Relasi antara Irfan Teoritis dan Irfan Praktis

Desember 6, 2007 pukul 6:18 am | Ditulis dalam khazanah | 2 Komentar
Tag: , , ,

Oleh MUCHTAR LUTHFI

MUNCULNYA irfan dan tasawuf (mistisisme) dalam budaya Islam memiliki sejarah yang cukup panjang. Kendati istilah irfan dan tasawuf baru muncul pada akhir abad kedua Hijriah, namun semua ajaran yang ada pada irfan dan tasawuf telah termuat dalam ajaran Islam. Dan jika ditelaah tentang sejarah kemunculannya, irfan dan tasawuf pada awalnya lebih bertumpu pada sisi praktis, yaitu berupa penyucian jiwa serta penekanan atas cara hidup sederhana (zuhud) dalam kehidupan duniawi, dengan lebih mengutamakan amal ibadah untuk mendapat keridhoan Allah swt. Pada zaman Rasul, para sahabat yang hidup di pelataran masjid (sofwah) yang dikenal dengan sebutan ahli Sofwah adalah pribadi-pribadi yang menjadi inspirator kemunculan pemikiran irfan dan tasawuf di tubuh Islam. Tentu, tidak semua ahli zuhud berakhir pada pemikiran irfan/tasawuf, namun mereka (ahli Sofwah) itulah yang dijadikan pelopor bagi pribadi-pribadi yang kemudian mengatasnamakan dirinya sebagai ahli tasawuf dan irfan dalam tubuh Islam.

Pada abad ketiga hijriyah, irfan dan tasawuf mulai memiliki dan menampakkan wajah barunya. Pada masa kekuasaan ‘khalifah’ Harun ar-Rasyid dari dinasti Abbasiyah, proses penerjemahan manuskrip-manuskrip asing oleh para ilmuwan muslim mulai gencar dilakukan, terkhusus buku-buku dari bahasa Yunani. Dari situ, berbagai diskusi dan perdebatan berkaitan dengan ilmu-ilmu yang sedang berkembang banyak dilakukan oleh kaum muslimin, tidak terkecuali pemikiran tentang mistisisme. Atas dasar itulah pada abad ketiga hijriyah, para ahli tasawuf muslim memulai menulis karya pemikiran tasawufnya hingga muncullah buku-buku semisal “Kasyful Mahjub” atau “ar-Risalah al-Qusyairiyah” dimana salah satu pokok pembahasan adalah berkisar tentang definisi dan penjabaran ajaran tasawuf Islam. Di sisi lain, serangan para ulama zahir pada ahli tasawuf dan irfan menyebabkan para sufi dan ‘arif (baca: ahli irfan) mulai berusaha untuk membela semua ajaran dan keyakinannya melalui argumentasi yang biasa dipakai oleh para ulama zahir, baik dari ulama ahli fikih, teologi maupun filsafat. Ringkas kata, pada abad itu, secara bertahap irfan dan tasawuf telah tersusun dalam bentuk karya ilmiah dan mulai terbagi menjadi irfan teoritis (irfan nadzari) dan irfan praktis (irfan ‘amali), meski penamaan itu sendiri masih belum secara jelas dimunculkan ke permukaan.

Perlahan, irfan dan tasawuf menjadi salah satu literatur penting dalam pemikiran manusia. Irfan dan tasawuf Islam yang diperkuat dengan argumen-argumen teks agama (al-Quran dan al-Hadis) bukan hanya memiliki peran penting dalam menentukan budaya dan etika masyarakat muslim dalam irfan praktis, namun juga berperan penting dalam peningkatan taraf pengetahuan mereka melalui irfan teoritisnya.

Sebagaimana telah kita ketahui, dalam rangka menuju perjumpaan dengan kekasih sejatinya, seorang pesuluk harus melalui berbagai tahapan (marahil) dan tingkatan (maqamaat) dalam menempuh pengembaraan sufistiknya (sayr wa suluk) hingga sampai pada tingkatan tertinggi berupa penyingkapan (kasyf) dan pengelihatan batin (syuhud). Tentu, untuk meniti pos-pos perjalanan suluk tadi yang harus ditempuhnya untuk sampai pada tujuan akhir tidaklah semudah yang dibayangkan. Itu semua diperlukan berbagai sarana dan pra-sarana penunjang.

Terkadang, dalam meniti jalan yang ditempuh, seorang pesuluk terkadang melihat hal-hal yang baru dirasakannya melalui penyingkapan (kasyf) dan penglihatan batin (syuhud) walau dalam bentuk yang masih tergolong sederhana, namun terkadang hal itu menyebabkannya mengalami keraguan (syak) dan kegoncangan jiwa (tazalzul). Pada kondisi semacam itulah seorang pesuluk memerlukan tolok ukur yang jelas dalam menverifikasi apa yang telah diindera oleh penglihatan batinnya tersebut, sehingga ia tidak terjerumus dalam keraguan yang menyesatkan perjalanannya. Tolok ukur penglihatan batinnya tadi, selain berupa teks yang dijamin kebenarannya berupa ayat al-Quran dan hadis Rasul yang sahih, juga dapat berbentuk argumentasi akal yang sesuai dengan proposisi-proposisi swabukti rasional (badihiyaat aqliyah) yang telah ditetapkan dalam ilmu yang terkait. Di sisi lain, terkadang seorang pesuluk yang telah melihat ‘hakekat’ melalui penginderaan mata batinnya, ia ingin menyampaikan dan menjelaskan perihal apa yang telah ia ‘lihat’ kepada orang lain yang belum pernah merasakan apa yang dilihatnya. Maka, untuk itu, ia memerlukan metode umum yang didukung dengan berbagai argumentasi rasional sehingga orang yang diajak berbicara tadi pun dapat menerima apa yang telah dilihatnya.

Jadi, seorang pesuluk yang ahli irfan (‘arif) memerlukan argumentasi rasional pada dua keadaan: Pertama; Dalam rangka menghilangkan keraguan dan kegoncangan jiwa pada dirinya sebagai reaksi dari apa yang dia ‘lihat’ untuk kali pertama pada tiap tingkatan yang ada, terkhusus bagi pemula yang baru meniti perjalanan sayr wa suluk. Kedua; Menjelaskan apa yang telah ia ‘dapati’ dan ia ‘lihat’ melalui penglihatan batin (syuhud) kepada orang lain yang belum pernah merasakannya.

Atas dasar inilah akhirnya para urafa’ membagi irfan menjadi dua bagian: teoritis dan praktis. Pada tulisan ringkas ini akan disinggung secara global berkaitan dengan dua hal tadi.

SISI TEORITIS ISLAM

Sisi ilmiah dan teoritis irfan, umumnya teringkas dalam karya-karya yang berkaitan dengan irfan teoritis (irfan nazari) yang berfungsi sebagai penafsiran rasional atas berbagai hukum berkaitan dengan aturan, bentuk pengejawantahan (tajalli) dan tingkatan wujud yang diambil berasaskan hasil ‘penglihatan dan penginderaan batin’ (mukasyafah wa musyahadah). Akan tetapi, ada satu hal yang harus digarisbawahi bahwa, pada ungkapan tadi bukan berarti meniscayakan bahwa penginderaan mata batin itu selalu mengikuti kaidah-kaidah akal. Namun, semua kaidah dan dasar-dasar argumentasi rasional harus sesuai dengan asas-asas umum mukasyafah dan kaidah syuhud. Dari sini maka irfan teoritis dapat diartikan sebagai, ilmu yang membahas tentang hakekat dan pengetahuan yang dihasilkan oleh penjabaran seorang arif (pesuluk) atas segala yang dilihatnya, seperti pengetahuan tentang Allah swt, penampakan (madzhar) Ilahi, nama-nama dan sifat-sifat ‘al-Haq’ yang berkaitan langsung dengan keragaman (katsrah), dan sebagainya.

Ibnu Fanari dalam kitab Mishbah al-Uns, setelah menjelaskan beberapa bagian ilmu pengetahuan, lantas ia mengategorikannya kepada dua golongan utama; ilmu zahir dan ilmu batin. Ia mengatakan:

“Ilmu-ilmu zahir yang berkaitan dengan akidah (keyakinan) biasa dibahas dalam ilmu kalam (teologi) dan ilmu Ilahi (hikmah/filsafat). Jika berkaitan dengan prilaku manusia yang dilihat dari sisi persesuaiannya dengan kaidah-kaidah penggalian dasar hukum (istinbath) yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunah, ijma’ atau qiyas, maka hal itu bisa didapat melalui ilmu ushul fikih, mazhab (fikih) dan (buku) fatwa… Adapun ilmu-ilmu batin akan terealisasi setelah proses pengokohan hukum-hukum zahir yang sesuai dengan jalan yang ditempuh oleh salaf saleh. Hal itu karena mayoritas hakekat keilmuannya merupakan hasil anugerah (wahbiyah) yang didapat melalui proses kesempurnaan, bukan dari usaha pribadi (kasbiyah). Jika yang berkaitan dengan pembenahan batin (manusia) melalui setiap sepak terjang hati dengan cara mengosongkan dari berbagai hal-hal yang dapat membinasakan, dan menghiasinya dengan hal-hal yang dapat menyelamatkan, maka hal itu dapat ditemui dalam ilmu tasawuf dan suluk. Jika berkaitan dengan tata cara hubungan antara ‘al-Haq’ (Allah) dengan ‘al-Khalq’ (makhluk), dan sisi penyebaran keragaman (katsrah) dari ketunggalan (wahdah) dengan tetap menjaga sisi perbedaan keduanya, dan senantiasa memperhatikan sisi penambahan dan tingkatan-tingkatannya. Semua itu dapat ditemukan dalam ilmu hakekat dan mukasyafah atau musyahadah. Syeikh akbar (Ibnu Arabi) menamainya dengan ilmu tentang Allah (ilmu billah), sebagaimana orang-orang sebelumnya menamai ilmu tersebut dengan sebutan ilmu tentang tingkatan-tingkatan akhir (ilmu bi manazil akhirah)”

Dari penjelasan di atas dapat diambil pelajaran bahwa, walaupun irfan praktis berkaitan langsung dengan kasf dan syuhud, akan tetapi untuk penjelasannya diperlukan metode rasional. Oleh karena itu, dapat diperhatikan bagaimana karya-karya yang berhubungan dengan irfan teoritis –terkhusus pasca kemunculan Ibnu Arabi- menggunakan metode rasional dan filosofis. Dari sini pun dapat diambil pelajaran bahwa tidak ada pertentangan antara irfan dan filsafat, bahkan saling menguatkan. Hubungan ilmu filsafat dengan irfan bagaikan hubungan antara ilmu logika (mantiq) dengan filsafat yang berfungsi sebagai alat, sarana dan mukadimah dari ilmu yang ada.

Khajawi dalam mukadimahnya atas kitab Mafatihul Ghaib karya Mulla Shadra, ia mengatakan:

“Irfan tidak bertentangan dengan filsafat. Hanya saja, keduanya berbeda dari sisi asas dan konsentrasi dasarnya, juga dari sisi tata cara penetapan argumentasinya. Atas dasar itulah, maka para urafa pun dapat mengambil manfaat dari asas-asas rasional dalam menyusun, menafsirkan dan mengeluarkan (dasar pemikirannya) sekaligus tetap menjaga asas-asas dan jalan yang ditempuhnya (sebagai ahli irfan). Sebagaimana para pakar filsafat pun dapat mengambil manfaat dari irfan dalam konsentrasi dan penjelasannya yang begitu kuat, dan melalui cahaya irfan dapat diambil kesimpulan, berbagai permasalahan dan penafsiran baru yang tidak mungkin didapat dengan hanya mengandalkan pemikiran filsafat murni”.

SISI PRAKTIS IRFAN

Irfan praktis berkaitan langsung dengan sayr wa suluk. Irfan jenis ini bertugas untuk menafsirkan tata cara suluk, menjelaskan berbagai masalah yang berkaitan dengan praktek irfan sampai kepada tujuan akhir suluk, dan menjelaskan cara menghilangkan kesan-kesan negatif alam materi sehingga dapat bertemu dengan ‘Sang Kekasih sejati’. Atas dasar itulah sering didapat, para urafa hanya membahas dan mengkonsentrasikan diri pada pembahasan tentang hati, jiwa dan prilaku batin. Mereka meyakini, hanya melalui pelaksanaan perintah-perintah syariat, semua itu bakal terealisasi dengan baik. Karena menurut mereka, tujuan asli perintah dan hukum syariat adalah pembenahan sisi batin manusia.

Dikarenakan para urafa sangat memperhatikan terhadap prilaku batin, maka mereka sangatlah menekankan akan kebersihan batin manusia dari berbagai bentuk penyekutuan (syirik) terhadap Allah swt, dan memenuhinya dengan berbagai macam keimanan. Mereka meyakini, semua jenis kekotoran jiwa akibat perbuatan dosa -sekecil apapun dosa tersebut- merupakan akibat dari bentuk ketaatan dan penghambaan terhadap selain Allah swt. Keyakinan semacam ini disandarkan atas ayat al-Quran yang berbunyi:
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah” (QS Yusuf: 106)

Atas dasar itu pula, para urafa mengartikan sayr wa suluk sebagai tingkatan prilaku batin manusia, walaupun juga tetap masih melibatkan sisi zahir manusia, walaupun secara sangat terbatas. Perjalanan ruhani yang teringkas dalam ajaran sayr wa suluk irfan praktis inilah yang mampu menghantarkan manusia pada pengenalan terhadap Allah swt yang terangkum dalam ajaran irfan teoritis.

Al-Qaishari dalam mukadimah at-Taiyyah karya Ibnu Faridh menjelaskan secara gamblang tentang irfan teoritis dan praktis. Dan ia menambahkan bahwa kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Ia mengatakan:

“Batasannya adalah pengetahuan tentang Allah swt dari sisi berbagai nama (asma’), sifat-sifat (sifaat), penampakan (madzhar), kondisi mabda’ dan ma’ad, hakekat alam, tata cara kembalinya alam (yang beragam) menuju satu hakekat yaitu Dzat Ahadiyat (Esensi Tunggal), mengenal tata cara suluk dan usaha keras (mujahadah) guna menyelamatkan jiwa dari himpitan batasan-batasan yang bersifat parsial untuk menghubungkan diri kepada Mabda’ (asal-muasalnya) dan mensifatinya dengan sifat absolut dan universal sebagaimana berfungsi untuk mengenali kegunaannya”.

Tentu, yang dimaksud dengan “himpitan batasan yang bersifat parsial” di atas tadi adalah himpitan duniawi, gejolak syahwati dan ajakan nafsu amarah, yang semua itu dituturkan dengan sifat dari fenomena alam materi yang bersifat terbatas dan sempit.

HUBUNGAN IRFAN TEORITIS DAN IRFAN PRAKTIS

Mungkin salah satu pertanyaan yang dapat dilontarkan pada permasalahan ini adalah; bagaimanakah hubungan antara irfan teoritis dan irfan praktis? Para urafa dalam menjawab pertanyaan ini melihat dari dua sisi sekaligus; Pertama: melihat kesan yang diberikan irfan praktis pada irfan teoritis. Kedua: kesan yang diberikan irfan teoritis pada irfan praktis. Dalam tulisan ini akan disinggung secara singkat dua sudut pandang tersebut.

I. Pengaruh Irfan Praktis pada Irfan Teoritis

Sebagaimana yang telah disinggung, irfan praktis membahas tentang proses sayr wa suluk. Hanya dengan sayr wa suluk itulah manusia dapat mencapai tahapan syuhud, mukasyafah dan fana’. Bagi seorang pesuluk yang telah sampai pada tahapan syuhud, semua obyek yang telah ia ‘lihat’ dalam syuhud-nya tadi disebut dan diistilahkan sebagai irfan teoritis (irfan nazari). Jadi irfan teoritis adalah obyek hakekat yang dilihat oleh seorang pesuluk selama meniti satu persatu pos-pos sayr wa suluk yang telah ia lalui. Akan tetapi, sewaktu pesuluk yang arif tadi menjelaskannya dengan bentuk tulisan, maka hal itu disebut dan diistilahkan dengan “ilmu irfan teoritis”, sebagaimana yang dapat dibaca pada-pada karya irfan teoritis yang ada. Dari sini dapat dikatakan bahwa, semua permasalahan irfan teoritis adalah hasil dari syuhud seorang pesuluk yang telah sampai pada tahapan tertentu, di mana syuhud yang ia dapati itu adalah hasil dari perjalanan panjang dalam menempuh beberapa tingkatan (manazil) dan kedudukan (maqamaat) sayr wa suluk yang telah dijelaskan dalam irfan praktis.

Permasalahan ‘cinta’ (isyq) dan usaha keras penyucian batin (riyadhah) berkaitan khusus dengan irfan praktis. Para urafa meyakini bahwa setiap manusia memiliki cinta dan gaya tarik (jadzb). Namun dikarenakan adanya kotoran yang bersemayam pada jiwa dan hati manusia, akhirnya, untuk memunculkan kembali rasa cinta dan mengaktifkan lagi gaya tarik tersebut seorang manusia harus berusaha membersihkan segala kotoran yang ada dengan melalui proses usaha keras penyucian batin (riyadhah). Perlu dicatat, para urafa’ meyakini bahwa, tidak semua arif memerlukan proses riyadhah yang berkepanjangan. Sebagian arif dikarenakan memiliki kualitas, kuantitas dan potensi kebersihan jiwa yang lebih, maka semenjak awal ia telah memiliki gaya tarik (jadzbah) sehingga ia tidak memerlukan riyadhah yang teramat susah. Namun, kebanyakan dari urafa tidaklah semacam itu. Atas dasar itulah para urafa membagi pesuluk menjadi dua bagian; salik majdzub dan majdzub salik.

Sebagaimana yang telah disinggung, asas utama irfan praktis adalah riyadhah, isyq, syuhud dan fana’. Namun para urafa menambahkan satu asas lagi yang termasuk pembahasan penting dalam irfan praktis, kesinambungan dalam fana’ (baqa’ ba’dal fana’). Pada tingkatan ini, seorang pesuluk yang arif selalu melaksanakan semua hak dan kewajibannya dalam setiap tingkatan yang telah ia lalui. Hal itu dikarenakan ia meyakini bahwa semua ayat al-Quran mengisyaratkan pada asas yang terakhir tersebut, kesinambungan dalam fana’. Sedang di sisi lain, ia juga meyakini bahwa pengamalan ayat-ayat al-Quran merupakan suatu keharusan. Atas dasar itulah akhirnya mereka (urafa) berkeyakinan bahwa antara al-Quran dan irfan tidak akan mungkin terdapat jarak.

Sebagaimana yang telah disinggung, seorang pesuluk setelah melalui berbagai tahapan sayr wa suluk, ia akan sampai pada derajat irfan teoritis, obyek hasil penglihatan mata batinnya (masyhud). Setelah itu, ia akan berusaha untuk menjaga kesinambungan fana’ yang telah ia dapati tadi. Sewaktu tahapan itu ia jaga, maka ia akan selalu ‘melihat Tuhan’. Dimanapun dan kapanpun, ia akan melihat kekasihnya. Ia meyakini, bahwa semua yang di alam semesta ini adalah penjelmaan (madzhar) dan tanda (ayat) dari wujud kekasih sejati, Pencipta alam semesta. Sehingga sewaktu ia melihat gunung misalnya, maka yang dilihat oleh pesuluk yang ‘mabuk’ cinta Ilahi bukanlah zahir gunung tersebut, namun ia melihat kekasih sejatinya di mana eksistensi gunung bertumpu dan bergantung penuh kepada-Nya. Itu semua akibat dari kekuatan rasa isyq yang telah terpatri dalam tubuh pesuluk tadi.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah” (Q S al-Baqarah: 115)

Imam Ali as pernah bersabda:
“Aku tidak melihat sesuatu kecuali aku melihat-Nya, disaat itu, sebelumnya dan sesudahnya” dan “Segala sesuatu bertumpu kepada-Nya” (Nahjul Balaghah, khutbah ke-109)

Pesuluk sejati dan sang pecinta Ilahi akan selalu mengenang kekasih sejatinya. Ia akan selalu mengingat, melihat dan selalu ada dan hadir di sisi-Nya, begitu sebaliknya. Terlampau banyak ayat-ayat suci al-Quran yang menjadi landasan apa yang dirasakan oleh para pesuluk atas Kekasihnya, juga kedekatan kepada kekasihnya yang ia rasakan, sebagai contoh:

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin” (QS al-Hadid: 3)
“Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu” (QS Fusshilat: 54)
“Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (QS Qaf: 16)
“Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” (QS Fusshilat: 53)

Tentu, bagi seorang pesuluk, ahli irfan dan pecinta Ilahi sejati, ia tidak akan mengharap sesuatu apapun kecuali pertemuan dengan kekasihnya. Ibnu Sina dalam salah satu karyanya yang berjudul “Isyaraat wa Tambihaat” menyatakan bahwa: “Seorang arif hanya menginginkan al-Haq saja, tidak ada sesuatu yang lain”. Balasan duniawi maupun ukhrawi bukanlah tujuan seorang arif sejati. Oleh karenanya, dalam kitab yang sama, Ibnu Sina menyatakan: “Barangsiapa yang menjadikan irfan diperuntukkan untuk irfan (itu sendiri), maka ia tergolong orang yang mendua (penyekutu)”. Jadi, perbedaan antara ahli irfan sejati dengan ahli irfan gadungan dapat diibaratkan seperti orang yang menggali sumur untuk mencari air. Orang yang benar-benar membutuhkan air, ia akan menggali dan terus menggali hingga mendapatkan air, walaupun sewaktu ditengah menggali sumur ia telah menemukan harta karun yang sangat berharga. Hal itu karena tujuan ia menggali bukan untuk mendapat harta karun, melainkan kerinduannya akan air. Berbeda dengan orang yang tidak benar-benar merindukan air. Sewaktu ia menemukan harta karun ditengah penggaliannya, niscaya ia akan menghentikan penggalian dan menikmati harta hasil temuannya tadi. Seorang arif sejati, ia akan terus melakukan riyadhah untuk bertemu dengan kekasih sejatinya, walau ditengah jalan ia mendapat banyak kemampuan supranatural (karamah). Ia tidak akan menghentikan riyadhah tersebut sebelum mendapatkan yang ia inginkan, pertemuan dengan kekasihnya. Berbeda halnya dengan arif gadungan, di mana pertemuan dengan Tuhan tidak lebih hanyalah kedok belaka, ia akan menghentikan riyadhah-nya sewaktu telah mendapat kemampuan supranatural tadi. Dan tentu, kualitas maupun pengistilahan kemampuan supranatural yang dimiliki oleh kedua macam ahli irfan tadi pun memiliki perbedaan. Dalam istilah dibedakan antara istilah karamah dan istidraj.

Bagi sebagian kekasih Ilahi (waliyullah), setelah ia sendiri sampai pada derajat sempurna (kamil) maka ia akan menggandeng orang lain untuk menuntunnya menuju kesempurnaan. Waliyullah semacam ini, ia bukan hanya sebagai manusia sempurna (kamil), namun ia juga sebagai ‘penyempurna’ pribadi lain (mukammil). Segenap para nabi, rasul dan imam-imam suci Ahlul Bait as adalah contoh konkrit dari manusia kamil wa mukammil tersebut.

II. Pengaruh Irfan Teoritis pada Irfan Praktis

Sebagaimana yang telah disinggung, sebagian urafa mengambil dasar-dasar argumentasi rasional dalam menetapkan irfan teoritisnya. Pembahasan irfan teoritis mencapai masa kejayaannya pada abad ketujuh Hijriyah melalui pribadi bernama Ibnu Arabi. Kendati permasalahan pokok irfan teoritis sudah dirintis oleh para pendahulunya. Namun, ia adalah sosok yang berhasil menetapkan berbagai masalah irfan teoritis ke dalam bahasa akal (argumentasi rasional). Oleh karenanya, ia tergolong pembaharu dalam pemikiran irfan teoritis. Maka dari itu, ia disebut sebagai bapak irfan teoritis.

Dalam kaitan pemberian kesan irfan teoritis terhadap irfan praktis, ada dua hal yang perlu dibahas secara lebih lanjut:

Pertama: Berkaitan dengan penyingkapan pengetahuan (kasyful makrifah) yang diperoleh seorang pesuluk dalam menempuh setiap peringkat sayr wa suluk yang telah ia lalui. Sewaktu seorang pesuluk telah mencapai derajat fana’, maka ia kembali memperhatikan secara teliti pos-pos yang telah ia lalui pada irfan praktis untuk menyingkap rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik prilaku yang sesuai dengan kaidah praktis suluk (dastur al-amal) yang telah ia kerjakan. Dari situ, akhirnya ia dapat menjawab teka-teki dibalik rahasia setiap perbuatan dan menyingkap hasil nyata pada setiap perbuatan yang dikerjakannya pada setiap peringkat sayr wa suluk tersebut. Semua perbuatan ini dilakukan demi untuk mendapat kesadaran (bashirah) penuh dalam pelaksanaan irfan. Dengan itu, ia akan mampu mengajak pribadi lain untuk turut menelusuri jalan yang pernah ia tempuh.

Kedua: Guna memperjelas tujuan akhir seorang pesuluk dalam perjalanan spiritualnya. Tugas utama irfan teoritis adalah untuk mendapatkan kesadaran penuh dalam menentukan tujuan akhir sayr wa suluk.

Tentu saja, bukan sembarang pesuluk yang dapat melakukan dua hal tadi, akan tetapi hanya pribadi-pribadi yang telah sampai pada derajat “sempurna dan penyempurna” (kamil wa mukammil) saja yang memiliki otoritas untuk melakukannya. Qaunawi dalam kitab “Miftah Ghaibul Jam’i wal Wujud” -yang disyarahi oleh Ibnu Fanari- menyatakan:

“Ketahuilah bahwa karya (kitab) ini tidak diperuntukkan bagi setiap masyarakat secara umum. Bahkan tidak juga untuk kaum khusus (khawash). Akan tetapi, kitab ini diperuntukkan untuk orang yang sangat khusus (khulashatul khashah) dimana pribadi-pribadi tersebut akan dapat memanfaatkan karya ini dalam perjalanan suluk-nya, sebelum ia sampai pada tujuan akhir. Mereka akan diingatkan dengan (beberapa) poin sebagai rahasia awal (perjalanan) mereka. Sehingga mereka dapat menjadi sempurna, menyempurnakan, mensyukuri, mencari tambahan dan menjadi bertambah”.

Penjelasan di atas tadi memberikan gambaran kepada kita, bahwa pada tahapan ini, betapa eksklusifnya ilmu irfan itu, sehingga tidak sembarang orang bisa menjadi sasaran pengajarannya. Lantas, bagaimana mungkin irfan diobral oleh orang-orang yang belum memulai sayr wa suluk sedikitpun. Padahal, antara irfan teoritis dan irfan praktis tidak akan pernah dipisahkan. Hanya kepincangan yang akan terjadi jika antara keduanya dipisahkan. Tentu, kekasih sejati Ilahi tidak akan pernah meridhai akan segala bentuk kepincangan dalam ber-irfan.

Ini semua secuil penjelasan tentang irfan teoritis dan irfan praktis. Walaupun keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda, namun terdapat kaitan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya sehingga tidak mungkin untuk memisahkan antara keduanya.

ILMU IRFAN TEORITIS DAN HAKEKAT IRFAN TEORITIS

Terkadang beberapa individu terjerumus dalam kesalahan memahami dan membedakan antara ilmu irfan teoritis dan hakekat irfan teoritis. Untuk itu, di sini akan dijelaskan secara ringkas agar kita tidak terjerumus dalam pencampuradukan dua istilah tadi.

Hakekat irfan teoritis adalah sesuatu yang terindera pada diri seorang arif (laday ‘arif) melalui proses mukasyafah-nya. Adapun ilmu irfan teoritis adalah pengetahuan yang berkaitan dengan penafsiran atas hakekat dan obyek-obyek pengetahuan tauhid yang dihasilkan melalui cara syuhud dan mukasyafah seorang arif. Dengan pendefinisian ilmu irfan teoritis tersebut, maka ada beberapa poin yang dapat diambil:

Pertama: Kandungan ilmu irfan teoritis adalah berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan tauhid.

Kedua: Metode untuk mendapat berbagai pengetahuan irfan teoritis adalah melaui mukasyafah dan syuhud. Dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan muksyafah dan syuhud kecuali dengan riyadhah. Riyadhah tidak lain adalah mengamalkan semaksimal mungkin batasan-batasan syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw sebagai penghulu para nabi dan rasul secara baik dan benar, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Ketiga: Bentuk penafsiran atas hakekat dan pengetahuan tauhid tadi terangkum dalam ilmu irfan teoritis yang juga memiliki peran penting dalam perjalanan ruhani seorang hamba.

Ada satu poin penting yang berkaitan dengan proses penafsiran hakekat dan pengetahuan tauhid tadi yang harus disinggung disini. Dalam proses penafsiran dan penjabaran, di samping karena semakin tingginya derajat keilmuan seorang arif bisa sangat mempengaruhi kesempurnaan proses tersebut, begitu halnya jika radius penguasaan bahasa seorang arif kian luas, niscaya sangat berpengaruh pada proses tersebut, sehingga penjelasannya pun akan semakin teliti dan gamblang. Oleh karena itu, sebagian ilmuwan berpendapat bahwa, semakin tinggi derajat kelimuan seorang arif terhadap filsafat, maka penjelasan dan penafsiran sang arif tersebut pun semakin kaya dan teliti. Dari sini, jangan heran jika sebagian arif dalam menjelaskan apa yang telah dia ‘lihat’ menggunakan bahasa-bahasa syair yang lebih bersifat puitis. Hal itu karena kesulitan mereka ketika mengubah ‘bahasa rasa’ menjadi ‘bahasa lisan’.

Terkadang, ‘argumentasi zahir’ yang sering dipakai oleh kaum ulama zahir -dari para teolog dan filosof- lebih didahulukan dari pada ‘argumentasi batin’. Hal itu dikarenakan, cara zahir yang lebih bersifat argumentatif dapat memberikan kesadaran terhadap ‘al-Haq’ untuk seorang pesuluk tahap pemula dalam menempuh perjalanan spiritualnya, walaupun dengan radius yang sangat terbatas. Jika argumentasi zahir dapat “memberikan kesadaran” bagi seorang pesuluk pada ‘al-Haq’, maka argumentasi batin mampu “menyampaikan” pesuluk pada tujuan akhir sayr wa suluk-nya, musyahadah dan mukasyafah ‘al-Haq’. Dikarenakan hakekat ilmu irfan dan tasawuf adalah untuk menempuh jalan batin, dan dikarenakan tujuan utama pengutusan Rasulullah saw adalah “yuallimul kitaba wal hikmah” (mengajarkan kitab dan hikmah) yang mencakup pengajaran jalan dan metode yang sangat sulit dan teliti tersebut, maka jalan dan metode batin pun merupakan salah satu dari muatan ajaran beliau.

Karenanya, sudah menjadi kewajiban seorang pesuluk dalam perjalanan spiritualnya untuk membawa segala bekal yang bakal ia butuhkan selama menempuh perjalanan tersebut. Salah satu kebutuhan primer yang pasti akan ia butuhkan adalah berkaitan dengan pengetahuan tentang tujuan akhir perjalanannya. Oleh karena itu, seorang arif atau seorang sufi hendaknya sebelum memasuki pintu gerbang irfan, ia harus terlebih dahulu menuntaskan topik yang digeluti oleh ahli zahir dalam masalah kesadaran terhadap Tuhan. Setelah itu baru ia dapat memasuki gerbang irfan. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang musafir tidak memiliki kesadaran untuk ‘mengetahui’ –sebagaimana yang dilakukan ulama zahir- tentang tujuan perjalanan yang akan ia tempuh? Apakah mungkin ia dapat mencapai tujuan akhir dan ‘melihat’-Nya –yang dilakukan urafa’- sedang obyek tersebut masih belum ia kenal? Tentu jawaban negatif akan diberikan pada pertanyaan tersebut, baik yang berkaitan dengan perjalanan duniawi (alam materi) maupun perjalan spiritual (alam maknawi). Oleh karenanya, bagi seorang musafir, minimal ia harus mengetahui –secara global- tujuan akhir yang akan ia tuju. Oleh karena itu, sayid Jalaluddin Asytiyani dalam kitab “Syarh Mukaddimah Qaisyari” menyatakan:

“Seorang arif dan sufi terlebih dahulu harus menjadi seorang filosof illuminis (hakim isyraqi) ataupun seorang teolog (mutakallim). Tanpa penyempurnaan metode argumentasinya, manusia tidak akan sampai pada tujuan yang ia kehendaki. Tidak ada sedikitpun perbedaan antara filosof isyraqi, sufi dan arif…pribadi-pribadi yang metode argumentasinya tidak sempurna dan tidak tahu (bodoh) akan tolok ukur serta jalan menuju al-Haq, sedang ia mengatasnamakan dirinya sebagai seorang arif dan sufi, niscaya ia bakal menjadi pemburu masyarakat polos dan awam untuk ditipunya. Sedang ia sendiri tidak mampu untuk menjawab permasalahan secara argumentatif, bahkan dengan cara yang paling sederhana sekalipun”.

PENULIS adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Perbandingan Agama dan Mazhab pada Universitas Imam Khumaini ra, Qom, Iran

Daftar Pustaka
1- Amuli, Ayatullah Abdullah Jawadi, Hayat-e Arefaneh imam Ali as.
2- Amuli, Ayatullah Hasan Zadeh, Quran, Burhan wa Irfan.
3- Asytiyani, Ayatullah sayid Jalaluddin, Syarh Mukaddimah Qaishari.
4- Ibnu Fanari, Mishbah al-Uns.
5- Syirazi, Shadruddin bin Muhammad (Mulla Shadra), Mafatih al-Ghaib ma’a ta’ilqaat Maula Ali an-Nuri, wa tashhih wa taqdim Muhammad Khajawi. dsb

2 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. Terima kasih kepada hamba Si Khaliq yakni Ustadz al-Ghazali kerna jasa beliau
    yang merjenihkan keraguan berkurun dengan peka ilmiah dan batin kasyafnya mengenai intipati hukum fiqh dan tasawuf yang diselarikan maka ternyatalah yang haq & bathil balik pada makamnya.Terselah kasyafnya al-Ghazali bila mula memahami tasawuf kerana beliau pandang pada kitab muktabar Al Junaid dan mengendahkan Al Hallaj.

  2. Asalam.hamba sokong teori irfan yang universal kemudian dibuat penyisihan haq dan bathil daripada penolakan fakta tanpa kajian berterusan kerana angkuh dan bersangka bijaksana.
    Sudah jelaslah mereka yang tidak suka pada ahli suffah,kumpulan suffah dan ajaran tasawuf itu sama sekali.

    Pernah hamba jumpa orang yang benci tasawuf serta si arif dengan menyatakan wahdatul wujud itu sesat.Apa mereka selama ini hanya banyak mengkaji ilmiah dari kitab-kitab tapi masih samar lalu berjuma si Alim yang bersangka arif padahal belum capai ilmiah ruhani dituju.Bukankah wahdatul wujud itu menampakan mereka dan pulang dalam wahdatul syuhud menampakan yang batin(Hakekat yang dicipta dengan Pencipta).Tidaklah ahli suffah itu hairan dengan mereka sejak sekian lama yang penting sampai mereka kepada Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: