang menceritakan poengalaman matinya. Kita bukan takut dengan peristiwa kematian yang dialami oleh orang itu, akan tetapi kita takut oleh orang mati yang bisa berkata-kata.
Bila kita terus termangu dan terkesima oleh cerita si Alim, kita akan menjadi si Kabayan yang melihat langit pada permukaan air kolam. Dan, bila kita nyinyir dengan cerita si Jahat, kita tidak akan pernah memiliki cermin yang utuh; Karena, kita akan senantiasa harus membeli cermin baru untuk kembali kita pecahkan. Yang harus kita lakukan adalah menjadi si Jahat atau si Alim itu sendiri. Yang mengalami. Betapa pun rapatnya jarak antar makam, tidak pernah ada perselisihan diantara penghuninya.

AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI,
pengajar filsafat, mistisme dan kebudayaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Bagi yang ingin melihat karya-karyanya klik http://www.sireum-hideung.blogspot.com, dan http://www.ahmadgibson.multiply.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: